Catra Wisata

Lava Bantal Berpotensi Jadi Destinasi Wisata Edukasi Unggulan

Yogyakarta punya destinasi geologi purba yang unik. Geosite Lava Bantal di Berbah, Sleman, situs warisan geologi berusia puluhan juta tahun yang kini...

Group of people wading in a turquoise river among large gray rocks on a sunny day
WISATA: Pengunjung menikmati jernihnya air yang melintasi Lava Bantal, Sleman. (Sumber: dok DPRD DIY)

catrawarta.comBegitu banyak destinasi wisata di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tak hanya di kota, seluruh wilayah yang terdiri atas 1 kota dan 4 kabupaten memiliki destinasi unggulan. Masing-masing mempunyai karakter dan ciri khas yang berbeda. Kecuali destinasi wisata, sejumlah tempat juga bisa menjadi destinasi wisata edukasi misalnya Lava Bantal.

Lava Bantal merupakan situs geologi berupa lapisan lava yang umurnya diperkirakan puluhan juta tahun. Bentuknya bertumpuk-tumpuk menyerupai bantal sehingga diberi label Lava Bantal. Letaknya di kawasan Berbah, Sleman, tak jauh dari Kota Yogyakarta.

Keberadaannya di pinggir Sungai Opak menjadikan destinasi tersebut tampak eksotis. Mereka yang berkunjung biasanya bukan hanya masyarakat awan tetapi juga mahasiswa, peneliti, ilmuwan yang ingin mengetahui lebih jauh tentang Lava Bantal.

Belum lama, Komisi C DPRD DIY juga turun ke lapangan melihat dari dekat lokasi destinasi. Mereka mendorong penguatan infrastruktur dan tata kelola Geosite Lava Bantal Berbah sebagai bagian untuk mempercepat pengembangan Geopark DIY yang berkelanjutan.

Menurut Komisi C, langkah tersebut penting agar kawasan geosite tidak hanya menjadi destinasi wisata, tetapi juga mampu menjalankan fungsi edukasi dan konservasi secara seimbang.

Infrastruktur Kawasan Geosite

Anggota Komisi C, di bawah pimpinan Ketua, Nur Subiyantoro SI Kom melihat secara langsung kondisi infrastruktur pendukung kawasan geosite. Mereka sekaligus mengevaluasi pengelolaan kawasan agar sejalan dengan arah pengembangan Geopark DIY.

Beberapa aspek yang menjadi perhatian meliputi aksesibilitas, fasilitas pendukung, hingga tata kelola kawasan yang tetap mengedepankan prinsip pelestarian lingkungan.

”Keberhasilan pengembangan Geosite Lava Bantal tidak dapat bergantung hanya pada pembangunan fisik,” tandas Subiyantoro.

Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah kalurahan, masyarakat, dan pemangku kepentingan menjadi kunci menjaga keberlanjutan kawasan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.

”Pembangunan infrastruktur harus dilakukan secara terencana dan tidak mengurangi nilai geologi yang menjadi daya tarik utama,” imbuh anggota Komisi C DPRD DIY, Raden Inoki.

Ia berpendapat, pengembangan kawasan berbasis konservasi bakal memberi manfaat jangka panjang, sebagai destinasi wisata edukasi maupun upaya melestarikan warisan geologi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *