Catra Budaya

‘Wulangsunu’ Tarian Khas Temanggung Penuh Pesan Moral

catrawarta.com — Kabupaten Temanggung sepertinya ingin memantapkan diri sebagai daerah yang selalu nguri-uri seni dan budaya lokal.  Salah satunya, dengan mengajak 1.800...

Siswa SMK N 1 Temanggung sedang bersama-sama menarikan Wulangsunu. (Istimewa)

catrawarta.comKabupaten Temanggung sepertinya ingin memantapkan diri sebagai daerah yang selalu nguri-uri seni dan budaya lokal.  Salah satunya, dengan mengajak 1.800 siswa SMK Negeri 1 Temanggung (Stemba Temanggung) menari seni tradisional Wulangsunu sebagai langkah untuk melestarikan budaya lokal di dunia pendidikan, di lapangan Maron, Selasa (31/3/2026).
Tarian asli Temanggung ini tidak hanya mengajarkan teknik gerakan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada para siswa, termasuk nilai spiritual
Pembimbing tari, Ira Indriasari, menjelaskan, di Stemba ada ekstrakulikuler menari, dan melalui kegiatan ini siswa dikenalkan berbagai jenis tarian, mulai dari tari tradisional kerakyatan, tari kreasi, hingga tari harapan.
Dari berbagai materi tersebut, Tari Wulangsunu menjadi salah satu fokus utama karena merupakan tarian khas Temanggung yang sarat makna dan filosofi kehidupan. “Tari Wulangsunu dipilih karena menjadi bagian dari budaya lokal Temanggung yang perlu dikenalkan kepada generasi muda. Melalui tarian ini, siswa diajak untuk mencintai warisan budaya daerahnya sendiri,” kata dia.

Ada Ajakan untuk Selalu Berdoa

Ia menambahkan, setiap gerakan dalam tari Wulangsunu mengandung pesan moral, seperti nilai kebaikan, semangat menuntut ilmu, hingga ajakan untuk selalu berdoa kepada Tuhan.
Bahkan, ujarnya, terdapat gerakan yang menyerupai gerakan salat sebagai simbol nilai spiritual. Tarian ini juga dapat dibawakan siswa laki-laki maupun perempuan, sehingga memberikan ruang ekspresi yang luas. Pembelajaran seni tari ini berlangsung dengan penuh disiplin. Siswa diwajibkan mengikuti latihan tanpa keluar dari barisan hingga kegiatan selesai.

Salah satu siswa, Syafadila Qotrun Nada, mengungkapkan manfaat yang diperoleh tidak hanya keterampilan menari, tetapi juga nilai kebersamaan.

Latihan dilakukan secara bertahap, yakni selama dua bulan untuk siswa SMK dan satu bulan untuk pendalaman kesenian. Meski gerakan tari dinilai cukup sederhana, namun tetap membutuhkan latihan untuk menghafal pola gerak dan kekompakan tim. Melalui kegiatan ini, dia berharap siswa tidak hanya mampu menari, tetapi juga memahami makna di balik setiap gerakan serta turut menjaga dan melestarikan budaya asli Temanggung.

Kepala Stemba Agus Santoso mengatakan, sekolah yang dipimpinnya punya komitmen dalam melestarikan seni budaya, di tengah pembelajaran siswa. “Seni budaya kaya nilai-nilai dan kearifan lokal, siswa harus memahami untuk bekal dalam bermasyarakat,” katanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *