catrawarta.com — Pagi baru saja merekah di Jalan Malioboro, Sabtu (28/3/2026). Di tengah lalu lalang pejalan kaki dan wisatawan yang menikmati udara segar, suasana berbeda tampak di sisi utara kawasan pedestrian. Bukan sekadar aktivitas olahraga atau berjalan santai, puluhan orang duduk melingkar, menunduk serius di atas kertas menorehkan bentuk-bentuk aksara yang mungkin bagi sebagian orang terasa asing. Di sanalah kelas Sinau Aksara Jawa digelar, menjadi bagian dari program Setu Sinau.
Suara instruktur terdengar pelan namun jelas, membimbing peserta mengenal huruf demi huruf, pasangan aksara, hingga sandhangan. Sesekali, peserta saling berdiskusi, membandingkan hasil tulisan, atau tersenyum ketika berhasil menuliskan bentuk yang benar.
“Belajar aksara Jawa bagi saya cukup sulit, tetapi karena ada sistemnya jadi lebih mudah dipahami,” ujar Cherry, mahasiswi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada asal Taiwan. Baginya, pengalaman ini bukan sekadar belajar bahasa, melainkan menyelami budaya yang baru.
Tak hanya anak muda, orang tua pun turut hadir, mendampingi anak-anak mereka. Septi, warga Krapyak, mengaku sengaja mengajak sang buah hati agar lebih dekat dengan budaya sejak dini. “Pembelajarannya menarik. Anak-anak jadi tidak bosan dan bisa lebih mengenal aksara Jawa,” katanya.
Kegiatan ini dipandu oleh komunitas Geber Jawa Semesta Mahardika, yang dengan sabar mendampingi peserta satu per satu. Di tangan mereka, aksara Jawa yang sering dianggap rumit menjadi lebih mudah dipahami, bahkan menyenangkan untuk dipelajari.
Inisiatif Dinas Kebudayaan Kota Yogya
Program Setu Sinau sendiri merupakan inisiatif dari Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Digelar rutin setiap Sabtu pagi, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kelas aksara Jawa, tetapi juga beragam pembelajaran budaya lain seperti menari, menggambar, bermain gamelan, hingga dolanan tradisional.
Melalui pendekatan yang interaktif, ruang publik seperti Malioboro tidak lagi sekadar menjadi tempat wisata, tetapi juga ruang belajar yang hidup. Pengunjung yang awalnya hanya melintas pun kerap berhenti, tertarik untuk menyaksikan dan ikut mencoba.
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, menegaskan pentingnya menghadirkan cara belajar yang dekat dengan masyarakat. Menurutnya, budaya akan tetap hidup jika dikenalkan dengan cara yang relevan dan menyenangkan.
Di tengah arus modernisasi, aksara Jawa mungkin sering terpinggirkan. Namun pagi itu di Malioboro, aksara-aksara kuno itu kembali menemukan ruangnya—ditulis, dipelajari, dan diwariskan. Bukan di ruang kelas formal, melainkan di jantung kota yang terbuka untuk siapa saja.
Dan dari goresan-goresan sederhana di atas kertas itu, sebuah harapan tumbuh: bahwa budaya tidak hanya dikenang, tetapi juga terus dipraktikkan dan dicintai.

Festival Balon Udara Wonosobo, Merawat Tradisi, Menggerakkan Ekonomi 