Catra Budaya

Tamansiswa 104 Tahun, Wanita Jadi Pilar Pendidikan

Perguruan Tamansiswa genap berusia 104 tahun pada Jumat (3/7/2026). Peringatan ini sekaligus menjadi hari lahir Wanita Tamansiswa

Ibu Soerjoadipoetro berbincang-bincang dengan beberapa siswi Taman Siswa Bandung. (Foto koleksi KITLV)

catrawarta.comPerguruan Tamansiswa genap berusia 104 tahun pada Jumat (3/7/2026). Peringatan ini sekaligus menjadi hari lahir Wanita Tamansiswa yang didirikan bersamaan oleh Ki Hajar Dewantara pada 3 Juli 1922.

Ketua Umum Wanita Tamansiswa, Tri Yuliyanti Setyasari, mengatakan pendirian Wanita Tamansiswa menunjukkan pandangan progresif Ki Hajar Dewantara terhadap peran perempuan dalam dunia pendidikan.

“Ki Hajar Dewantara adalah seorang pemikir yang mampu melihat potensi perempuan dalam bidang pendidikan,” kata Yuliyanti kepada catrawarta.com, Kamis (2/7/2026).

Menurutnya, sejak awal berdiri Tamansiswa telah memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi pendidik. Pada 1922, banyak perempuan yang telah berperan sebagai pamong di lingkungan Perguruan Tamansiswa.

Selain mendidik di bidang akademik, Ki Hajar Dewantara juga membekali perempuan dengan berbagai keterampilan hidup, seperti menjahit, memasak, karawitan, dan keterampilan lainnya.

“Intinya mendidik perempuan agar mandiri. Dari sini lahirlah pamong-pamong perempuan yang kemudian menularkan pendidikan kepada murid-murid perempuan,” ujarnya.

Perguruan tamansiswa genap berusia 104 tahun pada jumat 372026 Peringatan ini sekaligus menjadi hari lahir wanita tamansiswa
Tri Yuliyanti Setyasari, S.Sn., M.Pd.
Ketua Umum Wanita Tamansiswa. (dok pribadi)

Yuliyanti menjelaskan, Tamansiswa merupakan salah satu organisasi pendidikan tertua di Indonesia. Bersama organisasi perempuan Aisyiyah, Wanita Tamansiswa juga tercatat sebagai penggagas Kongres Perempuan Indonesia I yang berlangsung di Dalem Joyodipuran, Yogyakarta, pada 22–25 Desember 1928.

Kongres tersebut memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama di bidang pendidikan, perkawinan, dan perlindungan anak. Tanggal pembukaan kongres, yakni 22 Desember, kemudian ditetapkan sebagai Hari Ibu.

Hingga kini, kata Yuliyanti, seluruh Perguruan Tamansiswa di Indonesia memiliki organisasi Wanita Tamansiswa yang beranggotakan pamong perempuan, istri pamong, alumni, hingga pamong yang telah purnabakti.

“Kami memiliki tugas mendidik karakter peserta didik. Pendekatan kami sebagai pamong adalah seperti seorang ibu kepada anak. Selain mendampingi murid perempuan, kami juga terus mengenalkan pendidikan karakter dan budaya kepada generasi muda,” jelasnya.

Perguruan tamansiswa genap berusia 104 tahun pada jumat 372026 Peringatan ini sekaligus menjadi hari lahir wanita tamansiswa
Ki Hajar Dewantara. (dok Tamansiswa)

Nilai Ki Hajar Dewantara Masih Relevan

Yuliyanti menilai ajaran Ki Hajar Dewantara tetap menjadi fondasi pendidikan nasional hingga saat ini. Bahkan, konsep Merdeka Belajar yang pernah diperkenalkan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim dinilainya selaras dengan filosofi pendidikan Tamansiswa.

Ia menyebut semboyan kepemimpinan Ki Hajar Dewantara, yakni Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani, masih menjadi dasar penting dalam dunia pendidikan Indonesia.

“Ini merupakan dasar pendidikan yang telah ada sejak dulu dan lahir dari pemikiran tokoh bangsa Indonesia. Sayangnya, sekarang banyak sekolah justru lebih memilih menggunakan kurikulum luar negeri yang berangkat dari pemikiran bangsa lain,” katanya.

Menurut Yuliyanti, konsep pendidikan Ki Hajar Dewantara telah terbukti mampu bertahan lebih dari satu abad karena lahir dari karakter dan budaya bangsa Indonesia.

Ia juga menyoroti metode pembelajaran Niteni, Nirokke, Nambahi sebagai warisan penting Ki Hajar Dewantara yang masih relevan diterapkan hingga kini.

Niteni berarti mengamati dan memahami, Nirokke berarti meniru atau mempraktikkan contoh, sedangkan Nambahi adalah mengembangkan atau menciptakan inovasi baru. Menurutnya, tahapan tersebut bertujuan agar peserta didik memahami ilmu secara utuh, bukan sekadar meniru.

“Selama 104 tahun ini, Tamansiswa terus berjuang memperkenalkan ajaran pendidikan Ki Hajar Dewantara ke seluruh pelosok Indonesia. Inilah pijakan pendidikan nasional yang lahir dari karakter bangsa Indonesia sendiri,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *