Catra Budaya

Buk Renteng, Warisan Penjajah Yang Menghidupi Petani

catrawarta.com — Air jarang dipahami sebagai pengetahuan. Ia lebih sering diperlakukan sebagai sumber daya yang dihitung debitnya dan diperebutkan hak alirnya. Namun...

Selokan Van Der Wijck yang dikenal dengan Buk Renteng di Moyudan Sleman. Foto: M. Dhiyaul Haq

catrawarta.comAir jarang dipahami sebagai pengetahuan. Ia lebih sering diperlakukan sebagai sumber daya yang dihitung debitnya dan diperebutkan hak alirnya. Namun di Moyudan, barat Yogyakarta, air justru membentuk etika hidup. Buk Renteng—kanal yang telah melampaui satu abad usia—menjadi medium tempat pengetahuan itu bekerja secara nyata.

Masyarakat mengenalnya lewat keberfungsian. Air mengalir tepat waktu, sawah tidak menunggu. Buk Renteng bukan sekadar infrastruktur teknis, ada keyakinan bahwa alam dapat diajak bekerja sama selama manusia menjaga keteraturannya. Di sini, keteraturan bukan sekadar soal teknis, melainkan laku sosial yang disepakati bersama. Kanal ini dibangun dengan logika kekuasaan kolonial yang efisien dan terkontrol. Dalam lintasan waktu yang panjang, infrastruktur yang lahir dari dominasi itu ditransformasikan menjadi commons, milik bersama yang dirawat melalui kesepakatan sosial.

Cagar Budaya

Di sekitar Buk Renteng, pembagian air tidak hanya mengikuti prinsip hidrolik, tetapi juga nalar moral. Siapa menanam lebih dulu, siapa menunggu giliran, kapan air dilepas dan kapan ditahan—semua diatur oleh sistem yang telah berlangsung lama. Ketika air cukup, konflik mereda. Ketika air berkurang, solidaritas diuji.

Pengeringan kanal pada Oktober 2024 menjadi jeda yang menyadarkan. Fungsi yang selama ini dianggap biasa tiba-tiba terasa menentukan. Ketika air berhenti mengalir, kehidupan ikut melambat. Sawah mengering bukan hanya secara fisik, tetapi juga secara simbolik. Ada ketergantungan manusia pada sistem yang selama ini dianggap stabil. Di titik ini Buk Renteng memperlihatkan dirinya bukan sebagai benda mati, melainkan fondasi sosial yang menentukan ritme hidup. Yang menarik adalah relasi masyarakat dengan kanal. Buk Renteng dijaga karena fungsinya, bukan semata karena label cagar budaya.

Katahanan Pangan

Penetapan Buk Renteng atau Kanal Van der Wijck sebagai bangunan bersejarah menambah satu lapis makna administratif. Namun bagi warga, makna utama tetap terletak pada aliran. Selama air masih sampai ke sawah, sejarah dianggap hadir. Ketika air terputus, sejarah terasa absen—tak peduli setebal apa dokumen penetapannya.

Buk Renteng mengajarkan bahwa keberlanjutan tidak selalu lahir dari teknologi baru. Ia bisa tumbuh dari sistem lama yang dirawat secara kolektif. Di tengah wacana krisis air dan ketahanan pangan, kanal ini menawarkan pelajaran sederhana bahwa keadilan ekologis bermula dari kesediaan berbagi, menjaga ritme, dan menahan diri.

Air tidak pernah benar-benar diam. Ia terus mengalir, membawa ingatan, kerja, dan harapan. Buk Renteng hanya jalur, Manusialah yang menentukan apakah aliran itu menjadi sumber kehidupan atau sekadar saluran yang dilupakan.

Buk Renteng dibangun sekitar tahun 1909 sebagai bagian dari Selokan Van Der Wijck. Ia saluran irigasi yang dibangun oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda. Struktur ini dirancang pada masa pemerintahan Belanda untuk mengairi lahan pertanian luas, terutama perkebunan tebu dan sawah di wilayah Sleman (termasuk Moyudan, Minggir, Seyegan, Godean) hingga ke Sedayu di Bantul. Nama “Van Der Wijck” sendiri diambil dari Carel Herman Aart van der Wijck, seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang menjabat pada akhir abad ke-19.

Bangunan ini kini dikenal dengan sebutan Buk Renteng oleh masyarakat setempat karena bentuknya yang menyerupai serangkaian saluran air panjang yang berdiri di atas struktur melengkung, serta telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Selokan Van Der Wijck melintas Minggir, Moyudan, Sayegan Sleman DI Yogyakarta. Bangunan Belanda tahun 1909 kini jadi Cagar Budaya. Foto: M.Dhiyaul Haq

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *