catrawarta.com — Tak banyak yang tahu, pidato pengunduran diri penguasa Orde Baru 1998 itu dia yang menyusun. Sebuah peran krusial di limit kekuasaan. Masuk gerbang reformasi, namanya tak pernah lepas dari lingkaran kekuasaan.
Dari Belitung Jadi Negarawan Agung
Lahir di Belitung 5 Februari 1956, Yusril Ihza Mahendra (YIM) dididik dalam lingkungan agama yang taat. Jejak leluhurnya berasal dari Johor, Pulau Penyengat dan Sumatra Barat. Ayahnya seorang aktivis Partai Masyumi, hal yang mendasari kiprah politik YIM dalam kurun yang lama. Aktif berorganisasi di dalam dan luar negeri membukakannya cakrawala dan membawanya ke jenjang pengabdian. Seorang advokat, akademisi dan politisi dengan jaringan kekuasaan yang kuat dan mapan.
Pada 1996 diminta Mensesneg Moerdiono untuk masuk Istana Negara. Dia dipercaya sebagai pembuat naskah pidato dan sudah 204 naskah dia susun untuk Presiden Soeharto. Kepakarannya di bidang tata negara nampaknya menjadi pertimbangan utama. Saat itu, selain dirinya yang masih muda, ada Prof Ismail Sunny dan Prof JE Sahetapy yang sering menjadi rujukan media massa terkait tata negara. Di akhir kekuasaan Soeharto, pada 17 Juli 1998 dia ditunjuk sebagai Ketua Umum Partai Bulan Bintang, kapal politik untuk keluarga Masyumi.
Orde Baru oleng. Sebagian besar menterinya mundur dipimpin Ginandjar Kartasasmita. Eskalasi demonstrasi membesar di berbagai kota. Upaya untuk buying time dilakukan Soeharto. Melalui YIM diundanglah beberapa tokoh bangsa, mulai Gus Dur sampai Cak Nun. Keluarlah ungkapan, “Ora dadi presiden ora patheken”. Pada masa injury time, YIM berada di samping Soeharto, sedang Amien Rais sudah pasang kuda-kuda di Gedung Dakwah Muhammadiyah bersama kelompok reformasi. Dan 21 Mei 1998 pagi, Soeharto pun harus turun dari jabatan yang dipegang sejak 1967.
Terbang Bersama Bulan Bintang
BJ Habibie dianggap kepanjangan tangan Soeharto sehingga dianggap musuh bersama oleh kelompok reformasi. Kesempatan untuk menggantinya hanya bisa dilakukan melalui Pemilu 1999. Sayangnya, suara kelompok reformasi tak sesuai harapan. Pemenangnya adalah PDIP, disusul Golkar, PKB, PPP, PAN, PKS, PBB. Gantian PDIP yang dijadikan musuh bersama oleh kelompok yang menamakan Poros Tengah di bawah kendali Amien Rais. Kunci ada di Golkar maka lobi pun dilakukan hingga Gus Dur menjadi presiden, Amien menjadi Ketua MPR, Akbar Tandjung menjadi Ketua DPR. YIM menjadi Menteri Hukum dan Perundang-undangan.
Sejak reformasi sampai saat ini, YIM tak pernah lepas dari kursi kekuasaan. Era Gus Dur, Megawati, SBY, sampai Prabowo. Pada periode Jokowi, YIM tak masuk kabinet karena salah satunya dukungan di parlemen dari PBB sangat kecil. Meskipun begitu, YIM loyal pada Jokowi. Harus diakui kemampuan YIM dalam soal kejelian menatap kekuasaan memang lebih menonjol. Dia mempunyai skill yang tak banyak dimiliki politisi lain. Saat itu, kita tahu YIM menjadi kuasa hukum pasangan Jokowi-Ma’ruf di persidangan MK. Tetapi nasib memang tidak membawa ke kursi kabinet.
YIM memang sebuah fenomena dalam konfigurasi politik tanah air. Di tangan suami Rika Tolentino Rato (Jepang-Filipina) ini bisa jadi ada kisah rahasia menyangkut para presiden kita beserta lingkarannya. Kelak, kita berharap YIM mau menuliskannya sebagai bagian sejarah. Bahwa dari Belitung bisa menjadi negarawan agung yang terbang bersama bulan bintang.

“Jogja Little Singapore” Mimpi Siang Hari atau Upaya Lari dari Persoalan Hakiki? 