catrawarta.com — Presiden Prabowo Subianto membela penuh nasib petani dalam pidatonya saat menghadiri Panen Raya Serentak TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7) lalu. Prabowo Subianto bahkan menyindir tajam soal keluhan masyarakat yang menyebut harga beras mahal.
Menurutnya, mereka yang memberi kritik ini perlu melihat ke bawah dan terjun langsung ke sawah.
“Yang mengatakan beras mahal, suruh ikut tanam beras!” tegas Prabowo di depan prajurit TNI.
Menurutnya, harga beras yang mahal terasa senilai dengan perjuangan dan kerja keras petani yang langsung berhadapan dengan berbagai permasalahan di lapangan.
“Kalau petani beras enggak dapat penghasilan tinggi, suruh mereka tanam sendiri. Suruh tanam sendiri. Enak aja! Saya bangga dengan petani-petani Indonesia,” tandasnya.
Baginya, harga pangan tidak bisa cuma dilihat dari sisi konsumen saja. Ada kesejahteraan petani yang harus jadi prioritas agar produksi nasional tetap bisa digenjot.
Hasil dari program unggulan Prabowo soal swasembada ini, Indonesia memang menjadi produsen beras terbesar di Asia Tenggara. Bahkan berada di nomor empat dunia di bawah India, China, dan Bangladesh.
Daya tukar petani yang diukur Badan Pusat Statistika (BPS) melalui Nilai Tukar Petani (NTP) juga menunjukkan tren meningkat sejak bulan Januari 2026. NTP sendiri adalah rasio antara indeks harga yang diterima petani (dari hasil panen) dengan indeks harga yang dibayar petani (untuk biaya produksi dan konsumsi). Angka di atas 100 berarti petani mengalami surplus dan daya beli menguat.
Harga Beras Mahal
Kesejahteraan petani yang diklaim meningkat memang ada korelasinya dengan kenaikan harga beras di pasaran. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) I Gusti Ketut Astawa menyebut, tren kenaikan ini punya faktor pemicu. Salah satunya yakni harga Gabah Kering Panen (AKP) yang menurutnya kini sedang cukup tinggi.
Dia menyebut, cukup sulit menekan harga beras jika GKP telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET).
“Kalau GKP-nya di atas Rp7 ribu, harga beras memang tidak akan murah di eceran. Kita membuat asumsi HET tertinggi dengan GKP Rp6.500. Kalau di atas itu, agak sulit dengan harga eceran berasnya,” terangnya.
Dia menerangkan, di sini yang diuntungkan memang petani. Iklim harga yang tinggi menjadi kondisi nyaman bagi produsen petani untuk tetap melakukan produksi.
“Kalau kita ingin jadi negara produsen, swasembada, ini jelas positif. Karena harganya nyaman bagi petani, nyaman juga untuk mereka tetap berproduksi,” tambahnya.
Soal menjaga nasib petani sebagai produsen, Menteri Pertanian Amran Sulaiman menegaskan jika hal ini memang harus dilakukan.
“Kita sepakat dulu definisi mahal. In ikan kita harus berada di tengah. Harus menjaga petani produsen, 115 juta jiwa,” tegasnya.
Kondisi Daya Beli Masyarakat Kini
Di tengah tren positifnya program swasembada pangan yang digenjot Pemerintah dengan harga beras yang disebut mahal ini, ada sisi lain yang juga terasa paradoks. Kondisi daya beli masyarakat dalam negeri diklaim cenderung turun.
Hal ini terindikasi dari tingkat inflasi periode Juni 2026 yang meningkat dan diiringi pula oleh angka indeks keyakinan konsumen (IKK) yang menurun. Januari lalu misalnya, IKK di angka 127, Februari turun menjadi 125,2.
Lalu Maret 2026, IKK kembali turun menjadi 122,9. Di April sedikit naik menjadi 123, namun turun lagi di Mei menjadi 120.9.
Kondisi ini mengindikasikan jika masyarakat semakin pesimis terhadap kondisi ekonomi saat ini dan masa depan. Jika angkanya di atas 100, hal ini menandakan masyarakat masih merasa optimis. Sebaliknya, jika di bawah 100, maka masyarakat justru pesimis.
Penurunan angka ini jelas perlu menjadi perhatian pula di tengah gencarnya program swasembada pangan. Jika tidak, tren penurunan ini akan semakin parah dan masyarakat kian tak percaya dengan kondisi ekonomi dan pemerintahnya sendiri.
Pemerintah juga perlu terus mengendalikan inflasi dan menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi yang bisa menyeret naiknya harga barang-barang pokok, termasuk beras. Sehingga, bakal terjadi keseimbangan di sektor produsen dan konsumen di bidang pangan dalam negeri.

Pulung Gantung Bukan Penyebab Bunuh Diri di Gunungkidul 