catrawarta.com — Polemik tentang pernyataan Seskab Teddy Indra Wijaya yang terkesan ”meremehkan” mantan diplomat Dino Patti Djalal mendapat tanggapan beragam. Sampai-sampai, Anies Baswedan memberikan kesaksian mengenai sosok diplomat karier tersebut.
Anies mengungkapkan dalam akunnya yang dimuat dalam persepsktiv.idn, mengerti dan mengenal Dino Patti Djalal. Ia menuliskan, ketika masih kuliah di UGM mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate berhadap dengan diplomat senior Ramos Horta.
Diplomat muda Indonesia tersebut tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah, jelas Anies, ia mengenal dan mendengar nama Dino Patti Djalal.
Ia menceritakan, ketika mengambil program doktoral di Illinois, sempat bertemu langsung dengan Dino. Sosok tersebut datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora pasca 9/11. Ia menangkap kesan diplomat itu sosok yang cerdas, artikulatif dan mampu menangani persoalan rumit dengan ketenangan diplomatic yang luar biasa.
Bukan Diplomat Karbitan
”Dino Patti Djalal bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat,” tandas Anies dalam akunnya.
Cerita berlanjut, karier diplomatik Dino sangat panjang merintis dari bawah. Kecintaannya pada Indonesia luar biasa, terlihat saat berdiplomasi dengan pihak lain. Ia menguasai substansi, rekam jejaknya teruji dan pengalamannya sangat luas.
Anies masih punya cerita. Ia menuturkan, pada tahun 2012 sebagai Duta Besat Amerika Serikat, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles. Ia mengumpulkan dan mempertemukan diaspora seluruh dunia.
”Saya termasuk yang ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh yang ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global,” tegasnya masih dari tulisan di akun media sosialnya.
Sejumlah netizen mengomentari hal itu, terutama yang menyebut istilah karbitan. Lihat saja akun chokiieey yang menuliskan ”Indonesia memang tidak kurang orang pintar…cuma kurang orang jujur, apalagi jujur dalam karir..maunya karbitan…keistimewaan melangkahi…sungguh contoh buruk pejabatan karbitan…apalagi pejabatan yang melanggar konstitusi…”

Menjelang 500 Tahun Jakarta, Budaya Betawi Hadapi Tantangan 