catrawarta.com — ‘”Nuthuk”, istilah tersebut bagi orang Jawa lebih banyak bermakna negatif. Bisa dikaitkan dengan hal-hal berbau asusila tetapi bisa juga sebagai ungkapan kelakuan pelaku usaha yang ”memeras” konsumen. Ini terjadi di berbagai kota, bisa jadi seluruh Indonesia, termasuk Yogyakarta yang sudah dikenal sebagai daerah wisata.
Beberapa kali kasus nuthuk terjadi di daerah wisata, seperti Malioboro atau Kawasan Pantai Selatan. Biasanya, parkir atau kuliner. Pengunjung bakal digetok harga di luar nalar, misal parkir hingga Rp 100.000. Atau Harga makanan yang juga mencapai ratusan bahkan menyentuh jutaan.
Seperti yang belum lama terjadi di Kawasan Pantai Selatan, Bantul. Pengunjung terkejut ketika usai makan bersama keluarga harus membayar lebih Rp 1 juta untuk menu yang wajar. Kabar tersebut langsung heboh di dunia maya. Netizen menghujat warung makan yang memanfaatkan liburan Lebaran dan menyasar wisatawan yang terlihat menggunakan mobil berplat luar DIY.
Banyak yang menyesalkan perilaku pemilik warung. Bukan sekali ini saja kejadian seperti itu, sudah sering bahkan selalu terulang. Juga parkir di Kawasan Malioboro yang boleh dibilang di luar nurul. Bayangkan, parkir sepeda motor Rp 5.000 sedangkan mobil mencapai puluhan ribu, kendaraan besar bisa di atas Rp 100.000.
Uniknya, ada pula yang mencoba memaklumi karena di tempat wisata dan pas berbarengan dengan libur Lebaran. Barangkali mereka yang memilki pandangan begitu berpikir, pengunjung atau konsumen selalu banyak duit. Wisatawan selalu orang kaya, begitu pola pikirnya.
Hari Nuthuk Nasional
Kejadian demi kejadian berulang di kawasan wisata Pantai Selatan. Ini juga sering terjadi, jalan-jalan dengan uang pas-pasan tapi ingin sekedar melepas lelah di pantai. Belum lama meletakkan pantat, tiba-tiba datang seseorang yang mengusir dan mengaku sebagai pemilik tempat.
Ada pula yang baru saja duduk di bangku yang jauh dari keramaian, datang orang menarik bayar. Duduk saja harus bayar di tempat yang kabarnya merupakan public space.
Itu selalu terulang, begitu juga harga makanan. Lebaran kemarin, seorang pengunjung mengeluarkan uang Rp 1,2 juta untuk makanan yang wajar. Hebat! Harga sebanyak itu kalau makan di hotel bintang lima atau di restoran kelas kakap bisa jadi wajar. Tapi ini di kawasan yang sebagian besar pengunjung merupakan rakyat kebanyakan.
Setelah heboh dan viral, pemilik warung menyatakan ada kesalahan penulisan. Ada saja alasannya. Ia lantas mengembalikan sebagian uang untuk pengunjung tersebut. Kebiasaan berbuat curang ternyata bukan hanya kelakuan koruptor dari kalangan elite. Masyarakat biasa pun melakukannya dari hal-hal yang kelihatannya sepele.
Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi mengatakan kasus itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan. Namun demikian pihaknya akan tetap melakukan pengecekan ke lokasi.
Di lahan parkir lebih ngeri lagi. Parkir motor misalnya, Rp 5.000 di sejumlah kawasan menjadi kebiasaan. Dan itu terjadi terus menerus tanpa ada tindakan dari aparat. Rakyat harap maklum karena kawasan wisata memang mahal.
Kebiasaan-kebiasaan tersebut di masa mendatang, kalau memang sudah mendapat pemakluman dari berbagai pihak, ada baiknya diresmikan agar masyarakat bisa memaklumi. Atau mungkin lebih afdol pada saatnya ada Hari Nuthuk Nasional sebagai pertanda mulainya kebiasaan baru ”memeras” orang lain di tempat wisata saat musim libur tiba.

Kartel Bunga Pinjol: Ketika Self Regulation Berubah Menjadi Pelanggaran Hukum Persaingan 