Catra Milenia

Tragedi Buku & Pena di Nusa Tenggara Timur

catrawarta.com — Di selembar kertas lusuh, seorang anak sekolah dasar menulis perpisahan. Huruf-hurufnya sederhana, tidak rapi, namun jujur dan menyayat. Di samping...

Ilustrasi kasus anak SD di NTT bunuh diri.

catrawarta.comDi selembar kertas lusuh, seorang anak sekolah dasar menulis perpisahan. Huruf-hurufnya sederhana, tidak rapi, namun jujur dan menyayat. Di samping kalimat-kalimat itu, tergambar sosok kecil yang menangis—dirinya sendiri. Bukan ilustrasi tugas sekolah, melainkan bahasa batin seorang anak yang kelelahan menanggung rasa kecewa.

Anak itu berinisial YBR. Usianya terlalu dini untuk memahami arti putus asa, tetapi cukup dewasa untuk merasakan kekecewaan yang tak tertanggungkan. YBR menulis surat itu untuk ibunya, Mama Reti. “Mama galo zee,” tulisnya. (Mama pelit sekali).

Kalimat tersebut bukan tuduhan bernalar dewasa. Dengan bahasa polos anak itu sedang berusaha memahami keterbatasan hidup. Di baris berikutnya, nada surat berubah. Lebih lembut, lebih pasrah. “Mama baik sudah. Kalau saya meninggal, mama jangan menangis. Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya. Selamat tinggal, Mama.”

Tak ada amarah berlebihan. Tak ada ancaman. Yang ada justru permohonan agar sang ibu tidak bersedih. Sebuah paradoks yang menyakitkan. Seorang anak kecil mencoba menghibur orang dewasa, bahkan saat ia hendak mengakhir hidupnya.

Belum ada kepastian tunggal tentang pemicu tragedi ini. Namun kabar yang beredar menyebutkan kekecewaan YBR bermula dari permintaannya akan buku tulis dan pena yang tidak terpenuhi. Benda-benda kecil yang bagi sebagian orang nyaris tak berarti, tetapi bagi seorang anak adalah jembatan menuju dunia belajar—dan pengakuan bahwa mimpinya layak diperjuangkan.

Bahasa Anak, Luka Orang Dewasa

Anak-anak memiliki kepekaan emosional yang tinggi dan nalar yang kritis dengan caranya sendiri. Mereka mengekspresikan perasaan melalui tulisan dan gambar—sebagai protes, permohonan, sekaligus bentuk kreativitas. Kertas bagi mereka bukan sekadar alat belajar, melainkan ruang aman untuk bersuara.

Masalah sering kali tidak berhenti pada permintaan yang tak terpenuhi, melainkan pada cara keterbatasan itu disampaikan. Ketika orang tua—dalam tekanan ekonomi dan kelelahan hidup—menjawab dengan bentakan atau kekerasan, emosi anak dan orang tua saling berbenturan. Tak ada yang menang. Anak terluka, orang tua pun memikul penyesalan yang datang terlambat.

Padahal, anak-anak sejatinya mampu berempati. Mereka bisa menerima penjelasan tentang keterbatasan jika disampaikan dengan bahasa kasih, dengan perhatian, dengan upaya melihat dari sudut pandang mereka terlebih dahulu—sebelum logika dewasa dipaksakan masuk ke perasaan kecil yang sedang bergolak. Kepercayaan anak kepada orang tua itu rapuh. Sekali retak, yang tersisa hanyalah rasa bersalah dan kehilangan arah.

Negara yang Memberi Makan Perut

Ironis. Kita hidup di negeri yang mengklaim keberpihakan pada anak. Sekolah dasar disebut gratis. Program makan siang digulirkan. Perut anak diperhatikan. Namun buku dan pena tetap harus dibeli. Makanan tersedia di sekolah, tetapi alat untuk berpikir—untuk belajar, menulis, dan bermimpi—tak selalu terjangkau keluarga miskin. Negara memberi makan tubuh, tetapi belum sepenuhnya memberi makan otak, apalagi nurani.

Bagi keluarga yang hidup “hari ini untuk makan hari ini”, kasih sayang bukan tidak ada. Ia hanya sering tak sempat tersampaikan. Tak menemukan cara menjembatani harapan seorang anak kecil yang mungkin saat itu hanya ingin satu buku dan satu pena.

Tragedi ini bukan soal harga sepuluh ribu rupiah. Ia adalah akumulasi kekecewaan yang lama tertahan—tentang rasa bersalah yang pelan-pelan melucuti semangat dan daya hidup seorang anak. Tentang dunia yang terlalu berat bagi bahu kecil.

Selamat jalan, adik kecil. Semoga engkau berpindah ke dunia yang tak mengenal lapar dan keterbatasan. Dan semoga, di dunia yang kita tinggali hari ini, lebih banyak mata yang terbuka, telinga yang mau mendengar, dan tangan yang ringan membantu—agar tak ada lagi surat perpisahan yang ditulis dengan huruf anak-anak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *