Warta

Trump Diduga Intervensi FIFA, Parlemen Eropa Bergerak

Kartu merah striker AS Folarin Balogun yang dicabut FIFA menuai kontroversi. Parlemen Eropa dan UEFA mulai bersuara.

Presiden donald trump dan presiden fifa gianni infantino mengumumkan lokasi pengundian piala dunia fifa 2025 di gedung putih
Presiden Donald Trump dan Presiden FIFA Gianni Infantino mengumumkan lokasi pengundian Piala Dunia FIFA 2025 di Gedung Putih. (dok. whitehouse.gov)

catrawarta.comStriker Amerika Serikat, Folarin Balogun yang diusir keluar lapangan saat menang di babak 32 besar atas Bosnia-Herzegovina berbuntut panjang. Kartu merah Balogun diduga mendapat lobi langsung dari Presiden Donald Trump.

Trump dilaporkan meminta FIFA meninjau kembali hukuman terhadap sang penyerang. Kabar ini semakin santer beredar lantaran diduga Trump menghubungi Presiden FIFA Gianni Infantino secara langsung.

Dengan berbagai pertimbangan, FIFA akhirnya menyetujui permintaan Trump dan mencabut kartu merah Balogun, Mingggu (5/7).

Bahkan, penyerang ini diizinkan tetap berlaga saat melawan Belgia, Senin (6/7) kemarin. Meski AS akhirnya harus menerima kekalahan akibat skor 1-4, publik tetap memberikan sorotan tajam atas keputusan FIFA terhadap Balogun.

Disorot UEFA dan Parlemen Eropa

Alhasil, keputusan kontroversial ini sukses mengundang perhatian dari banyak pihak. Termasuk UEFA yang menjadi organisasi paling keras mengecam keputusan FIFA, menilai hal ini tidak dapat dipahami dan tidak dapat dibenarkan.

Selain UEFA, puluhan anggota Parlemen Uni Eropa juga terus mendesak Komite Etik FIFA untuk menyelidiki korelasi Trump dan sikap Infantino atas pelanggaran etika organisasi.

Parlemen Eropa, Barry Andrews, Lara Wolters, dan Niels Fuglsang menilai, keputusan itu jelas bisa disebut sebagai aib dan penyimpangan keadilan.

“Sekali lagi, kita telah melihat Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Trump,” dikutip dari pernyataan anggota Parlemen Uni Eropa, dilansir dari ESPN, Kamis (9/7).

Dalam rilis pernyataannya, para anggota Parlemen itu juga turut membubuhkan tanda tangan sebagai simbol atas dukungan untuk segera dilakukan kajian ulang oleh Komite Etik FIFA terhadap keputusan yang sebelumnya dinilai melanggar aturan.

“Keindahan olahraga terletak pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika Infantino membiarkan tekanan politi menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan ini hilang,” tambah anggota Parlemen dalam keterangan rilisnya.

Kontroversi ini kian memperkeruh hubungan Parlemen Eropa dengan FIFA. Sebelumnya, sebanyak 50 anggota Parlemen juga telah mengirimkan surat terpisah yang berisi soal tuntutan penyelidikan atas keputusan FIFA memberikan penghargaan FIFA Peace Award kepada Trump.

Gedung Putih Angkat Bicara

Di sisi lain, Gedung Putih turut angkat bicara. Disampaikan Kepala Tim Piala Dunia Gedung Putih Andrew Giuliani kepada pers di Pusat Pers Asing Washington DC, Trump menyatakan jika wasit Brasil, Raphael Claus yang bertugas kala itu memiliki rekam jejang yang disebut sedikit mencurigakan.

“Kami menemukan sangat mencurigakan bahwa ada wasit yang sebelumnya telah diselidiki karena pengaturan pertandingan, khususnya terkait kartu merah yang tidak biasa, memberikan kartu merah yang tidak biasa,” katanya.

Lebih lanjut, pemerintah disebutnya ingin permainan yang adil bagi semua pihak. Dia juga menyebut bahwa kartu merah ini bagi sebagian besar penonton merupakan sanksi yang tidak biasa.

“Pemerintah AS, baik di kotak suara maupun di lapangan, kami ingin permainan yang adil. Jadi bagi kami, kami merasa itu sangat mencurigakan, setidaknya, seperti kebanyakan orang Amerika, saya piker seperti kebanyakan orang melihat ini secara tidak biasa. Kami senang bahwa sepak bola AS dapat mengajukan banding, dan kami berpikir hasil yang benar telah dicapai,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *