catrawarta.com — Indonesia mengenal istilah mudik ketika Lebaran tiba. Jutaan orang pulang ke kampung halaman untuk bertemu dengan sanak saudara. Tradisi mudik juga ada di Tiongkok pada saat rangkaian Tahun Baru Imlek.
Pada tahun 2026 ini, berlangsung 9,5 miliar perjalanan lintas wilayah telah berlangsung yang mencakup aktivitas pulang kampung serta pariwisata. Perjalanan selama 40 hari masa puncak Festival Musim Semi 2026 dimulai sejak 2 Februari hingga 40 hari ke depan.
Pengamat multikulturalisme, Evi Lina Sutrisno PhD mengungkapkan Tahun Baru Imlek di Tiongkok memiliki waktu libur yang lebih lama dibandingkan hari libur yang lain sehingga masyarakat memanfaatkan momentum tersebut untuk berkumpul bersama keluarga.
”Momentum tersebut digunakan untuk menikmati nuansa kebersamaan yang mulai merenggang karena anggota keluarga yang merantau ke berbagai tempat,” ujar Lina.
Sejak Era Presiden Gus Dur
Ia memaparkan, perayaan Imlek di Indonesia mulai terbuka sejak reformasi pada masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Perayaan seperti karnaval, pertunjukan barongsai, hingga festival kebudayaan telah aktif berlangsung.
Berlanjut hingga pada masa kepemimpinan Presiden Megawati, kemudian diakui sebagai hari libur nasional sehingga banyak komunitas Tionghoa merayakan Imlek dengan berbagai cara. Bahkan keterlibatan etnis lainnya turut memeriahkan perayaan Imlek. Tahun Baru Imlek merupakan perayaan multikultural festival terutama untuk rakyat.
”Ada rangkaian yang berlangsung 15 hari setelah Imlek, yaitu Cap Go Meh. Tahun ini, Cap Go Meh jatuh pada tanggal 3 Maret 2026,” jelas Lina.
Festival Bulan Purnama
Perayaan Cap Go Meh, lanjutnya, merupakan festival bulan purnama sekaligus penutup rangkaian Tahun Baru Imlek. Cap Go Meh disimbolkan sebagai penyempurnaan doa dan harapan di awal tahun baru. Di Indonesia, perayaan Cap Go Meh terbesar berada di Singkawang, Kalimantan Barat yang menghadirkan festival perpaduan budaya antara budaya Tionghoa dan budaya Dayak.
Ia menceritakan, budaya Tionghoa identik dengan shio, yaitu dua belas lambang hewan dalam astrologi Tionghoa yang mewakili siklus tahunan. Setiap tahun dikaitkan dengan satu hewan tertentu. Shio dikombinasikan dengan elemen berdasarkan Teori Lima Elemen (Wu Xing) yaitu kayu, api, tanah, logam, dan air. Tahun 2026, dalam kalender Tiongkok dilambangkan tahun Kuda Api.
”Masyarakat Tionghoa memiliki kepercayaan terhadap kecocokan shio membuat mereka melakukan kegiatan spiritual dengan berdoa pada awal tahun,” tambah Lina.
Karena itu, masyarakat melakukan ritual Ciswak atau tradisi tolak bala untuk membuang sial, energi negatif, dan menyucikan diri. Ritual Ciswak biasanya dilaksanakan secara bersama-sama di Kelenteng. Di Tahun Kuda Api, bagi shio yang tidak beruntung akan melakukan Ciswak.

Segera Evaluasi Internal Polisi, Cegah Terulangnya Kekerasan 