catrawarta.com — Tim gabungan dan Basarnas akhirnya menemukan seluruh penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport (IAT) mengalami kecelakaanmenabrak Gunung Bulusaruang. Proses evakuasi telah selesai dan tahapan pencocokan DNA sedang berlangsung.
Menurut Basarnas total 10 jenazah yang ditemukan tim lapangan. Sebanyak tujuh kantong jenazah diserahkan pada DVI Polri dan masih proses identifikasi. Tiga jenazah yang sebelumnya telah teridentifikasi sudah diserahkan pada pihak keluarga.
”Berdasarkan informasi dari KNKT, pesawat ATR 42-500 mengalami kecelakaan dugaannya karena adanya kesalahan navigasi terhadap medan di sekitarnya,” ungkap Dosen Fakultas Teknik UGM, Muhammad Agung Bramantya PhD.
Ia berpendapat kemungkinan besar penyebab kesalahan tersebut terjadi karena cuaca buruk berupa kabut tebal dan hujan deras. Kabut tebal mengakibatkan visibilitas pilot rendah dan lebih banyak mengandalkan instrumen navigasi dalam copilot.
”Beberapa sistem yang belum otomatis, memungkinkan adanya kesalahan interpretasi instrument ataupun adanya gangguan komunikasi dengan ATC,” jelasnya.
Penyebab Pasti Ada di Black Box
Ia menambahkan, dengan ditemukannya black box pesawat ATR 42-500 dapat diketahui penyebab kecelakaan. Flight Data Recorder dan Cockpit Voice Recorder sangat membantu untuk memahami kondisi sebenarnya pada pesawat.
Penyelidik dapat melihat kondisi penerbangan sekaligus mendengar situasi dan komunikasi di kokpit sebelum kejadian. Pembacaan black box membutuhkan waktu beberapa hari hingga dua minggu. Namun demikian, tetap membutuhkan analisis mendalam oleh pihak KNKT agar hasilnya benar-benar akurat.
Bramantya berharap ada evaluasi menyeluruh dari hasil analisis black box terhadap pesawat dan sistem penerbangan yang melingkupinya. Hasil analisis black box akan menjadi dasar ilmiah untuk menentukan rekomendasi keselamatan berikutnya.
Hal itu dapat dilakukan dengan memperbaiki prosedur navigasi dan pelatihan awak pesawat dalam menghadapi situasi ekstrem serta peningkatan teknologi mitigasi. Ia juga mengusulkan peningkatan sistem ATC, sistem pemantauan cuaca, pelatihan dan kelengkapan peralatan tim SAR untuk meningkatkan respons apabila ada kejadian serupa.

Refleksi 18 Tahun Soeharto Meninggal, “Kehidupan Pers Dibatasi” 