Pena Catra

Dari Pantang Menuju Kepedulian, Makna Paskah dalam Solidaritas

catrawarta.com — Empat puluh hari bukanlah sekadar hitungan kalender, melainkan sebuah perjalanan batin yang panjang. Selama masa Prapaskah, umat Katolik melatih diri...

Ilustrasi Dari Pantang Menuju Kepedulian, Makna Paskah dalam Solidaritas. Sumber: catrawarta

catrawarta.comEmpat puluh hari bukanlah sekadar hitungan kalender, melainkan sebuah perjalanan batin yang panjang. Selama masa Prapaskah, umat Katolik melatih diri melalui pantang dan puasa—sebuah laku mati raga untuk menaklukkan keinginan diri. 

Namun, esensi dari rasa lapar saat berpuasa dan kerinduan saat berpantang bukanlah untuk penyiksaan diri, melainkan untuk mengasah kepekaan hati terhadap mereka yang setiap harinya hidup dalam kekurangan.

Memasuki Tri Hari Suci, kita diajak menyelami kembali peristiwa Kamis Putih. Di sana, Yesus tidak hanya mengadakan Perjamuan Terakhir, tetapi juga membasuh kaki para murid-Nya. 

Tindakan ini adalah simbol solidaritas yang paling nyata: bahwa yang besar melayani yang kecil, dan yang berkelimpahan merangkul yang berkekurangan. Membasuh kaki berarti merendahkan hati untuk melihat penderitaan sesama dari dekat.

Puncak dari bela rasa itu terukir di kayu salib pada Jumat Agung. Dalam sengsara-Nya, Yesus menyatukan diri dengan seluruh penderitaan umat manusia. Setiap luka-Nya adalah pengingat bagi kita untuk tidak menutup mata terhadap mereka yang tersisih, tertindas, dan lapar. Pengorbanan-Nya mengajarkan bahwa kasih yang sejati selalu menuntut keberanian untuk berbagi beban.

Hingga akhirnya, fajar Paskah menyingsing. Kebangkitan Kristus adalah kemenangan kehidupan atas kematian, sekaligus panggilan bagi kita untuk menjadi “agen kebangkitan” bagi sesama.

Bukan Sekadar Ritual

Masa pantang dan puasa yang telah dijalani seharusnya membuahkan buah-buah kasih. Solidaritas tidak boleh berhenti pada ritual, melainkan harus terwujud dalam tindakan nyata membantu saudara-saudara kita yang berkekurangan.

Seperti disampaikan Uskup Keuskupan Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko dalam Surat Gembala Pra Paskah, ia menyampaikan umat diundang untuk melakukan perjalanan batin guna ngresiki ati atau membersihkan hati.

Prapaskah tahun ini bukan sekadar rutinitas puasa dan pantang secara lahiriah, melainkan sebuah komitmen untuk memilih jalan hidup yang setia pada kehendak Allah. Sebagaimana pesan dalam Kitab Sirakh dan Injil Matius, ketaatan sejati tidak hanya berhenti pada aturan, tetapi harus lahir dari ketulusan batin yang mampu menyingkirkan kemarahan serta menjaga kemurnian kejujuran.

Semangat pertobatan diwujudkan secara nyata melalui tema APP 2026 dan Ardas IX Keuskupan Agung Semarang, yaitu menghadirkan Gereja yang bahagia, menginspirasi, dan menyejahterakan. 

Bahagia karena kita merasa dicintai Allah, menginspirasi melalui keteladanan tindakan, dan menyejahterakan dengan mengangkat martabat sesama, terutama saudara-saudari kita yang kecil, lemah, miskin, tersingkir, dan difabel (KLMTD).

Di sinilah puasa, doa, dan derma menemukan maknanya yang paling dalam sebagai bentuk solidaritas. Puasa melatih kita hidup sederhana agar lebih peka terhadap mereka yang menderita akibat sakit, kesulitan ekonomi, maupun bencana. 

Doa melembutkan hati agar kita mampu melihat sesama dengan kacamata kasih Allah. Sementara itu, derma menjadi wujud iman yang nyata—sebab meski sedikit, pemberian yang tulus akan sangat berdaya guna bagi mereka yang membutuhkan. Melalui semangat gotong royong dan kepedulian konkret di tengah masyarakat, mari kita jadikan masa suci ini sebagai jembatan untuk menghadirkan wajah Gereja yang penuh kasih dan menjadi berkat bagi sesama.

Mari menjadikan momen Paskah ini sebagai titik balik untuk lebih peduli. Sebab, merayakan kebangkitan Kristus berarti berani membangkitkan harapan bagi mereka yang sedang berjuang dalam keterbatasan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *