Catra Cendekia, Catra Milenia

FinTok dan Ilusi Cepat Kaya, Literasi Finansial Butuh Lebih dari Sekadar Scroll

catrawarta.com — TikTok bukan lagi sekadar platform joget dan meme. Fenomena FinTok merebak sebagai bagian dari budaya digital anak muda yang haus...

seacrh: ecci.tech

catrawarta.comTikTok bukan lagi sekadar platform joget dan meme. Fenomena FinTok merebak sebagai bagian dari budaya digital anak muda yang haus belajar soal uang. Di bawah tagar seperti #FinTok, #TipsMenabung, dan #Investasi, video singkat membahas cara mengatur uang, menabung, dan mulai investasi. Konten ini dirancang rapi, singkat, dan tampak praktis sehingga cepat mendapat perhatian. Sepanjang 2025, konten edukasi keuangan di TikTok Indonesia meningkat tajam, menembus lebih dari satu miliar penayangan, terutama di kalangan usia 18–34 tahun.

FinTok memberi efek positif bagi sebagian penonton. Banyak yang melaporkan mulai membuat anggaran bulanan, menabung rutin, dan menyusun dana darurat setelah menonton video edukatif. Kreator yang menekankan loud budgeting atau tantangan hemat mendorong kesadaran finansial yang sebelumnya sulit dicapai lewat kanal formal.

Realitasnya, belajar finansial lebih kompleks. TikTok mempermudah akses informasi, tetapi konten populer sering menonjolkan sensasi daripada kedalaman pengetahuan. Sebagian besar video investasi menekankan gaya hidup glamor atau janji cepat kaya tanpa menjelaskan risiko. Sebuah studi menemukan sekitar 80 persen konten forex di TikTok berpotensi menyesatkan karena minim konteks dan kurang edukatif.

Rhodri Preece, penasihat keuangan dari CFA Institute, menegaskan, “Sebagian besar video investasi di TikTok tidak menjelaskan risiko atau konteks keputusan. Penonton muda bisa salah paham, lalu membuat keputusan yang tidak sesuai dengan kondisi pribadi mereka.” Ia menambahkan, “Literasi finansial sejati muncul ketika orang mengevaluasi risiko, membaca sumber kredibel, dan memahami strategi sebelum bertindak.”

Fenomena FOMO muncul sebagai dampak psikologis. Video yang viral memberi tekanan sosial, membuat penonton merasa tertinggal jika tidak mengikuti strategi yang sama. Ketakutan ini mendorong keputusan impulsif, seperti ikut investasi berisiko tinggi tanpa memahami risiko. Survei menunjukkan kurang dari separuh pengguna memeriksa ulang informasi yang mereka lihat di TikTok. Sebagian besar menilai kredibilitas berdasarkan jumlah likes, bukan kompetensi pembuat konten

Konten glamor dan janji instan menarik secara visual dan emosional, tapi tidak selalu mencerminkan realitas finansial mayoritas orang. Persepsi sukses bergeser dari proses matang menjadi angka di layar. Budaya digital anak muda kini haus informasi cepat, tetapi risiko salah paham tetap tinggi.

Ahli finansial menekankan bahwa edukasi yang benar membutuhkan lebih dari video viral. “TikTok bisa jadi titik awal, tetapi belajar finansial membutuhkan literatur, kursus, dan konsultasi dengan profesional,” kata Kate Andrews, perencana keuangan independen. “Setiap strategi harus disesuaikan dengan tujuan pribadi dan kapasitas finansial masing-masing.”

Scroll TikTok memberi ide, tetapi literasi finansial sejati muncul dari pemikiran kritis, riset mandiri, dan pilihan rasional pribadi. Video viral tidak bisa menggantikan proses belajar yang matang. FinTok memberi awal, tapi tanggung jawab untuk menilai, memfilter, dan menyesuaikan dengan kondisi sendiri tetap ada pada pengguna.

FinTok membuka pintu awal ke dunia literasi finansial, tetapi pintu itu bukan tujuan akhir. Viralitas video dan tips cepat kaya hanya memberi ilusi penguasaan finansial. Literasi sejati muncul ketika pengguna mampu menilai risiko sendiri, berpikir kritis, dan membuat keputusan yang sesuai dengan kondisi pribadi. Jika scroll TikTok dijadikan satu-satunya sumber, maka pengetahuan hanyalah bayangan tanpa kedalaman dan tanpa kendali. Menguasai keuangan bukan soal meniru apa yang viral, tapi soal menata hidup dengan sadar, rasional, dan berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *