Warta

Indonesia Rentan Alami Lonjakan Penyakit Jantung hingga Kanker di 2045

Tahun 2045, Indonesia bakal punya bonus demografi. Namun juga bisa rentan mengalami lonjakan penyakit kronis.

Ilustrasi anak muda memegang dada saat merasakan sakit yang disebabkan penyakit kronis
Ilustrasi anak muda memegang dada saat merasakan sakit yang disebabkan penyakit kronis. (dok. Freepik/Dragen Zigic)

catrawarta.comBicara tahun 2045, Indonesia memang bakal menghadapi bonus demografi yang massif. Di masa mendatang ini, ada banyak generasi berusia produktif yang menjadi penduduk mayoritas di Tanah Air.

Meski terdengar merupakan kabar baik, nyatanya bonus demografi ini juga menyisakan bayang-bayang yang cukup menyeramkan. Indonesia juga rentan mengalami lonjakan penyakit kronis seperti gangguan kesehatan jantung hingga penyakit kardiovaskular lainnya.

Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Pengembangan Pelayanan Kesehatan Rujukan Kemenkes Yanti Herman. Dia menyebut, lebih dari 65 juta penduduk di RI tahun 2045 ini nantinya merupakan usia lanjut.

Ada peningkatan prevalensi usia lanjut dari angka 12 persen saat ini menjadi 20 persen di tahun 2045.

Sehingga, dia menilai, risiko terjadinya lonjakan kasus penyakit kronis ini juga bisa terjadi lantaran Indonesia juga mengalami perkembangan pesat di bidang demografi di tahun 2045.

“Sekitar 65 juta penduduk kita di tahun 2045 itu kebanyakan usia lanjut. Bisa diprediksi nggak, penyakit-penyakit kronis salah satunya tadi osteoarthritis, terus kanker-kanker prostat yang ke usia lanjut itu pasti akan meningkat juga,” tegasnya di Jakarta Pusat, Sabtu (18/7).

Guna menghadapi ini, dia mengaku jika Kemenkes bakal terus mengupayakan untuk meningkatkan kecanggihan dari alat kesehatan di RI, termasuk penggunaan robotic.

“Salah satunya pakai alat kesehatan yang teknologinya, yang kita pikirkan kan banyak bedah itu ya, yang teknologinya tidak menimbulkan sakit. Kebayang nggak, udah usia segitu?” ungkapnya.

Tak cuma Kemenkes, data mengenai risiko lonjakan penyakit kronis ini juga pernah disampaikan dalam penelitian bertajuk ‘Proyeksi Beban Penyakit Kardiovaskular di Indonesia hingga Tahun 2045’ oleh Muhammad Rizky Mangkuwidjaya dalam Journal of Information System for Public Health Universitas Gadjah Mada tahun 2025 lalu.

Dalam penelitian ini, ditemukan jika beban penyakit kardiovaskular di Indonesia memang akan mengalami peningnkatan hingga 2045. Meskipun terdapat potensi penurunan beban melalui pengurangan faktor risiko, namun pencegahan dan penanganan penyakit kardiovaskular melalui program intervensi risiko dilaporkan perlu dimaksimalkan.

RI Juga Harus Menghadapi Ancaman Kekurangan Dokter

Di sisi lain, Indonesia justru harus menghadapi ancaman serius perihal krisis tenaga kesehatan pada tahun 2045. Hal ini bakal terjadi jika Indonesia sendiri tidak menggenjot percepatan pendidikan profesi dokter dan dokter spesialis.

Hingga saat ini, Indonesia tercatat baru bisa mencetak sekitar 2.700 dokter spesialis per tahun, angka yang cenderung rendah disbanding negara lain dalam pendidikan dokter.

Hal itu seperti yang diungkap oleh Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, dan Hilirisasi Universitas Muhammadiyah Yogyarakta (UMY) Supriyatiningsih dalam laman resmi Kemdiksaintek RI.

“Jika Indonesia tidak bisa mengambil kesempatan untuk percepatan pendidikan dokter, maka pada tahun 2045 kita akan sangat kekurangan jumlah dokter, baik dokter umum, dokter spesialis, maupun subspesialis,” tegasnya, dikutip Sabtu (18/7).

Dia menilai, pecepatan ini bukan hanya soal perkara biasa. Namun, hal ini bisa menjadi strategi nasional untuk memastikan layanan kesehatan di seluruh daerah di Tanah Air merata dan berkeadilan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *