catrawarta.com — Keberhasilan misi Artemis II yang membawa empat astronot mengelilingi bulan selama 10 hari hingga kembali ke bumi menandai babak baru eksplorasi antariksa global. Capaian tersebut bukan sekadar pengulangan sejarah, melainkan lompatan teknologi yang jauh lebih aman dan matang.
Dosen Departemen Fisika FMIPA UGM, Dr Dwi Satya Palupi mengungkapkan sistem penerbangan saat ini telah mengalami evolusi signifikan sejak era Apollo lima dekade silam. Evaluasi dari kegagalan masa lalu membuat fase krusial, seperti keluar-masuk atmosfer bumi, kini memiliki risiko yang lebih terkendali.
”Saya kira misi ke bulan merupakan lompatan besar dibandingkan era Program Apollo, karena sekarang teknologi sudah melalui banyak evaluasi dari kegagalan-kegagalan sebelumnya,” papar Dwi Satya Palupi dalam keterangan persnya kepada media.
Meski peluang pendaratan manusia di bulan semakin terbuka lebar, tantangan ekstrem masih membayangi. Ia menyoroti kondisi bulan yang tanpa atmosfer, fluktuasi suhu ekstrem, radiasi kosmik yang tinggi, hingga keterbatasan logistik pendukung kehidupan sebagai hambatan utama yang harus dipecahkan.
Kemajuan Ilmu Pengetahuan
Namun demikian, jelas Dwi, hambatan dipandang sebagai katalisator bagi kemajuan ilmu pengetahuan. Ia meyakini keterbatasan di luar angkasa justru akan memaksa para ilmuwan dunia untuk melahirkan inovasi teknologi baru guna memastikan keselamatan dan keberlangsungan hidup manusia di sana.
”Tantangan di luar angkasa justru akan mendorong penelitian-penelitian baru, agar manusia bisa sampai ke sana dengan selamat dan bertahan hidup,” jelasnya.
Momentum Artemis II menurutnya menjadi peluang strategis bagi Indonesia, khususnya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Kontribusi Indonesia dapat difokuskan pada penguatan teknologi kedirgantaraan, pengembangan satelit, serta efisiensi transmisi data yang kini menjadi kebutuhan vital nasional.
Dwi menekankan penguasaan teknologi bukan lagi sekadar impian, melainkan keharusan. Indonesia berpotensi besar menyumbangkan inovasi di bidang sains material, terutama dalam menciptakan komponen instrumen luar angkasa yang mampu bertahan di lingkungan ekstrem.
Kolaborasi BRIN dan NASA
”Teknologi kedirgantaraan, satelit, dan transmisi data sekarang bukan lagi hal yang tidak mungkin, tapi sudah menjadi kebutuhan yang nyata,” tegasnya optimistis mengenai kapabilitas peneliti dalam negeri.
Dwi berharap pemerintah memberi perhatian serius dengan memfasilitasi kolaborasi antara BRIN dan lembaga antariksa Amerika Serikat seperti NASA. Langkah tersebut krusial agar peneliti muda Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pemain kunci yang mampu bersaing di level global.
Dukungan yang dibutuhkan tidak hanya terpaku pada pendanaan, melainkan juga pada pembukaan akses riset internasional. Ia memandang perlu pembukaan akses kolaborasi agar peneliti muda Indonesia dapat terlibat langsung dalam riset antariksa.

‘Fast Track’ Terbukti Menjadikan Layanan Haji Lebih Tertata dan Efisien 