Catra Budaya

Bandara YIA Berdiri di Bekas Kabupaten Adikarta

Di Kabupaten Kulon Progo, ada sebuah kabupaten yang kini telah hilang dari peta administrasi, yakni Kabupaten Adikarta atau Adikarto.

Kabupaten adikarta atau adikarto di kulon progo kini telah hilang di peta nasional
Gambar peta wilayah Kadipaten Pakualaman yang dipasang di Museum Pakualaman. (dok X Watespahpoh)

catrawarta.comBagi Anda yang berkunjung ke Yogyakarta melalui jalur udara dan mendarat di Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon, Kabupaten Kulon Progo, mungkin tidak banyak yang mengetahui bahwa kawasan tersebut dahulu merupakan bagian dari sebuah kabupaten yang kini telah hilang dari peta administrasi, yakni Kabupaten Adikarta atau Adikarto.

Dalam catatan sejarah, wilayah tempat berdirinya Bandara YIA dulunya masuk dalam Kabupaten Adikarta. Namun, seiring perubahan administrasi pemerintahan, kabupaten tersebut dihapus dan digabungkan ke dalam Kabupaten Kulon Progo yang dikenal hingga saat ini.

Dikutip dari Risalah Harijadi Kulon Progo, wilayah Kulon Progo pada masa lalu terdiri atas dua kadipaten atau kabupaten, yakni Kabupaten Adikarta yang beribu kota di Bendungan sebelum kemudian dipindahkan ke Wates, serta Kabupaten Kulon Progo yang awalnya beribu kota di Pengasih sebelum berpindah ke Sentolo.

Sebagai bagian dari wilayah kekuasaan kerajaan, kedua daerah tersebut berada di bawah naungan Kadipaten Pakualaman. Kabupaten Adikarta pada awalnya dikenal sebagai Pasir Urut Sewu, sebuah kawasan rawa yang kemudian dinamakan Kabupaten Karangkemuning.

Pada masa pemerintahan Sri Paduka Paku Alam V, Raden Rio Wosodirdjo mendapat perintah untuk mengubah kawasan rawa tersebut menjadi wilayah yang produktif dan makmur.

Upaya tersebut berhasil dilakukan sehingga daerah yang semula berupa rawa berubah menjadi kawasan pertanian yang subur. Sebagai penghargaan atas keberhasilan itu, nama wilayah tersebut kemudian diubah menjadi Kabupaten Adikarta.

White arched entrance of yogyakarta international airport with bold green signage set under a futuristic curved concrete roof with circular skylight like openings
Dalam catatan sejarah, Yogyakarta International Airport dulunya masuk dalam Kabupaten Adikarta. (dok. YogyakartaAirport.com)

Pusat pemerintahan Adikarta awalnya berada di Brosot sebelum dipindahkan ke Bendungan, dan pada tahun 1903 kembali dipindahkan ke Wates.

Sementara itu, wilayah Kulon Progo mengalami beberapa kali pemekaran pada masa setelah Perang Jawa. Pada tahun 1831 muncul Kabupaten Pengasih dan Kabupaten Sentolo. Selanjutnya berdiri Kabupaten Nanggulan pada 1851 serta Kabupaten Kalibawang pada 1855 yang merupakan hasil pemecahan wilayah Kulon Progo.

Meski menyandang status kabupaten, wilayah-wilayah tersebut memiliki cakupan yang relatif kecil dibandingkan Kabupaten Kulon Progo saat ini. Pemimpin daerah pada masa itu dikenal dengan sebutan Raden Rio.

Pada tahun 1912, kabupaten-kabupaten hasil pemekaran tersebut kembali disatukan dengan nama Kabupaten Kulon Progo dengan ibu kota di Pengasih.

Kemudian pada 1927, wilayah Kabupaten Kulon Progo dibagi menjadi beberapa district dan onderdistrict. Tujuh tahun kemudian, tepatnya pada 1934, ibu kota kabupaten dipindahkan dari Pengasih ke Sentolo.

Perubahan besar terjadi setelah pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1951. Berdasarkan regulasi tersebut, Kabupaten Adikarta resmi digabungkan dengan Kabupaten Kulon Progo pada 15 Oktober 1951.

Historical map of peta kab Adikarto pakualaman era 18291951 showing coastal area with southern districts shaded in orange and labeled along the coast
Peta Sejarah Kabupaten Adikarto (Dok Sejarah Yogya)

Sejak saat itu, Kota Wates ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Kulon Progo hingga sekarang, sementara nama Adikarta atau Adikarto tidak lagi digunakan dalam administrasi pemerintahan.

Wilayah bekas Kabupaten Adikarta yang dahulu berada di bawah Kadipaten Pakualaman mencakup empat kapanewon, yakni Wates, Temon, Brosot, dan Panjatan, dengan pusat pemerintahan berada di Wates.

Kini, kawasan bersejarah tersebut menjadi lokasi berdirinya Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kapanewon Temon yang menjadi gerbang utama transportasi udara menuju Daerah Istimewa Yogyakarta.

Almarhum Prof. Dr. Daldiri Mangoendiwirja, akademisi sekaligus pejuang kelahiran Wates, pernah menyebut Kabupaten Kulon Progo sebagai entitas unik yang lahir dari perpaduan dua kekuatan besar di Jawa yang kemudian bersatu menjadi satu daerah yang tangguh.

Menurut Daldiri, sejarah panjang wilayah tersebut turut membentuk karakter masyarakat yang memiliki semangat perjuangan tinggi dalam menghadapi penjajahan.

“Daerah ini merupakan benteng pertahanan yang memiliki jiwa patriotisme tinggi,” ujar Daldiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *