catrawarta.com — Kampung Adat Kasepuhan Cipta Mulya baru saja dilanda musibah kebakaran hebat. Jauh sebelum ini, masyarakat Kasepuhan Cipta Mulya dikenal sebagai salah satu komunitas yang memiliki cara hidup berbeda dari masyarakat pada umumnya.
Mereka dikenal memiliki keteguhan prinsip hidup yang selaras dengan alam. Meski di tengah zaman yang serba cepat dan modern, namun masyarakat adat Kasepuhan Cipta Mulya justru memilih cara hidup yang sebaliknya.
Kasepuhan Cipta Mulya tak menimbun harta, tak menginginkan kecepatan, tak mengadopsi nilai yang berbeda dari ajaran leluhur.
Secara eksplisit, komunitas masyarakat di sana memiliki sejumlah aturan ketat yang menjadi dasar hukum adat dan harus dipatuhi bersama. Salah satunya soal aturan swasembada pangan yang menjadi sumber penghidupan utama mereka.
Mereka cenderung tidak diperbolehkan untuk menanam padi di sawah yang tersedia lebih dari sekali . Bahkan, mereka juga dilarang menjual padi, beras, atau bahkan nasi kecuali saat keadaan terpaksa atau bila hasil panen melimpah.
Meski terkesan ‘tertinggal’ dari masyarakat pada umumnya kini yang cenderung meningkatkan prdokutivitas lahan, namun demikianlah aturan dari Kasepuhan Cipta Mulya. Mereka lebih mengutamakan keseimbangan alam sebagai penyedia utama penghidupan setiap hari.
Alam dianggap suci dan perlu dirawat keseimbangannya, alih-alih dieksploitasi dan dianggap sebagai alat pemenuhan produktivitas saja. Dalam kurun waktu tertentu, ada ritual adat warisan leluhur yang masih rutin diadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap alam.

Sebut saja misal Upacara Adat Seren Taun yang bertujuan untuk memberikan rasa syukur kepada alam atas hasil panen yang diperoleh mereka dalam satu tahun. Ada juga ritual lainnya saat para warganya hendak menanam padi dan berbagai sayuran lainnya.
Bekerja di sektor pertanian juga cenderung membuat warga komunitasnya menjadi sosok yang hangat. Bertemu dengan banyak sesama warga dan menyapa bukan lagi pemandangan asing di sini.
Mereka juga dikenal memiliki gaya hidup yang intens saling peduli terhadap sesama. Hidup tolong menolong dan gotong royong masih kental dijalankan di kampung yang terasa istimewa ini.
Hal ini terwujud juga dalam pembangunan rumah-rumah adat di sini. Warga memilih tak membangun sekat atau pagar menjulang tinggi.
Rasanya, mereka telah memiliki kepercayaan penuh sesama warganya untuk tak melakukan hal negatif terhadap yang lainnya seperti mencuri. Setiap desain hingga kondisi rumah pun sama, tak ada yang menonjol atau pun juga paling buruk.
Mereka masing mempertahankan rumah tradisional berbentuk panggung. Temboknya pun bukan batu bata namun dinding kayu yang dipasang secara sederhana namun cukup kokoh menopang rumah dan seisinya. Soal atap, mereka juga memilih menggunakan ijuk.

Di balik wajah sederhana Kasepuhan Ciptamulya, hidup sebuah kearifan yang terus diwariskan dari leluhur kepada setiap generasi. Masyarakatnya memahami cara mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam di sekitarnya tanpa mengabaikan kelestarian, sehingga hubungan antara manusia dan alam terjalin dalam keseimbangan yang saling menjaga.
Hal-hal baik dari Kampung Adat Kasepuhan Cipta Mulya ini jelas terancam saat kebakaran hebat melanda dan menghanguskan puluhan rumah adat sekaligus warisan di dalamnya.
Kampung Adat Kasepuhan Cipta Mulya Dilanda Kebakaran Hebat
Seperti yang dilaporkan, kebakaran hebat melanda kawasan pemukiman Kasepuhan Ciptamulya, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, Sabtu (25/7) siang sekitar pukul 14.00 WIB kemarin. Kobaran api dengan cepat merembet ke tempat tinggal warga yang masih didominasi berupa rumah-rumah panggung tradisional berdinding kayu dan beratap ijuk.
Dari peristiwa ini, dilaporkan setidaknya 50 rumah ludes terbakar. Hingga kini, lebih dari 400s orang dikabarkan kehilangan tempat tinggal.
Nahasnya, hampir tak ada barang miliki warga yang berhasil diselamatkan. Hal ini seperti yang dikonfirmasi Bupati Sukabumi Asep Japar saat meninjau lokasi, Sabtu malam.
“Menurut pendataan sementara, ada 51 rumah yang terbakar. Sebanyak 70 kepala keluarga terdampak, dengan jumlah warga lebih dari 400 orang,” terang Asep.
Diduga, percikan api pertama kali terlihat di fasilitas MCK umum yang berlokasi di pinggir pemukiman dekat Rumah Gede. Api ini diduga terjadi lantaran korsleting listrik yang beberapa saat kemudian menyebabkan kobaran yang dengan cepat merembet ke pemukiman. Embusan angin hingga posisi rumah yang dianggap terlalu berdekatan memicu kobaran api yang dengan mudah meluas dalam waktu singkat.
Meski dmeikian, hingga kini penyelidikan dari pihak berwenang masih terus dilakukan untuk mengungkap penyebab pasti dari kebakaran yang melanda.

Viral Dugaan Diskriminasi Bali Silent Disco, Dua WNA Belanda Dideportasi 