Warta

Muhammadiyah Produksi Infus Mandiri untuk Kebutuhan 130 Rumah Sakit dan 400 Klinik

catrawarta.com — Salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, Muhammadiyah melakukan terobsan guna memenuhi kebutuhan infus untuk pasien di 130 rumah sakit...

Healthcare professional in scrubs and mask prepares a syringe with a vial in a clinical setting
Ilustrasi infus untuk pasien rumah sakit.(Sumber: Freepik)

catrawarta.comSalah satu organisasi Islam terbesar di dunia, Muhammadiyah melakukan terobsan guna memenuhi kebutuhan infus untuk pasien di 130 rumah sakit dan 400 klinik. Mereka membuat pabrik produksi infus secara mandiri agar tak lagi tergantung dengan impor maupun produk pabrikan lain.

Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam keterangan kepada media menyatakan pabrik infus dibangun menggunakan alat dan teknologi dari Italia yang sudah terpercaya. Pemilihan tersebut berdasarkan pada pertimbangan kualitas serta ketahanan teknologi yang lebih unggul.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Muhadjir Effendy menjelaskan, peletakan batu pertama pabrik infus bakal berlangsung pada Mei 2026 di Mojokerto. Pabrik tersebut tidak hanya memproduksi cairan infus, tetapi juga alat kesehatan seperti jarum medis dan lainnya.

”Pengembangan lini bisnis merupakan bagian dari strategi Muhammadiyah untuk memperkuat sirkulasi ekonomi internal persyarikatan,” ungkap Muhadjir.

Kebutuhan Medis Sangat Tinggi

Ia menjelaskan, kebutuhan berbagai keperluan medis sangat tinggi. Muhammadiyah saat ini memiliki sekitar 130 rumah sakit dan lebih dari 400 klinik yang tersebar di seluruh Indonesia.

”Daripada membeli dari luar, lebih baik kita produksi sendiri agar bisa menekan biaya operasional rumah sakit Muhammadiyah. Kita ingin membangun sistem close loop di seluruh amal usaha,” papar Muhadjir.

Ditambahkannya, selain infus dan jarum suntik, Muhammadiyah juga merencanakan produksi berbagai alat medis sekali pakai lainnya. Namun, untuk saat ini belum mencakup produksi obat-obatan.

Kebutuhan Investasi Besar

Mengenai pembiayaan, pembangunan pabrik akan menggunakan skema investasi berbasis saham dari jaringan Rumah Sakit Muhammadiyah-Aisyiyah (RSMA). Ia mengatakan kebutuhan investasi cukup besar, terutama karena penggunaan teknologi dari Italia.

Muhadjir menjelaskan, teknologi pabrik langsung dari Italia. Meskipun mahal tetapi daya tahannya tinggi dan dari sisi kemasan juga lebih baik, sehingga berdampak pada efisiensi operasional.

”Teknologinya berbiaya tinggi, namun Muhammadiyah menargetkan produk infus yang dihasilkan tetap memiliki harga kompetitif. Hal ini sejalan dengan semangat bisnis Muhammadiyah yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan semata-mata keuntungan,” imbuhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *