Idea Catra

Refleksi Hari Pendidikan Nasional, “Pendidikan Indonesia Kehilangan Akar Budayanya”

catrawarta.com — Hari Pendidikan Nasional jatuh setiap tanggal 2 Mei. Di tanggal itulah lahirnya Ki Hadjar Dewantara (KHD), Bapak Pendidikan Nasional. Sejak...

Group of indonesian schoolchildren in white shirts and navy skirtsshorts sitting on a white blanket outdoors studying papers with a magnifying glass a cow in the background near brick buildings
Ilustrasi Refleksi Hari Pendidikan Nasional, "Pendidikan Indonesia Kehilangan Akar Budayanya". Sumber: catrawarta.

catrawarta.comHari Pendidikan Nasional jatuh setiap tanggal 2 Mei. Di tanggal itulah lahirnya Ki Hadjar Dewantara (KHD), Bapak Pendidikan Nasional. Sejak awal mendirikan Perguruan Kebangsaan (National Onderwijs) Tamansiswa, 1922, beliau menekankan nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Bak masakan yang dibuat sangat khas, KHD menyiapkan manusia-manusia khas sesuai watak bangsanya yang akan mengisi negrinya yang kelak merdeka. 

Hal ini tertuang dalam suguhan gagasan yang beliau singkat dengan “Tri-KON”, kepanjangan dari : Kontinyu, Konvergen, dan Konsentris.  Dalam analisa tulisan KHD secara menyeluruh, dapat disimpulkan pemahaman makna “Konsentris” sebagai upaya menanamkan nilai-nilai kebangsaan sendiri yang khas. Berakar kuat pada budaya dan pribadi sendiri. Sedangkan “Konvergen”, bertujuan memunculkan watak adaptif menyerap pengaruh luar yang baik untuk diolah dengan budaya sendiri, sehingga tercipta budaya baru yang lebih tinggi. “Kontinyu”, bermakna bahwa budaya yang sudah kita miliki harus menjadi landasan bagi perubahan di masa berikutnya secara berkelanjutan. 

Produk keluarannya muncul manusia utama (jalma kang utama) yang memiliki kepribadian khas, yang berakar kuat pada budaya milik sendiri, namun tidak tabu menyerap kemajuan budaya di luar kebudayaannya, untuk disinergikan dengan budaya asli kita, yang seiring bergeraknya waktu semakin meluhurkan budaya bangsanya. 

Demikian terus menerus, sehingga sumber daya manusia yang diimpikan oleh KHD ini mampu mengisi negara Indonesia dengan keluhuran budaya sendiri yang dinamis berkemajuan, tanpa kehilangan watak asli budayanya. Itulah yang disebut KHD “kemerdekaan kebudayaan”, yang menyempurnakan “kemerdekaan bangsa”. Oleh karena itu layaklah “Tri-Kon” ini menjadi dasar filosofi pendidikan bangsa Indonesia. 

Seperti di negara lain yang jelas dengan filosofi pendidikannya. Kita juga sudah punya filosofi khas itu, sejak seabad yang lalu. Sehingga semua program “Merdeka Belajar” di Kemendikbudristek RI, yang diaku diserap dari KHD, diproduksi dari Tri-Kon tersebut. Tak sekedar mengejar nilai PISA. Namun seperti ditulis KHD, “paguron /sekolah adalah tempat untuk menyemai benih keluhuran kebudayaan bangsa”. Pendidikan untuk meninggikan keluhuran budaya bangsanya. Tak hanya mengejar “kasarjanan” (baca : intelektualitas), namun juga “kasujanan” (baca : kebijaksanaan). Manusia yang “sudah selesai dengan dirinya”. Manusia yang berkemampuan siap jadi apa saja.

Untuk mewujudkan watak Tri-Kon tersebut, terekam empat ramuan istimewa sistem pendidikan dalam tulisan KHD. Ramuan itu: Sistem Among, Sistem Paguron, Sistem Trisentra dan Sistem Sariswara. Empat ramuan ini sangat khas, yang dikonsepkan oleh seorang Indonesia asli, dengan racikan rempah tumbuh di negri sendiri. 

Sistem-sistem ini satu sama lain saling berkaitan dan mendukung. Ibarat resep masakan khas yang saling melengkapi cita rasa unik kelezatan hidangannya. 

Sistem Among” dijelaskan KHD bahwa “dalam sistem ini, kecerdasan hanyalah sekedar alat belaka, yang utama adalah bunga yang kelak menjadi buah, dan buahnya pendidikan adalah menjadi manusia yang suci, tertib dan bermanfaat”. Kesucian dan ketertiban ditujukan sebagai pengejawantahan sikap pengendalikan diri (swa-disiplin). 

Hal ini tak jauh dari makna “jiwa merdeka” yang dikonsepkan KHD dalam tulisan yang lain, yaitu: mandiri, tak terperintah /berinisiatif dan tertib. 

Muara besar dalam sistem ini ditujukan semua kegiatan pendidikan mampu mendidik manusia Indonesia menjadi seseorang yang memberi manfaat besar bagi sekitarnya. Dalam istilah jawa yang disitir KHD bermakna: mampu merawat dirinya, merawat bangsanya dan merawat buminya (memayu hayuning sarira, memayu hayuning bangsa, memayu hayuning bawana). 

