Catra Milenia, Warta

Stres Jangka Panjang Berbahaya, Seimbangkan Aktivitas dan Istirahat

catrawarta.com — Kelelahan mental jangka panjang yang biasa dikenal sebagai burnout, berdampak pada stres yang bisa membahayakan kondisi seseorang. Jangan anggap sepele...

Spesialis Kesehatan Jiwa, dr Rr Tesaviani Kusumastiwi Sp KJ.(Foto: ist)

catrawarta.comKelelahan mental jangka panjang yang biasa dikenal sebagai burnout, berdampak pada stres yang bisa membahayakan kondisi seseorang. Jangan anggap sepele karena efeknya bisa tak terduga, misalnya paling buruk mengakhiri hidup.

Ada yang menganggap burnout sebagai kelelahan biasa. Padahal, menurut dr Rr Tesaviani Kusumastiwi Sp KJ, burnout merupakan kondisi serius yang dapat mengancam kualitas hidup seseorang, secara fisik maupun psikis.

Ia menjelaskan, kelelahan dan burnout memiliki perbedaan mendasar yang kerap luput dikenali oleh masyarakat. Pada kelelahan, stresnya bersifat sementara dan bisa membaik dengan istirahat. Sementara burnout merupakan stres jangka panjang. Meskipun sudah beristirahat, tubuh tetap merasa lelah.

Tingkat Risiko Burnout

Selain dari durasi stres, perbedaan lain terletak pada tingkat risikonya. Kelelahan umumnya tidak menimbulkan dampak kesehatan yang serius, sedangkan burnout berpotensi memicu berbagai gangguan fisik maupun psikis.

Beberapa di antaranya adalah gangguan lambung seperti GERD, nyeri kepala, gangguan kecemasan, hingga depresi.

Menurut Tesaviani, tanda-tanda awal burnout sering kali tidak disadari karena individu cenderung menyangkal kondisi psikis yang dialami. Namun, tubuh justru memberikan sinyal melalui berbagai keluhan fisik.

”Bangun tidur tetapi masih merasa lelah, cepat capek meskipun melakukan aktivitas ringan, nyeri kepala atau otot, gangguan pencernaan, hingga gangguan hormonal seperti menstruasi yang tidak teratur, itu bisa menjadi tanda awal burnout,” paparnya.

Tidur Menjaga Kesehatan Mental

Dari sisi psikis, burnout ditandai dengan mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, mudah lupa, serta gangguan tidur. Kondisi ini banyak dialami mahasiswa maupun pekerja dengan tuntutan akademik dan beban kerja yang tinggi.

Ia menegaskan, tidur memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan mental. Burnout dapat mengganggu keseimbangan kimia dalam tubuh yang berdampak langsung pada kualitas tidur, sehingga tubuh gagal melakukan proses pemulihan secara optimal.

Sebagai langkah pencegahan, Tesaviani menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas dan waktu istirahat, serta antara tuntutan eksternal dan penghargaan terhadap diri sendiri.

”Jangan ragu untuk mengomunikasikannya kepada profesional, baik psikolog maupun psikiater, agar sumber burnout dapat dikenali dan ditangani secara tepat,” tandas Tesaviani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *