catrawarta.com — Obrolan di antara publik seni, entah di pojok-pojok ruang pameran atau warung kopi pinggir jalan tempat para perupa berkumpul, masih saja dikerubuti oleh perdebatan yang berulang. Perbincangan terjebak pada dikotomi: pertarungan antara teknik yang rapi dan spontanitas yang dianggap “berjiwa”.
Ada tendensi penyederhanaan, di mana karya yang digarap rapi dianggap dingin, sementara yang liar dan berantakan langsung disanjung memiliki ruh. Cara pandang hitam-putih semacam ini mereduksi seni menjadi sekadar persoalan selera visual permukaan.
Cara pandang hitam-putih seperti itu membuat diskursus estetika mandek di permukaan, terjebak dalam perkara selera visual yang dangkal. Padahal, medan seni rupa menyimpan kompleksitas yang jauh melampaui apa yang tertangkap oleh retina. Di balik selembar kanvas atau sebongkah patung, ada jalinan proses berpikir, endapan pengalaman hidup, serta ketegasan sikap yang bekerja secara simultan.
Persoalan mendasar sebetulnya bukan terletak pada pertentangan antara keterampilan tangan dan getaran batin, sebab keduanya tidak saling meniadakan. Kekeliruan akut bermula ketika kita menempatkan penguasaan teknis sebagai titik akhir pencapaian, seolah-olah semakin rumit dan presisi sebuah karya, semakin tinggi pula derajat nilai seninya.
Kita membutuhkan kacamata yang lebih luas dalam menguliti sebuah karya, di mana penilaian tidak lekas puas pada kesan pertama yang memikat mata. Kita dituntut untuk melacak kembali rahim proses yang melahirkannya, memeriksa latar sosial, menakar gagasan, hingga membedah sikap hidup sang seniman. Melalui pembacaan yang utuh, akan dapat melompat keluar dari jebakan dikotomi antara yang halus dan yang kasar, menuju pertanyaan yang jauh lebih esensial: mengapa tanda visual itu harus hadir dalam rupa yang demikian?
Teknik pada hakikatnya adalah jembatan, sebuah alat bantu untuk mengalirkan sesuatu yang sifatnya imaterial menjadi material. Ketika alat ini dikultuskan sedemikian rupa, arah penciptaan menjadi gamang, dan ruang pameran lekas berubah menjadi panggung pamer ketangkasan pertukangan yang nihil makna; rapi, megah, namun gersang.
Anomali sebaliknya juga tidak kalah menggelikan, ketika sebagian lingkaran seni memperlakukan ekspresi batin sebagai sesuatu yang bisa langsung diletupkan secara instan. Tanpa melalui proses penempaan yang panjang, tanpa melewati fase pematangan pengalaman yang berdarah-darah, getaran itu coba dipalsukan secara paksa.
Siasat instan ini melahirkan komodifikasi rasa, di mana objek-objek dramatis sengaja dipilih, figur-figur manusia dibuat menderita secara teatrikal, atau palet warna digelapkan agar terkesan muram. Lucunya, eksperimen visual yang dipaksakan ini kerap dibungkus oleh narasi kuratorial yang berbusa-busa, penuh dengan metafora puitis yang ditempel mentereng di dinding galeri. Teks-teks tersebut bertindak layaknya tongkat penyangga bagi karya yang sebenarnya lumpuh secara visual, sebab tulisan tidak akan pernah bisa mengkompensasi apa yang gagal dihadirkan oleh bentuk.
Ekspresi yang bernyawa tidak pernah lahir dari rekayasa efek visual ataupun klaim sepihak atas sebuah gaya. Ia adalah buah organik dari akumulasi otentisitas hidup yang dijalani secara nyata, bukan simulasi estetis yang dirancang di atas meja demi memikat pasar.
Seniman sejati bukan sekadar buruh visual yang terampil menggerakkan kuas atau memahat batu, melainkan seorang kurator atas pengalamannya sendiri. Setiap keputusan untuk menorehkan garis, menghapus sapuan warna, atau menahan goresan adalah keputusan eksistensial yang tidak pernah netral, melainkan jejak-jejak kesadaran yang tertinggal pada medium.
Bahkan sebidang warna pun tidak pernah hadir dalam ruang hampa, melainkan membawa muatan sikap yang subtil. Pilihan warna bisa menjadi perwujudan dari ketenangan, pergolakan batin, atau bahkan sebuah proklamasi perlawanan terhadap realitas.
