catrawarta.com — Tan Malaka mungkin bukan nama yang akan muncul di obrolan tongkrongan atau For You Page TikTok. Ia tidak punya kutipan motivasi yang estetik, tidak punya wajah karismatik yang gampang dijadikan poster, apalagi kisah heroik yang rapi. Bahkan bagi sebagian generasi muda, namanya terdengar berat—terlalu politis, terlalu ideologis, terlalu “serius”. Dan justru di situlah masalahnya.
Di tengah budaya yang serba cepat dan ringkas, Tan Malaka terasa seperti anomali. Ia menulis buku tebal dengan kalimat berliku. Tan berdebat panjang soal logika, materialisme, dan metode berpikir. Tan menghabiskan hidup berpindah-pindah negara, bersembunyi, dipenjara, menyusun strategi politik yang rumit. Tidak ada yang instan dari dirinya.
Sementara generasi hari ini dibesarkan oleh notifikasi 15 detik, swipe, dan ringkasan tiga slide. Jarak itu terasa nyata. Namun anehnya, nama Tan Malaka justru pelan-pelan kembali beredar. Bukan lewat ruang kelas, melainkan lewat obrolan acak di media sosial, rekomendasi buku alternatif, atau diskusi kecil tentang sejarah yang tak diajarkan utuh.
Ia tidak populer, tapi dicari. Bukan dirayakan, tapi dibongkar. Barangkali karena banyak anak muda mulai merasa ada yang tidak beres dengan narasi besar yang selama ini dijual pada mereka.
Sekolah menjanjikan masa depan cerah. Kenyataannya: kerja kontrak.
Kuliah dijual sebagai tangga mobilitas. Kenyataannya: persaingan tanpa ujung.
Motivasi bilang “usaha tak mengkhianati hasil”. Kenyataannya yang kaya tetap kaya.
Ada retakan antara janji dan realitas. Di titik inilah Tan Malaka terasa menarik—bukan karena ia menawarkan solusi, tapi karena sejak awal ia memang curiga pada janji-janji manis kekuasaan.
Ia terbiasa berdiri di luar sistem. Mengkritik bahkan kawan sendiri. Menolak tunduk pada tokoh besar. Sikap keras kepala semacam ini terasa ganjil, tapi juga segar, di zaman ketika banyak orang terlalu cepat ikut arus tren atau opini mayoritas.
Tan Malaka tidak mengajari cara sukses. Ia justru mengajari cara meragukan. Dan mungkin itu yang diam-diam dibutuhkan generasi sekarang. Bukan lagi figur pahlawan untuk dipuja, melainkan suara yang menyuruh berpikir lebih pelan.
Di saat semuanya dituntut cepat—cepat lulus, cepat kerja, cepat kaya—membaca Tan Malaka seperti dipaksa berhenti. Kalimatnya padat, argumennya berlapis, pikirannya melelahkan. Ia menuntut kesabaran yang nyaris langka hari ini. Tapi justru karena melelahkan itulah ia terasa jujur.
Ia tidak menjual harapan instan. Bagi sebagian anak muda, pengalaman itu terasa asing sekaligus menyegarkan. Seolah ada alternatif dari cara hidup yang serba ringkas. Bahwa memahami dunia memang butuh waktu, bukan sekadar scroll. Maka Tan Malaka hari ini mungkin bukan simbol revolusi besar.
Ia lebih mirip gangguan kecil di kepala—pertanyaan yang tak selesai. Kenapa ketimpangan dianggap wajar? Kenapa rakyat selalu disuruh sabar? Kenapa kita diajari patuh, tapi jarang diajari curiga?
Pertanyaan-pertanyaan itu tidak viral. Tidak juga heroik. Tapi pelan-pelan mengganggu. Barangkali relevansi Tan Malaka memang bukan soal ideologinya, melainkan sikapnya: menolak menerima dunia begitu saja.
Di zaman ketika banyak hal diringkas jadi konten, keberanian untuk berpikir panjang terasa seperti bentuk perlawanan yang sederhana—dan langka. Tan Malaka mungkin tetap bukan idola generasi muda.
Tapi di antara kebisingan timeline, kehadirannya seperti jeda. Tidak populer, tidak praktis, tidak mudah dicerna—namun diam-diam perlu. Karena kadang, yang paling kita butuhkan bukan jawaban cepat, melainkan keberanian untuk mempertanyakan semuanya lebih lama.

Kunci Mesin Pertumbuhan Ekonomi: Hilirisasi, Ketahanan Pangan dan SDM 