catrawarta.com — Konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel dilaporkan meluas ke kawasan Teluk. Sejumlah negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) terdampak aktivitas serangan rudal dan drone dalam eskalasi terbaru yang terjadi akhir Februari 2026.(1/3/2026)
Mengutip laporan sebuah media, Iran disebut menyerang hampir seluruh negara Teluk, dengan Oman sempat dinilai sebagai satu-satunya negara yang relatif aman dalam gelombang awal serangan tersebut. Situasi ini menandai perluasan signifikan konflik yang sebelumnya terpusat pada Iran dan Israel.
Sejumlah laporan media internasional seperti Reuters juga menyebutkan adanya peningkatan aktivitas pertahanan udara di beberapa negara Teluk menyusul lintasan proyektil dan ancaman keamanan di wilayah udara mereka. Negara-negara seperti Uni Emirat Arab, Qatar, dan Bahrain meningkatkan kewaspadaan serta memantau potensi dampak lanjutan terhadap infrastruktur strategis.
Konteks geopolitik kawasan memperumit situasi. Beberapa negara Teluk menjadi tuan rumah pangkalan militer Amerika Serikat. Dalam perspektif Teheran, keberadaan aset militer asing tersebut dianggap sebagai bagian dari lanskap strategis konflik. Sementara bagi negara-negara Teluk, posisi mereka berada di antara rivalitas kekuatan besar yang terus meningkat.
Oman, yang selama ini dikenal sebagai mediator diplomatik antara Iran dan Barat, disebut relatif tidak terdampak dalam fase awal. Peran Muscat sebagai jembatan komunikasi regional membuat posisinya berbeda dibanding negara-negara Teluk lainnya.
Ancaman terhadap Selat Hormuz dan Energi Dunia
Meluasnya konflik ini memicu kekhawatiran terhadap stabilitas energi global. Kawasan Teluk merupakan pusat produksi minyak dan gas dunia, dengan jalur distribusi utama melalui Selat Hormuz.
Menurut data U.S. Energy Information Administration (EIA), sekitar 20 persen perdagangan minyak dunia melewati Selat Hormuz setiap harinya. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak global serta meningkatkan premi risiko pengiriman kapal tanker.
Negara-negara importir energi besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan sangat bergantung pada pasokan dari kawasan ini. Eskalasi konflik berpotensi menekan stabilitas pasar energi internasional dan memicu dampak lanjutan terhadap inflasi global.
Selain minyak, Qatar sebagai eksportir utama gas alam cair (LNG) dunia juga menjadi faktor penting dalam rantai pasok energi global. Ketidakstabilan keamanan kawasan dapat memengaruhi distribusi LNG ke pasar Asia dan Eropa.
Risiko Regional yang Meluas
Pengamat hubungan internasional menilai perluasan konflik ke negara-negara Teluk meningkatkan risiko regional secara signifikan. Selain implikasi militer, eskalasi ini berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi, perdagangan, serta kepercayaan investor di kawasan yang selama ini dikenal sebagai pusat energi dan keuangan global.
Hingga kini, belum ada indikasi resmi mengenai penutupan jalur pelayaran utama. Namun dinamika keamanan yang berkembang cepat membuat perhatian dunia tertuju pada kawasan Teluk sebagai titik krusial stabilitas global.
Eskalasi ini menunjukkan bahwa konflik tidak lagi terbatas pada dua atau tiga negara, melainkan mulai menyentuh arsitektur keamanan regional yang lebih luas. Jika ketegangan terus meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan di Timur Tengah, tetapi juga dalam peta ekonomi dunia.

Meskipun Ada Perjanjian Perdagangan, BPOM Berwenang Penuh Soal Izin Edar Produk Farmasi 