Pena Catra

Haul Diponegoro di Zaman Oligarki

catrawarta.com — Haul merupakan tradisi budaya Jawa yang menyatu dengan nilai Islam. Ia menjadi sarana menghormati dan mengenang tokoh yang wafat, mendoakan...

Haul Pangeran Diponegoro di zaman oligarki

catrawarta.comHaul merupakan tradisi budaya Jawa yang menyatu dengan nilai Islam. Ia menjadi sarana menghormati dan mengenang tokoh yang wafat, mendoakan arwahnya, meneladani laku hidupnya, sekaligus mempererat silaturahim sosial.  Pangeran Diponegoro  meninggal 8 Januari 1855. Peringatan wafatnya patriot nusantara ini tidak layak berhenti sebagai seremoni. Haul harus dimaknai sebagai ruang refleksi kebangsaan.

Diponegoro adalah figur yang meletakkan iman sebagai fondasi perjuangan. Lelaki yang nama kecilnya Bandara Raden Mas  Mustahar ini taat beragama, mendalami Islam melalui bimbingan ulama, dan hidup sebagai santri yang tekun mengaji. Kedekatan  dengan para ulama dan santri membentuk cara pandangnya – melawan penjajahan bukan sekadar konflik politik, melainkan kewajiban moral. Karena itu, perlawanan yang ia pimpin dimaknainya sebagai perang sabil, perjuangan membela kebenaran dan keadilan.

Keimanan tersebut melahirkan keberanian dan ketegasan. Diponegoro sadar sepenuhnya risiko yang akan dihadapi ketika menentang Belanda. Namun ia tetap maju, memimpin perlawanan terbesar di Jawa. Keteguhan sikapnya tercermin ketika ia menolak tawaran kekuasaan dan posisi raja. Baginya, kekuasaan tanpa keadilan hanya akan menjauhkan diri dari nilai-nilai yang diyakininya.

Di sisi lain, Diponegoro adalah pribadi berilmu dan berwawasan luas. Pendidikan keraton membekalinya dengan pengetahuan sejarah Jawa, sastra, dan filsafat. Ia gemar membaca tanda-tanda zaman, memiliki nalar kritis, dan memahami bahwa penjajahan bekerja secara sistemik: merampas tanah, memiskinkan rakyat, serta merusak tatanan sosial dan budaya. Kesadaran inilah yang membuat perlawanan Diponegoro tidak elitis, tetapi berakar pada penderitaan rakyat.

Keberpihakan pada wong cilik menjadi ciri paling menonjol. Meski bangsawan dan anak raja, Diponegoro memilih hidup sederhana dan egaliter. Ia tinggal di luar keraton, membaur dengan rakyat jelata dan para ulama, merasakan langsung denyut kehidupan masyarakat. Sikap ini membuatnya dicintai dan didukung arus bawah. Ia hadir sebagai pemimpin yang dekat, bukan berjarak.

Diponegoro juga dikenal dermawan dan loma. Ia peduli pada kaum tertindas, membenci penjajahan, serta menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan. Nilai-nilai ini menjadikan haul Diponegoro relevan untuk dibaca ulang hari ini, ketika dalam satu dekade terakhir Indonesia kerap digambarkan berada dalam cengkeraman oligarki. Kekuasaan politik dan ekonomi terkonsentrasi pada segelintir  elite, sementara kebijakan publik sering kali abai terhadap kepentingan rakyat luas. Penindasan tidak selalu tampil kasar, tetapi hadir dalam regulasi, hukum, dan praktik ekonomi yang timpang.

Dalam konteks itu, pertanyaan penting muncul: mungkinkah sosok seperti Diponegoro hadir kembali di zaman milenial? Jawabannya tidak terletak pada menunggu figur tunggal, melainkan pada proses pembentukan karakter. Diponegoro adalah hasil didikan ulama: berilmu, berakhlak, dan berani. Maka, meneladani Diponegoro berarti menumbuhkan generasi yang kritis, berintegritas, berani bersuara, dan berpihak pada keadilan sosial.

Haul Diponegoro ke-171, 8 Januari 2026, seharusnya menjadi momentum kebangkitan kesadaran moral. Ia mengingatkan bahwa iman harus diwujudkan dalam sikap, ilmu harus melahirkan keberpihakan, dan kepemimpinan harus berpijak pada nurani. Di tengah penindasan politik, ekonomi, sosial, dan budaya yang kian kompleks, teladan Diponegoro menegaskan satu hal: melawan ketidakadilan adalah tanggung jawab etis, dan membela rakyat adalah kemuliaan tertinggi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *