catrawarta.com — Penghasil gas metana terbesar di dunia, salah satunya ternyata Indonesia. Di mana tepatnya? Tentu saja tempat dengan penghasil sampah terbesar, mana lagi kalau bukan sekitar Jakarta. Di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, di sinilah tumpukan sampah berton-ton masuk setiap hari.
Begitu banyaknya sampah di sana, Bantargebang sampai mendapat predikat TPST terbesar di kawasan Asia Tenggara sekaligus penghasil metana terbesar kedua di dunia setelah TPA Campo de Mayo di Buenos Aires, Argentina.
Bahkan, saking besarnya kedua tempat sampah itu, sampai tertangkap satelit Carbon Mapper sebagai produsen metana terbesar hingga mencapai lebih dari 6 ton perjam. Bayangkan, 6 ton perjam!
Berbagai kampus mencoba menelaah fenomena tersebut, termasuk laporan Emmett Institute, Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Lingkungan serta Perubahan Iklim, Fakultas Hukum University of California. Kampus merilis daftar nama 25 tempat pembuangan sampah dengan produksi metana terbesar di sepanjang tahun 2025.
”Kondisi lembap dan terbatasnya suplai oksigen menjadi lingkungan yang ideal bagi mikroorganisme penghasil metana,” ungkap pakar biorefinery limbah hayati, energi berkelanjutan, dan teknologi penghilangan karbon dioksida, Hanifrahmawan Sudibyo PhD, dalam rilisnya kepada media.
Peningkatan Suhu Bumi
Metana, paparnya, merupakan salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap peningkatan suhu bumi. Gas tersebut berasal dari penguraian bahan organik pada kondisi anaerobik atau minim oksigen, seperti pada timbunan sampah organik, kotoran hewan, sedimen rawa, maupun limbah industri pangan dengan kadar air tinggi.
Hanif menjelaskan pembentukan metana dilakukan oleh arkea metanogenik, yaitu kelompok mikroorganisme anaerob yang berperan pada tahap akhir penguraian bahan organik.
Dalam proses tersebut, senyawa organik kompleks terlebih dahulu diuraikan oleh komunitas mikroba lain menjadi senyawa sederhana seperti asam organik, hidrogen, dan karbon dioksida, yang kemudian dikonversi oleh arkea metanogenik menjadi gas metana.
Khusus pada TPA Bantar Gebang, saat terdapat tumpukan sampah organik dalam jumlah besar, akan terbentuk zona-zona yang minim oksigen, terutama pada bagian dalam dan bawah timbunan sampah. Kondisi lembap akibat air hujan, porositas yang rendah, serta terbatasnya sirkulasi udara menciptakan lingkungan yang ideal bagi aktivitas mikroorganisme anaerob, termasuk arkea metanogenik.
”Selama proses penguraian berlangsung, gas metana akan terbentuk dan dapat terlepas ke atmosfer apabila tidak dikelola dengan baik,” imbuh Hanif.

Merekonstruksi Cara Gen Z Belajar Sejarah 