Kekayaan batin ini adalah modal utama yang tidak bisa disewa ataupun dipinjam dari seniman lain, karena ia ditempa melalui perjumpaan langsung dengan realitas kehidupan. Setiap goresan yang kuat lahir dari memar-memar kegagalan yang memberi arah baru, atau serpihan kegembiraan yang menjaga keseimbangan nalar seni sang kreator.
Proses pelapisan makna ini membutuhkan waktu yang panjang untuk mengendap, tidak bisa diburu-buru seperti menyeduh mie instan. Ketika proses penempaan itu berjalan utuh, karya tersebut akan mampu berbicara dengan bahasanya sendiri, beresonansi secara perlahan tanpa perlu berteriak mencari perhatian pembeli.
Sayangnya, ekosistem seni hari ini dipaksa bergerak dalam kecepatan yang abnormal, didorong oleh media sosial yang menuntut pembaruan tanpa jeda. Selera publik tidak lagi dimatangkan oleh perenungan waktu, melainkan didikte oleh arus konsumsi visual yang serba cepat dan mengutamakan kehebohan sesaat.
Dalam iklim digital yang serba gegas ini, karya-karya yang bersahabat dengan sensor kamera ponsel pintar mendadak mendapat karpet merah di ruang publik. Lukisan dengan warna-warna mencolok yang dekoratif menjadi komoditas utama karena mudah difoto dan mengundang banyak tanda ‘like’ di jagat maya dalam hitungan menit.
Daya pikat visibilitas instan ini menjadi ujian berat, memicu sebagian seniman untuk merancang karya yang sekadar apik saat ditatap melalui layar gawai seukuran telapak tangan. Dampaknya, karya-karya rupa kehilangan lapisan maknanya, terasa tipis saat diapresiasi secara langsung, karena durasi yang seharusnya dialokasikan untuk mematangkan gagasan telah dikorbankan demi kecepatan distribusi materi pemasaran.
Akademisi Bambang Sugiharto pernah melayangkan catatan penting bahwa seni bukan sekadar urusan komunikasi visual satu arah. Seni adalah sebuah peristiwa kehadiran yang menuntut keterlibatan total dari apresiatornya.. Ia melibatkan ketajaman indra, kepekaan emosi, hingga pergulatan pikiran.
Catatan tersebut menjadi cermin retak bagi situasi saat ini, di mana ruang pameran agung perlahan bergeser fungsi menjadi arena rekreasi visual dan background untuk selfie semata. Indikator keberhasilan sebuah pameran seni kini mengalami penyempitan, beralih dari kekuatan pengalaman estetis menjadi sekadar kalkulasi angka kunjungan dan viralitas di media sosial.
Para perupa yang memilih jalan pertumbuhan organik umumnya memiliki urat nadi pertahanan yang lebih kokoh dalam menghadapi gempuran tren musiman. Mereka memilih menutup telinga dari kebisingan pasar dan memusatkan seluruh energinya untuk menggali sumur kreativitas dari dalam diri mereka sendiri.
Disiplin latihan yang repetitif diperlakukan sebagai ritus harian, di mana eksperimen visual dilakukan secara berani tanpa dihantui ketakutan akan hasil yang cacat atau gagal. Melalui rantai kegagalan yang dievaluasi terus-menerus itulah, karakter dan orisinalitas visual seorang seniman akan mengkristal dengan sendirinya.
Intensitas dalam berkarya semestinya tidak diukur dari seberapa produktif seorang perupa memuntahkan puluhan kanvas dalam satu bulan. Intensitas adalah perkara kualitas perhatian; seberapa penuh kesadaran seniman ditumpahkan pada setiap detail proses, sehingga karya tersebut bernapas secara wajar tanpa kepalsuan.
Ekosistem seni yang sehat juga menuntut tanggung jawab dari publik apresiasi, agar tidak mandek pada penilaian hitam-putih seputar suka atau tidak suka. Publik seni, mulai dari pengamat, kurator, akademisi, pengelola galeri, hingga kritikus, harus memiliki keberanian untuk bersikap tegas, bahwa yang populer belum tentu berbobot, dan yang bernilai komersial tinggi tidak otomatis bermakna historis.
Seni rupa harus kembali pada khittahnya sebagai ruang terakhir yang merayakan jejak-jejak kemanusiaan yang organik di tengah dunia yang kian mekanis. Penguasaan teknik harus ditempatkan kembali pada porsi yang tepat. Ia bukan musuh yang harus dijauhi atas nama kebebasan batin, namun ia juga bukan berhala tempat kita menyembah keterampilan.
Purwosari, 20 Mei 2026

Ketika Gedung Rakyat Diduduki Rakyat 