catrawarta.com — Tanggal 22 Juni 2026 menjadi momen penting bagi Kota Jakarta karena bertepatan dengan Hari Ulang Tahun ke-499. Tahun depan, ibu kota Indonesia tersebut akan memasuki usia emas 500 tahun, sebuah perjalanan panjang yang menyimpan sejarah politik, ekonomi, budaya, hingga dinamika sosial bangsa Indonesia.
Sebagai pusat pemerintahan dan denyut kehidupan nasional selama ratusan tahun, Jakarta menjadi ruang pertemuan berbagai suku, budaya, dan kepentingan. Di tengah perkembangan kota metropolitan yang terus bergerak modern, masyarakat Betawi sebagai penduduk asli Jakarta dinilai memiliki kontribusi besar dalam membentuk wajah Jakarta yang terbuka bagi siapa saja.
Budayawan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan karakter masyarakat Betawi sejak awal memang terbentuk dari budaya urban dan percampuran berbagai etnis yang datang ke Jakarta.
“Masyarakat Betawi menerima siapa saja yang datang untuk bekerja dan menetap di Jakarta. Budaya Betawi sendiri adalah gambaran masyarakat urban,” kata Yahya juga anggota Lembaga Kebudayaan Betawi, Selasa (2/6/2026).
Menurutnya, keterbukaan masyarakat Betawi terlihat jelas dalam berbagai ekspresi kesenian dan kebudayaan. Mulai dari Tanjidor, Gambang Kromong, tari Topeng, pencak silat, hingga kuliner khas Betawi yang sarat pengaruh multikultural.
“Budaya Betawi sangat kaya warna karena lahir dari pertemuan banyak budaya. Itu terlihat dari musik, tari, makanan, sampai cara hidup masyarakatnya,” ujarnya.
Yahya menilai hubungan antara Jakarta dan masyarakat Betawi ibarat dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Perkembangan Jakarta sebagai kota metropolitan tetap memiliki akar kuat pada budaya Betawi yang tumbuh sejak lama.
Ia menyebut keberlangsungan budaya Betawi hingga saat ini tidak terlepas dari kuatnya identitas masyarakat Betawi dalam menjaga tradisi mereka di tengah arus urbanisasi dan modernisasi. Namun di balik kemajuan Jakarta sebagai kota global, masyarakat Betawi juga menghadapi berbagai tantangan yang dinilai semakin serius, terutama dalam pelestarian bahasa dan budaya.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah semakin memudarnya bahasa Betawi di tengah dominasi bahasa Indonesia dengan dialek Jakarta. “Selama ini orang menganggap bahasa Betawi sama dengan dialek Jakarta, padahal berbeda. Bahasa Betawi berasal dari Melayu dan memiliki kekhasan sendiri. Sekarang perkembangannya sangat memprihatinkan dan hampir punah,” tegas Yahya.
Ia mengungkapkan banyak kosa kata khas Betawi yang mulai hilang dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Tidak hanya bahasa, perubahan gaya hidup modern juga membuat berbagai perlengkapan tradisional Betawi mulai ditinggalkan.
Menurutnya, berbagai alat dapur tradisional khas Betawi seperti dandang, pengaron, dan perlengkapan lainnya kini tergantikan oleh teknologi modern seperti rice cooker dan peralatan elektronik rumah tangga. “Ada sekitar 30 sampai 40 alat dapur khas Betawi yang sudah tergantikan teknologi baru,” katanya.
Untuk menjaga kelestarian budaya Betawi, komunitas dan lembaga kebudayaan Betawi telah mengusulkan pembentukan Lembaga Bahasa Betawi. Namun hingga kini, lembaga tersebut belum juga terealisasi.
“SDM sudah siap, tinggal realisasinya saja. Kami masih menunggu Surat Keputusan Gubernur. Lembaga ini penting untuk menjaga bahasa Betawi agar tidak hilang,” ujarnya.
Selain pembentukan lembaga bahasa, Yahya juga mendorong agar bahasa dan budaya Betawi masuk dalam kurikulum muatan lokal di sekolah-sekolah Jakarta. Menurutnya, pelajaran bahasa dan budaya Betawi perlu diperkuat agar generasi muda Jakarta tetap mengenal akar budaya daerahnya sendiri.
“Selama ini muatan lokal kalah dengan pelajaran lain seperti bahasa Inggris. Padahal budaya Betawi adalah identitas Jakarta,” katanya.
Ia juga mengingatkan pentingnya dokumentasi pengetahuan para maestro budaya Betawi yang masih aktif hingga saat ini. Banyak pengetahuan budaya yang masih tersimpan dalam ingatan para pelaku budaya dan belum dituangkan dalam bentuk tulisan atau karya dokumentatif.
“Selama ini banyak pengetahuan hanya tersimpan di kepala para maestro. Kita tidak tahu kapan mereka meninggal. Karena itu pemikiran dan pengalaman mereka harus segera ditulis agar bisa diwariskan,” ujarnya.
Menurut Yahya, regenerasi budaya Betawi juga harus diperluas, tidak hanya pada seni musik dan tari, tetapi juga mencakup kuliner, fesyen, bahasa, hadroh, hingga nilai-nilai sosial kemasyarakatan Betawi. Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun, pelestarian budaya Betawi dinilai menjadi tantangan sekaligus tanggung jawab bersama agar identitas asli Jakarta tetap hidup di tengah modernisasi kota global.

Viral, Mantan Artis Jadi Umpan untuk Penipuan Daring 