Kebermanfaatan dirinya secara bertahap harus mampu membawa manfaat untuk bangsanya dan pada akhirnya untuk buminya (semesta). Maka praktek-prakteknya dalam “Sistem Among” ini, segala jenis pelajaran “kecerdasan” di sekolah muaranya harus kepada “kebermanfaatan”. 

Sementara pemahaman “Sistem Paguron” ditemukan dari berbagai tulisan KHD maupun para tokoh Tamansiswa, menuju satu kesimpulan. Bahwa sistem ini adalah upaya menduplikasi rasa “sih” /cinta kasih murni yang diwakili hubungan cinta kasih dalam keluarga batih. Cinta kasih antara ayah-ibu dengan anak-anaknya.

Sehingga dalam lingkungan sekolah yang menerapkan sistem ini, guru dan siswanya akan selalu berada dalam satu frekuensi yang sama, yang terikat oleh “sih”. Kekuatan rasa “sih” inilah yang menjadi ujung tombak “budi pekerti” sekaligus perwujudan watak inklusif yang paling mendasar. Komunikasi batin antara guru dengan siswanya akan terwujud. Guru sekedar memicingkan mata, anak langsung paham. 

Apabila muncul gesekan keras sekalipun, yang muncul pengertian yang mendalam, bahwa itu semua karena rasa cinta-kasih guru kepada anaknya atau sebaliknya. Maka implementasi prakteknya, sekolah mampu menciptakan berbagai pembiasaan dan kegiatan rutin yang menumbuhkan sekaligus merawat frekuensi “sih” secara terstruktur, sistematis dan masif. 

Sedangkan “Sistem Trisentra” dijelaskan KHD menempatkan sekolah dalam posisi di tengah, yang mampu berkolaborasi aktif dengan keluarga siswanya, lembaga swasta, lembaga pemerintah, komunitas di sekitarnya. Kolaborasi aktif ini menjadi salah satu penyebab dibukakannya pintu-pintu kerjasama yang pada akhirnya akan meringankan beban sekolah dalam mendidik siswanya. 

Kegiatan-kegiatan berjejaring akan membawa kesepahaman akan kebutuhan peningkatan fasilitas – program. Jaringan komunitas akan sangat membantu menciptakan percepatan sinergi sekaligus kemudahan mewujudkan tujuan aneka kegiatan sekolah. Giat organisasi kemasyarakatan yang mampu dibersamai siswa-siswi di sekolah akan melatih dan menambah bekal kecakapan hidupnya.

Yang sangat khas adalah “Sistem Sariswara” sebagai upaya memasukkan ciri khas utama budaya bangsa. Dirangkumkan definisi sistem ini sebagai suatu proses menyerap obyek pemajuan kebudayaan (OPK) dalam semua materi pelajaran di sekolah. Uniknya dalam sistem ini muncul metode menggabungkan “kesenian” dalam penyampaian semua materi pelajaran.

Hal ini ditekankan oleh KHD, bahwa “kesenian dalam pendidikan bukan untuk menjadikan seseorang sebagai seniman, kesenian dimanfaatkan sifat keindahan dan kehalusannya”. Melalui kesenian yang bisa melekatkan anak dengan rasa keindahan, menjadi ladang subur bagi munculnya “sih” tadi. 

Pendidikan keindahan rasa inilah yang akan menertibkan jiwa, menghaluskan rasa untuk memupuk watak budi pekerti luhur. Menjadi bibit buah “kebermanfaatan” diri. Kolaborasi “kesenian” yang menyerap OPK sebagai sumber kearifan lokal dalam penyampaian mata pelajaran harian memunculkan materi yang sangat kental dengan budaya bangsa sendiri.

Dalam prakteknya, sistem ini memunculkan metode aktif dan pasif. Metode aktif yang dilakukan berupa memasukkan berbagai unsur seni sastra, suara, rupa, drama /roleplay dalam pembelajaran matematika, fisika, kimia, bahasa, biologi dan lainnya. Bayangkan lembar buku sejarah dibaca dan dimaknai dengan berpuisi atau bermain drama. Matematika dengan nembang (berlagu). Materi Biologi disampaikan dengan “tembang macapat”. 

Dalam metode pasif muncul soal-soal cerita yang menyerap OPK sastra lisan, wayang, dongeng, legenda daerah yang kental dengan ajaran budi pekerti ke semua mata pelajaran. Bagaimana Wayang menjadi tokoh dalam soal fisika, cerita Naga Baruklinting menjadi obyek dalam soal matematika, atau sekedar Malin Kundang yang dimasukkan dalam soal cerita biologi.

Membayangkan keempat ramuan sistem ini disajikan dalam menu pendidikan bangsa ini, dan bila filosofi “Tri-Kon” benar-benar menjadi rujukan muara akhirnya. Bisa dibayangkan betapa lezat rasanya! Sepertinya selesailah sudah pahit-getirnya sistem pendidikan saat ini. Betapa bermartabatnya bangsa ini memiliki ciri khas sistem pendidikan yang tak ada duanya di dunia. Jelas tujuannya. Khas sistemnya. Seperti yang dikatakan KHD “dengan begitu lalu kita bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di dunia”. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *