Catra Budaya

Jejak Sejarah Keraton Yogyakarta Berawal dari Sukowati

Hubungan historis antara Keraton Yogyakarta dengan wilayah Sukowati yang kini menjadi Kabupaten Sragen ternyata jauh lebih erat daripada yang selama ini diketahui

Hubungan historis antara keraton yogyakarta dengan wilayah sukowati yang kini menjadi kabupaten sragen ternyata jauh lebih erat daripada yang selama ini diketahui
Monumen Perjanjian Giyanti di Karanganyar, Jawa Tengah. (dok Dinas Kebudayaan DIY)

catrawarta.comHubungan historis antara Keraton Yogyakarta dengan wilayah Sukowati yang kini menjadi Kabupaten Sragen ternyata jauh lebih erat daripada yang selama ini diketahui. Selain memiliki jejak perjuangan politik Pangeran Mangkubumi, terdapat pula hubungan genealogis yang menghubungkan Kesultanan Yogyakarta dengan Sukowati.

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Sri Margana, mengungkapkan bahwa jejak politik Pangeran Mangkubumi atau yang kelak menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I telah banyak dikaji dalam berbagai penelitian sejarah. Namun, hubungan genealogis dengan Sukowati masih jarang diungkap.

“Pangeran Mangkubumi keluar dari Kartasura bersama Raden Mas Said dan membangun basis perjuangan di Sukowati untuk melawan kolonial pada 1746,” kata Sri Margana dalam Seminar Sejarah bertema Urgensi Hubungan DIY-Sragen dalam Koneksi Historis dan Budaya Mataram, Kamis (2/7/2026).

Perlawanan Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said terhadap campur tangan VOC dalam pemerintahan Pakubuwono II kemudian dikenal sebagai Perang Suksesi III (1746-1755).

Seminar tersebut diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sragen sebagai rangkaian menyambut Muhibah Budaya pada 6-9 Juli 2026 serta kunjungan Sri Sultan Hamengku Buwono X ke Sragen pada 9 Juli 2026.

Sejarawan universitas gadjah mada dr Sri margana dan filolog jawa rendra agusta
Sejarawan Universitas Gadjah Mada Dr. Sri Margana dan filolog Jawa Rendra Agusta (baju hitam). (dok istimewa)

Ikatan Keluarga dengan Sukowati

Sri Margana menjelaskan, hasil penelitiannya menemukan adanya hubungan darah antara keluarga Kesultanan Yogyakarta dengan Sukowati.

Kisah itu bermula dari Kyai Agung Derpoyudo, seorang prajurit tangguh Keraton Surakarta yang semula berhadapan dengan pasukan Pangeran Mangkubumi. Namun setelah dibujuk, Derpoyudo akhirnya bergabung dalam perjuangan melawan VOC.

“Derpoyudo memiliki dua istri. Dari istri pertama, Roro Widuri, lahir Ronggo Prawirodirjo I yang kemudian menjadi Bupati Madiun. Dari istri kedua, Roro Nariti, lahir Gusti Kanjeng Ratu Ageng yang kemudian menikah dengan Pangeran Mangkubumi setelah dinobatkan menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono I,” jelas Sri Margana.

Dari pernikahan tersebut lahirlah keturunan yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwono II, dan garis keturunan itu berlanjut hingga Sri Sultan Hamengku Buwono III.

Menurut Sri Margana, silsilah tersebut tercatat dalam Serat Raja Putra Narendra koleksi Keraton Yogyakarta yang kini tersimpan di Museum Sonobudoyo. Sementara makam Kyai Agung Derpoyudo berada di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Sukowati Pernah Jadi Wilayah Strategis Mataram

Sri Margana menjelaskan, pada masa Kerajaan Mataram Islam, wilayah Sukowati memiliki cakupan yang sangat luas. Kawasan ini meliputi wilayah yang kini menjadi Ngawi, Madiun, Ponorogo hingga sebagian pesisir utara Pulau Jawa.

Namun setelah Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 atau dikenal sebagai Palihan Nagari, Kerajaan Mataram dibagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Perubahan wilayah kembali terjadi pada 1830 melalui tukar-menukar daerah. Kasunanan Surakarta memperoleh Pajang dan Sukowati, sedangkan Kasultanan Yogyakarta mendapatkan wilayah Mataram dan Gunungkidul.

Sri Margana juga mengungkapkan bahwa Sri Sultan Hamengku Buwono I membawa Bangsal Kamandungan dari Sukowati ke Keraton Yogyakarta sebagai simbol awal perjuangannya mendirikan Kesultanan Yogyakarta.

Bangsal tersebut berasal dari Dusun Pandak Karangnongko, Kelurahan Krikilan, Kecamatan Masaran, yang kini masuk wilayah Kabupaten Sragen.

“Pasca-Perjanjian Giyanti, wilayah-wilayah kekuasaan Mataram terus dipecah-pecah untuk melemahkan kekuasaan politik Jawa. Hingga kini, perpecahan antara Kasunanan dan Kasultanan belum pernah benar-benar tersatukan kembali, meski memiliki hubungan genealogis,” ujar Sri Margana.

Pangeran Mangkubumi Memiliki Banyak Nama

Pembicara lain, filolog Jawa dari Sraddha Sala Surakarta, Rendra Agusta, mengungkapkan bahwa berdasarkan sejumlah manuskrip Jawa, Pangeran Mangkubumi menggunakan beberapa nama sepanjang perjalanan hidupnya.

Lukisan sri sultan hamengku buwono i
Lukisan Sri Sultan Hamengku Buwono I koleksi Keraton Yogyakarta. (dok Keraton Yogyakarta)

Ia pernah dikenal sebagai Pangeran Sentana Arya Mangkubumi, kemudian menggunakan nama Pangeran Sukowati saat memimpin perlawanan terhadap VOC.

“Saat berpindah ke Mojoreto beliau bergelar Adipati Sukowati. Menjelang Perjanjian Giyanti menggunakan nama Sunan Kabanaran. Nama itu ditemukan dalam manuskrip bertahun 1830. Ketika Perjanjian Giyanti beliau menggunakan gelar Sultan Pakubuwono sebelum akhirnya dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I,” kata Rendra.

Pangeran Mangkubumi resmi dinobatkan sebagai Sri Sultan Hamengku Buwono I pada 13 Maret 1755. Menurut Rendra, wilayah Sukowati pada masa itu membentang dari Gunung Lawu hingga Pegunungan Kendeng.

Ia juga menjelaskan adanya hubungan Kesultanan Yogyakarta dengan Kadipaten Serang. Nyi Ageng Serang disebut pernah menikah dengan Sri Sultan Hamengku Buwono II. 

Petilasan tokoh perempuan pejuang tersebut berada di kawasan Serang, yang kini berada di perbatasan Grobogan-Sragen, tepatnya di sekitar wilayah yang kini berada di bawah genangan Waduk Kedungombo.

Nyi Ageng Serang sendiri dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam Perang Jawa dan dimakamkan di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *