Catra Budaya

Dari Sarasehan Komunitas Kandang Kebo, KRT Secodiningrat Potret Hibridisasi Budaya yang Gagal

Sarasehan Komunitas Kandang Kebo mengulas dinamika akulturasi Tionghoa-Jawa di Yogyakarta, menyoroti perjalanan politik Tan Jin Sing, kebijakan Passenstelsel, hingga warisan budaya lokal.

Community workshop in a wooden hall with a speaker presenting slides to attendees seated on the floor in the audience area
SARASEHAN: Paparan Dr Baha'uddin MHum pada Sarasehan Komunitas Kandang Kebo (Dok. Catra)

catrawarta.comTan Jin Sing atau yang kemudian dikenal dengan KRT Secodiningrat merupakan fenomena hibridisasi budaya Tionghoa dan Jawa yang gagal. Cukup disayangkan bahwa jalan politik yang dia tempuh justru menjepit jalan sejarahnya.

Demikian disampaikan sejarawan FIB UGM Dr. Baha’uddin, M.Hum dalam Sarasehan Triwulanan Komunitas Kandang Kebo, Sabtu (25/7/2026). Dia menjalani hibridisasi politik dan status sosial yang luar biasa, dari Kapitan Cina menjadi Bupati Jawa, tetapi ditentang Pangeran Notokusumo.

“Ia melepas identitasnya sebagai orang Tionghoa dengan masuk Islam, disunat, memotong taucang (kucir rambut), dan sepenuhnya menjadi orang Jawa di mata keraton Yogyakarta dan masyarakat. Namun, jabatannya sebagai Bupati Jawa banyak ditentang dan ancaman pembunuhan. Apalagi Sri Sultan Hamengku Buwono III, sebagai pelindungnya, wafat pada 1814. Usahanya untuk menyamakan diri dengan orang Eropa (gelijkgestelde) juga gagal. Dari sinilah muncul ungkapan ‘Cina wurung, Londo durung, Jawa tanggung’. Tan Jin Sing adalah protagonis hibridisasi Tionghoa-Jawa khas Yogyakarta”, jelasnya.

Terkait eksistensi komunitas Tionghoa di Yogyakarta, Baha’uddin menjelaskan hal itu terkait dengan kebijakan Wijkenstelsel dan Passenstelsel yang mengharuskan orang Tionghoa mengelompok dalam satu kawasan yang telah ditentukan.

“Hibridisasi budaya Tionghoa-Jawa juga terjadi dalam seni pertunjukan (wayang Wacinwa), kuliner (makanan berawalan bak), arsitektur dan ruang hidup, liong batik, tumpeng Imlek, bahasa dan sastra Jawa (memoar Ko Ho Sing), Fashion (kebaya Encim)”, ungkap anggota TACB DIY ini.

Dalam sarasehan yang dimoderatori Wahjudi Djaja dari Catrawarta Group, tampil juga narasumber Rezza Maulana, MA. Peneliti dan akademisi UIN Sunan Kalijaga ini memaparkan jejak kolegial antara Keraton Yogyakarta dan Tionghoa.

“Yang belum banyak diungkap, selir Sri Sultan Hamengku Buwono II yang bernama Mas Ayu Sumarsonowati itu bernama asli Lien Niang. Beliau pernah tergabung dalam prajurit perempuan Langenkusuma, dan menciptakan motif batik brangtamangu (brangta artinya hati, mangu artinya ragu)”, jelasnya.

Sebelumnya pembina Komunitas Kandang Kebo Dr. Minta Harsana, MSc menyampaikan sarasehan bertema Merajut Harmoni: Kisah Akulturasi di Yogyakarta merupakan bagian agenda triwulanan.

“Selama ini kita dikenal blusukan dari desa ke desa melacak jejak leluhur. Minggu (26/7/2026) kita mencoba menelusuri jantung Kota Yogyakarta yang kaya dengan jejak dan potensi”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *