catrawarta.com — Tiga penyair perempuan dari Jakarta, Tangerang, dan Yogyakarta akan meluncurkan buku puisi terbaru mereka dalam gelaran Sastra Bulan Purnama edisi ke-178 yang berlangsung pada Sabtu (11/7/2026) sore di Aula STPMD “APMD”, Jalan Timoho No. 317, Yogyakarta.
Ketiga penyair tersebut adalah Nia Samsihono dengan buku puisi Laras, Rini Intama dengan Molase, serta Yuliani Kumudaswari yang meluncurkan buku puisi Losarium.
Dalam acara tersebut, masing-masing penyair akan membacakan lima puisi pilihan. Selain itu, dua puisi karya Nia Samsihono dan Rini Intama akan diaransemen menjadi lagu oleh musisi Joshua Igho.

Nia Samsihono telah menulis puisi sejak masih menjadi mahasiswa. Karyanya mulai dipublikasikan di harian Suara Merdeka dan hingga kini tetap aktif berkarya. Sementara itu, Rini Intama yang mulai menulis sejak era 1990-an telah menerbitkan sejumlah antologi puisi. Tiga di antaranya masuk dalam lima nominasi terbaik versi Yayasan Hari Puisi pada tahun yang berbeda.
Adapun Yuliani Kumudaswari mulai aktif menulis sejak pertengahan 2000-an dan dikenal sebagai penyair yang produktif dengan sejumlah buku puisi yang telah diterbitkan.
Koordinator Sastra Bulan Purnama, Ons Untoro, mengatakan perkembangan sastra di era digital menunjukkan semakin banyak perempuan yang menekuni dunia kepenyairan dengan latar belakang profesi yang beragam, mulai dari guru, dosen, aparatur sipil negara, pengusaha, pengacara, hingga ibu rumah tangga.
“Pada tahun 1960-an hingga 1990-an, media cetak masih menyediakan ruang sastra sehingga para penulis dapat mempublikasikan karya mereka. Saat itu jumlah penyair perempuan masih relatif sedikit,” ujar Ons Untoro, Minggu (5/7/2026).

Menurutnya, meski kini banyak media cetak tidak lagi menyediakan rubrik sastra, minat menulis puisi justru tidak surut. Perempuan maupun penyair muda tetap aktif berkarya dengan memanfaatkan berbagai platform digital.
“Sepertinya puisi memiliki daya tarik tersendiri bagi perempuan. Meski usia tidak lagi muda, mereka tetap konsisten menulis puisi,” katanya.
Sementara itu, Wakil Ketua STPMD “APMD” Tri Agus Susanto Siswowiharjo atau yang akrab disapa Tass menilai kegiatan sastra perlu terus mendapat ruang agar semakin dekat dengan masyarakat.
Ia mengapresiasi konsistensi Sastra Bulan Purnama yang telah memasuki usia 15 tahun dalam menghidupkan ekosistem sastra di Yogyakarta.
“Meski STPMD tidak memiliki Fakultas Sastra, kami memiliki Program Studi Ilmu Komunikasi. Karya sastra merupakan salah satu bentuk komunikasi yang disampaikan melalui pendekatan estetis. Karena itu, kampus memberikan ruang bagi berbagai pertunjukan sastra,” ujar Tass.

Maroko Porak-porandakan Kanada, Prancis Kurang ‘Greget’ 