catrawarta.com — ”Palestina tidak hanya menghadapi pendudukan, tetapi strategi penggantian. Rakyat dipaksa untuk tunduk, didorong bermigrasi, atau dihabisi jika memilih untuk bertahan,” ungkap Presiden Al-Quds University, Palestina, Prof Dr Imad Abu Kishek.
Ia menyampaikan hal itu pada Guest Lecture bertema ”Life Under Siege: Resistance & Hope of Palestine” di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Ia memaparkan, kebijakan Israel terhadap Palestina telah bergeser dari sekadar pendudukan wilayah menjadi strategi sistematis untuk menggantikan keberadaan rakyat Palestina, khususnya di Yerusalem. Strategi tersebut tidak hanya menargetkan wilayah, tetapi juga identitas, kehidupan sosial, dan keberlangsungan rakyat Palestina.
Kebijakan Jangka Panjang
Konflik Palestina-Israel menurutnya tidak dapat dilepaskan dari desain sejarah dan kebijakan jangka panjang yang telah dirancang sejak awal abad ke-20. Menurutnya, Palestina hari ini tidak hanya menghadapi pendudukan militer, tetapi juga proyek penggantian penduduk yang berlangsung secara terstruktur dan berkelanjutan.
Strategi tersebut semakin menguat dalam beberapa tahun terakhir seiring menguatnya pemerintahan Israel yang berhaluan ekstrem dan religius. Hal itu menutup ruang kompromi dan membuat solusi dua negara semakin sulit diwujudkan.
Pasalnya, Palestina tidak lagi diposisikan sebagai wilayah yang diduduki, melainkan sebagai ruang yang hendak dikosongkan.
Yerusalam Pusat Utama Konflik
Imad melihat Yerusalem menjadi pusat utama konflik sekaligus target paling strategis dari kebijakan tersebut. Selain memiliki makna religius bagi tiga agama besar dunia, Yerusalem juga menyimpan kepentingan politik dan geopolitik yang sangat besar. Penguasaan atas kota suci dipandang sebagai kunci kendali kawasan.
Ia mengungkapkan, tekanan pada warga Palestina melalui berbagai cara, mulai dari pembatasan administratif, tekanan ekonomi, hingga kriminalisasi terhadap perlawanan sipil. Kondisi itu menjadikan Yerusalem sebagai ruang paling rentan sekaligus paling menentukan dalam dinamika konflik Palestina–Israel.Masjid Al-Aqsa, ia sebut sebagai simbol utama perlawanan dan identitas rakyat Palestina. Upaya penguasaan serta pembatasan akses terhadap situs suci tersebut kerap memicu respons kolektif masyarakat Palestina, yang memandang diri mereka sebagai penjaga Al-Aqsa dan Yerusalem.
Pusat Identitas dan Keyakinan
”Bagi rakyat Palestina, Yerusalem bukan sekadar kota. Ia adalah pusat identitas, keyakinan, dan martabat,” tandas Imad.
Ia mengajak civitas academica UMY untuk melihat persoalan Palestina secara lebih utuh dan mendalam. Konflik Palestina, tegasnya, tidak bisa dipahami semata sebagai konflik bersenjata, melainkan hasil kebijakan dan strategi politik yang terstruktur dan sistematis.
Pemahaman akademik yang kritis menjadi sangat penting untuk membaca dinamika Palestina di tengah arus informasi global yang kerap menyederhanakan persoalan dan mengabaikan akar struktural konflik.

AI dan Masa Depan Pelestarian Budaya Indonesia 