Warta

Rumah Disatroni, Aktivis Demokrasi Dapat Teror

catrawarta.com — Aktivis demokrasi yang sering bersuara kritis, Islah Bahrawi disatroni orang tidak dikenal selama 10 hari. Ia terpaksa memotret dan menampilkan...

Teror aktivis pro demokrasi islah bahrawi yang dapat teror di rumahnya sumber instagram islah bahrawi

catrawarta.comAktivis demokrasi yang sering bersuara kritis, Islah Bahrawi disatroni orang tidak dikenal selama 10 hari. Ia terpaksa memotret dan menampilkan sosok orang yang kerap hilir-mudik di depan rumahnya. Keluarga metras terteror dengan praktik semacam itu.

Kondisi yang nyaris sama terjadi pada era Orde Baru. Banyak aktivis yang setiap saat diawasi bahkan diteror oleh orang-orang tidak dikenal. Bahkan, aktivis masa itu mengungkapkan guyonan ”dinding pun bertelinga”, seakan apa saja yang mereka bicarakan dalam ranah pribadi juga bisa didengar oleh orang-orang tidak dikenal yang kemudian disebut sebagai intel.

Intel bukan hanya aparat. Mereka bisa tetangga atau malah keluarga sendiri yang membocorkan pembicaraan para aktivis. Kala itu, mereka harus ekstra hati-hati. Kondisi yang hampir sama kini terjadi. Pola-pola lama yang juga menimpa aktivis KontraS, Andrie Yunus yang disiram air keras oleh sejumlah aparat.

Islah Bahrawi dalam akun Instagram resminya menuliskan dalam 10 hari terakhir rumahnya serasa ”dikepung” oleh beberapa oknum. Ia menduga mereka adalah tentara. Mereka merekam siapapun yang yang beraktivitas di rumah dan menguntit ke mana pun ia pergi. Ini bentuk-bentuk terror yang membuat masyarakat tidak aman dan tidak nyaman.

”Mereka juga memetakan dan mempelajari setiap lekuk territorial di seputaran tempat saya tinggal. Mereka menyatroni rumah saya tanpa henti, dari pagi hingga pagi lagi,” ujar Islah dalam akunnya.

Tanya ke Tetangga

Tak hanya ”meneror” keluarganya. Orang-orang tidak dikenal tersebut juga menanyai tetangga sekitar. Mereka kerap menanyakan identitas keluarga Islah Bahrawi hingga rinci. Mereka juga mengatakan kepada para tetangga bahwa dirinya sedang diawasi dan ditandai. Ini juga bentuk teror kepada warga yang tidak ada kaitannya dengan Islah.

Menurut Islah, ini merupakan suasana Orde Baru yang telah lahir kembali. Memang, UU tentang itu sudah tidak ada tetapi ruhnya masih hidup dan dipraktikkan kembali. Ia merasa demikian karena sering melontarkan kritik pada militerisasi yang semakin kuat dalam masyarakat sipil.

”Saya sejatinya tak ingin bercerita soal ini kepada siapa pun. Bagi saya, ini bagian dari risiko perjuangan dalam menjaga amanat reformasi, demokrasi dan peradaban masyarakat sipil di Indonesia,” tegasnya.

Meskipun mendapat teror dan ancaman, ia menyatakan tidak akan pernah redup menyuarakan kebenaran. Intimidasi dan sejenisnya juga tak membuat dirinya bakal diam.

Situasi tersebut, jelasnya, bisa menimpa siapa saja yang bersuara kritis. Bisa jadi teror-teror semacam itu juga menimpa para aktivis yang selalu kritis terhadap kekuasaan atau sekelompok orang. Belum lama, ada pula influencer kritis yang mendapat teror dan kasusnya tak pernah terungkap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *