Pena Catra

Tak Ada Jalan Lain di Puncak Selain Turun

catrawarta.com — Banyak orang berlomba-lomba menuju puncak. Ingin kaya, ingin berkuasa, ingin memiliki segalanya. Banyak cara dilakukan demi meraih tujuan. Injak bawah,...

Ilustrasi pena catra
Ilustrasi Presiden Soeharto, Mbak Tutut, dan Saadillah Mursyid. (Sumber: Catrawarta)

catrawarta.comBanyak orang berlomba-lomba menuju puncak. Ingin kaya, ingin berkuasa, ingin memiliki segalanya. Banyak cara dilakukan demi meraih tujuan. Injak bawah, sikut kanan, sikut kiri, jilat atas, bila perlu tendang yang coba menghadang.

Keinginan dan ambisi yang menggumpal dalam diri manusia menjelma menjadi motivasi hidup. Serupa bahan bakar, motivasi itu menggerakkan manusia untuk mengejar semua potensi dan peluang. Tak ada rasa malu, takut pun hilang. Etika dan moralitas itu urusan nanti, yang ada di depan mata adalah segera miliki apa yang orang lain tak punya.

Dalam perspektif yang lebih luas dan kompleks, itu bisa kita lihat pada kehidupan para pemimpin dunia. Bisa jadi jabatan dan kekuasaan itu pada mulanya, dipahami dan diterima sebagai amanah dimana sumpah dan janji harus diucapkan, tetapi begitu segalanya (bisa) didapatkan dari kekuasaan, motivasi dan orientasi mengalami perubahan.

Banyak tokoh dunia yang semula dipuja dan dihormati, harus jatuh sebagai seorang tiran yang dimusuhi dan ditumbangkan. Mobutu Sese Seko penguasa Kongo (1965-1997), Ferdinand Marcos presiden Filipina (1965-1986), atau Soeharto presiden Indonesia (1967-1998), adalah contoh pemimpin yang terjebak dalam kekuasaan yang dibangunnya sendiri.

Sebuah adagium mengatakan kekuasaan ibarat candu. Ia melenakan, adiktif dan mendorong pemiliknya ingin memilikinya selama mungkin. Godaan itu bisa datang dari keluarga, lingkaran dekat kekuasaan, jaringan lama seperti kesamaan asal-usul, atau karena balas budi. Merasa pernah dibantu saat masih kecil dan belum berpengaruh, termotivasi untuk membalas kebaikannya setelah kekuasaan dipegang. Hal yang sama juga dilakukan untuk penyokong kampanye dan pendukung setia.

Sebuah negara berbentuk kesatuan dan bercorak republik pun bisa menjelma menjadi seperti kerajaan. Sanak keluarga, handai taulan atau jaringan teman bisa ditata dan diberi di semua bidang kekuasaan, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Terbayang, bagaimana wajah dan isi media massa kita, seperti arisan keluarga.

Orang lupa bahwa kekuasaan itu dipergilirkan, mengikuti sunatullah atau hukum alam. Ada satu potongan ayat Alquran Surat Ali Imran ayat 26 yang selalu dibaca tokoh reformasi Amien Rais saat orasi atau berdiskusi sampai menjelang jatuhnya Soeharto, “Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai Allah, pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa yang Engkau kehendaki. Di tangan-Mu-lah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.

Ada sunrise ada sunset, semua mengikuti siklus alam. Sehebat dan sekuat apapun Firaun berkuasa dan menata kekuasaannya, sejarah juga menggulungnya. Lebih dari 3.000 tahun para Firaun (penguasa Mesir Kuno) mengendalikan politik, ekonomi dan agama, akhirnya takluk juga di tangan Kekaisaran Romawi. Begitu pun Kekaisaran Romawi, menyerah kepada Kesultanan Ustmaniyah.

Menjadi pelajaran bagi siapapun, tak ada larangan untuk menerima amanah dan kekuasaan. Tetapi bekali langkah kita dengan ilmu dan iman agar selalu terjaga dari tindakan yang salah. Pada 21 Mei 1998 Presiden Soeharto harus keluar dan menuruni tangga istana. Hanya ditemani puteri tercinta (Mbak Tutut) dan Sekretaris Kabinet Saadillah Mursyid. Berpuluh orang yang dulu melingkari dan meminta kekuasaan darinya pergi entah kemana. Tak ada jalan lain di puncak selain turun. Maka, waspada dan berhati-hati saat berada di puncak adalah langkah bijaksana.

Tetapi betapa tak mudah bangsa ini belajar (dari) sejarah. Kini, bangsa yang sama-sama kita cintai ini sedang tidak baik-baik saja. Rupiah sudah lebih dari Rp 17.000 per dolar AS. PHK sudah terjadi dan Presiden Prabowo Subianto masih tidak yakin bahwa langit makin gelap.
Wallahualam.

Ksatrian Sendaren, 21 Mei 2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *