Idea Catra

Isu “Teddy Gay”, Marwah Negara Runtuh Oleh Hal yang Terlalu ‘Saru’

catrawarta.com — Apa yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar perdebatan politik. Ini sudah masuk ke wilayah yang lebih dalam krisis marwah...

Kegelapan dan pembiaran adalah awal dari runtuhnya wibawa
Kegelapan dan pembiaran adalah awal dari runtuhnya wibawa.

catrawarta.comApa yang terjadi hari ini bukan lagi sekadar perdebatan politik. Ini sudah masuk ke wilayah yang lebih dalam krisis marwah negara. Isu yang menyeret nama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya bukan lagi beredar di ruang terbatas. Ia sudah menjadi konsumsi publik. Dibicarakan secara luas. Diulang terus-menerus. Dan yang paling berbahaya, dibiarkan tanpa arah yang jelas.

Di titik ini, negara tidak bisa lagi berlindung di balik diam. Karena diam bukan netral. Diam adalah pembiaran. Saya melihat langkah Amien Rais sebagai sesuatu yang tidak bisa sekadar ditertawakan atau diabaikan. Ia mungkin keras. Ia mungkin kontroversial. Tetapi ia melakukan sesuatu yang jarang dilakukan banyak pihak hari ini, berbicara ketika yang lain memilih aman.

Apa yang ia sampaikan bukan muncul dari ruang kosong. Itu adalah refleksi dari kegelisahan publik yang sudah lebih dulu ada. Hanya saja selama ini tidak ada yang berani mengangkatnya secara terbuka. Masalahnya bukan berhenti pada benar atau salahnya isu tersebut. Masalahnya adalah ketika pusat kekuasaan mulai menjadi sumber tanda tanya.

Ketika lingkar dalam pemerintahan tidak lagi steril dari spekulasi. Ketika hubungan dan dinamika di dalamnya menjadi bahan pembicaraan publik. Di situlah marwah negara mulai terkikis. Negara seharusnya berdiri di atas kejelasan, bukan ketidakpastian.

Namun yang terlihat hari ini justru sebaliknya. Tidak ada penegasan. Tidak ada upaya serius untuk menutup ruang spekulasi. Yang ada hanyalah keheningan yang membuat publik semakin curiga.

Dalam politik modern, persepsi bukan lagi sekadar bayangan. Ia adalah realitas kedua yang menentukan kepercayaan. Dan kepercayaan adalah fondasi utama kekuasaan. Ketika kepercayaan mulai retak, negara tidak langsung runtuh. Ia melemah perlahan. Diam-diam tapi pasti.

Di sinilah kritik seperti yang disuarakan Amien Rais menjadi penting. Bukan karena semua isinya harus dianggap benar. Tetapi karena ia memaksa negara untuk tidak terus bersembunyi di balik diam.

Negara tidak boleh takut pada isu. Negara juga tidak boleh tunduk pada rumor. Tetapi negara wajib mengendalikan arah. Karena jika pusat kekuasaan dibiarkan menjadi ruang spekulasi tanpa batas, maka yang hancur bukan hanya reputasi individu.Yang hancur adalah marwah negara itu sendiri.

Pada akhirnya, ini bukan soal satu nama. Ini soal apakah negara masih memiliki keberanian untuk menjaga kehormatannya. Karena ketika penyimpangan—atau bahkan sekadar persepsi tentangnya—dibiarkan hidup di pusat kekuasaan,maka krisis marwah bukan lagi kemungkinan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *