Warta

Sekeluarga Meninggal di Tenda, Menunggu Autopsi

catrawarta.com — Polisi masih menunggu hasil autopsi yang belum keluar pada kasus sekeluarga meninggal di dalam tenda glamping di objek wisata Posong,...

Surgeons in sterile gowns and gloves arranging surgical instruments on a tray during a operation
AUTOPSI: Ilustrasi dokter melakukan autopsi.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comPolisi masih menunggu hasil autopsi yang belum keluar pada kasus sekeluarga meninggal di dalam tenda glamping di objek wisata Posong, Kledung, Temanggung, Jawa Tengah. Mereka yang meninggal, suami istri dan dua anaknya. Salah satu korban, Bagas Amar Hakiki, mahasiswa Sastra Prancis, UGM.

Dugaan kuat polisi menurut Kasat Reskrim Polres Purworejo, Iptu I Komang Mahendra Putra, keracunan gas portable. Namun tidak menutup kemungkinan keracunan makanan yang dibawa dari rumah. Jadi kemungkinan besarnya, racun sisa pembakaran karbon monoksida atau racun dari makanan.

Dugaan keracunan gas karena polisi menemukan tabung gas lebih dari 1 di dalam tenda. Ada dugaan, mereka datang pada Selasa (26/5/2026) malam sekitar pukul 21.30 atau 22.00 kemudian memasak di depan tenda. Mereka memasak atau membakar makanan yang dibawa dari rumah.

Menurut Mahendra, saat memasak menggunakan gas portable atau briket batu bara, asap sisa pembakaran masuk ke tenda karena pintu tidak ditutup. Setelah itu, alat dimasukkan terutama kaleng gas portable. Polisi menemukan kaleng gas memang ada di dalam tenda.

Usai memasak dan makan, mereka memasuki tenda kemudian menutup rapat pintu dan ventilasi karena cuaca dingin. Tenda yang tidak ada ventilasi sangat berbahaya, tidak ada sirkulasi udara. Lebih berbahaya lagi ketika ada sisa asap pembakaran dan tabung gas di dalamnya.

Posisi Tidur Rapi

Foto yang beredar memperlihatkan mereka tidur berjajar rapi, dua orang di atas dan dua di bawah. Polisi menemukan posisi telapak tangan korban dalam kondisi menggenggam kuat. Keracunan gas memang berbahaya karena tidak berbau, tidak berasa.

Korban akan merasa lemas, tidak berdaya lantas pingsan. Saat pingsan itulah mereka tak bisa bergerak sehingga kemungkina besar meninggal karena terus menghirup asap sisa pembakaran atau gas dari kaleng yang bocor.

Seseorang yang keracunan gas pada umumnya tidak memperlihatkan gejala ”memberontak” karena lemas. Beda halnya dengan keracunan makanan yang biasanya ada perlawanan tubuh yakni mual, muntah. Sisa muntahan makanan bisa terlihat di sekitar korban. Namun pada kasus tersebut tidak tampak sisa muntahan makanan di dalam tenda.

Kendati demikian, polisi minta masyarakat bersabar dan tidak berspekulasi mengenai meninggalnya seluruh anggota keluarga. Hasil autopsi bakal keluar sekitar 3-5 hari dari saat petugas forensic melakukan pembedahan. Hanya 1 anggota keluarga yang diautopsi, petugas memilih korban yang paling ”sehat” di antara lainnya.

Autopsi memberi gambaran ilmiah mengenai kematian mereka. Pendekatan keilmuan sangat penting dalam pengungkapan kasus terutama kematian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *