Idea Catra

Sultan HB II Raja Tegas Penjaga Martabat Jawa

catrawarta.com — “Refleksi Kelahiran 7 Maret 2026 mempertahankan prinsip jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan kekuasaan” Pada suatu masa ketika kekuatan kolonial...

Ilustrasi Sultan Hamengkubuwono II. Sumber: Istimewa

catrawarta.com“Refleksi Kelahiran 7 Maret 2026 mempertahankan prinsip jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan kekuasaan”

Pada suatu masa ketika kekuatan kolonial Eropa mulai mencengkeram Nusantara, berdirilah seorang raja Jawa yang menolak tunduk. Ia bukan sekadar penguasa istana, melainkan simbol harga diri sebuah bangsa. Dialah Sri Sultan Hamengkubuwono II, raja Yogyakarta yang lahir pada 7 Maret 1750 dan wafat 3 Januari 1828. Dalam ingatan sejarah, ia dikenang sebagai Sultan Sepuh—pemimpin yang keras terhadap penjajah, namun lembut dalam mengayomi rakyat.

Di tengah pusaran kolonialisme yang perlahan menggerus kedaulatan kerajaan-kerajaan Nusantara pada akhir abad ke-18, Hamengkubuwono II tampil sebagai sosok yang teguh menjaga martabat Jawa. Baginya, takhta bukan sekadar simbol kekuasaan. Takhta adalah amanat untuk melindungi rakyat, menjaga tradisi, dan mempertahankan kehormatan negeri dari kesewenang-wenangan kekuatan asing.

Sejak naik takhta pada 1792 di Kesultanan Yogyakarta, Hamengkubuwono II langsung menghadapi tekanan politik dari kekuatan kolonial. Belanda dan kemudian Inggris berusaha memperluas pengaruh mereka hingga ke dalam urusan keraton.

Namun Sultan Sepuh memiliki prinsip yang tegas. Kerajaan Jawa tidak boleh diperlakukan sebagai bawahan kekuatan asing.

Hamengkubuwono  II menolak keras intervensi pemerintah kolonial Belanda yang dipimpin Herman Willem Daendels. Ketika kekuasaan kolonial berganti ke tangan Inggris di bawah Thomas Stamford Raffles, sikapnya tidak berubah. Ia tetap mempertahankan kehormatan kesultanan dengan penuh keberanian.

Bagi Sultan Hamengkubuwono II, aturan kolonial yang menempatkan residen Belanda setara dengan Sultan adalah penghinaan terhadap kedaulatan Jawa. Ia menolak protokol itu secara terbuka. Penolakan tersebut membuatnya berkali-kali berhadapan dengan kekuatan kolonial yang jauh lebih besar.

Sikap keras ini membawa konsekuensi berat. Ia diturunkan dari takhta, bahkan dibuang ke berbagai tempat seperti Pulau Penang, Ambon, hingga Surabaya. Namun pengasingan tidak pernah mematahkan keyakinannya. Ia tetap berdiri sebagai raja yang tidak pernah bersedia bekerja sama dengan penjajah.

Geger Sepehi Luka Sejarah Keraton

Puncak konflik terjadi pada tahun 1812 dalam peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Geger Sepehi. Pasukan Inggris menyerbu Keraton Yogyakarta, menangkap Sultan, dan menjarah berbagai pusaka serta kekayaan keraton.

Peristiwa ini menjadi salah satu tragedi paling pahit dalam sejarah Jawa. Keraton yang selama ini menjadi pusat kebudayaan dan simbol kedaulatan diperlakukan sebagai rampasan perang.

Namun dalam perspektif sejarah, tragedi tersebut justru mempertegas posisi Hamengkubuwono II sebagai raja yang tidak pernah mau berkompromi dengan penjajah. Ia lebih memilih kehilangan takhta daripada kehilangan martabat.

Hamengkubuwono II memahami bahwa mempertahankan kedaulatan tidak cukup hanya dengan kata-kata. Ia memperkuat kekuatan militer keraton secara serius. Ia membangun benteng Baluwarti untuk memperkuat pertahanan keraton, memperbaiki sistem keprajuritan, serta melengkapi persenjataan dengan meriam. Langkah ini menjadikan Keraton Yogyakarta tidak hanya sebagai pusat kebudayaan, tetapi juga benteng pertahanan politik.

Selain itu, Sultan juga membangun berbagai pesanggrahan kerajaan sebagai tempat peristirahatan sekaligus titik strategis kerajaan. Salah satu yang dikenal adalah Pesanggrahan Gembirowati di wilayah Gunungkidul.

Semua langkah tersebut menunjukkan bahwa Sultan Sepuh memiliki visi jauh ke depan menjaga kerajaan dengan kekuatan budaya sekaligus kekuatan pertahanan.

Spiritualitas yang Membentuk Ketegasan

Di balik karakter kerasnya, Hamengkubuwono II dikenal memiliki kedalaman spiritual yang kuat. Ia memadukan ajaran Islam dengan tradisi spiritual Jawa yang menekankan pengendalian diri, kebijaksanaan batin, serta tanggung jawab moral seorang pemimpin.

Bagi Sultan Sepuh, kekuatan seorang raja tidak hanya terletak pada pasukan atau senjata, tetapi pada kejernihan batin dan keteguhan prinsip.

Nilai spiritual inilah yang membentuk kepemimpinannya: tegas namun adil, keras terhadap penjajah namun penuh kepedulian terhadap rakyat. Ia memandang raja bukan sebagai penguasa absolut, melainkan pelindung

masyarakat. Kekuatan batin tersebut pula yang membuatnya mampu bertahan menghadapi tekanan politik dan pengasingan berkali-kali.

Warisan Sastra dan Budaya

Selain dikenal sebagai raja yang militan, Hamengkubuwono II juga meninggalkan warisan budaya yang penting. Ia menulis sejumlah karya sastra yang memperkuat identitas sejarah Kesultanan Yogyakarta.

Di antaranya adalah Babad Nitik Ngayogya dan Babad Mangkubumi, karya yang menuturkan sejarah berdirinya kerajaan serta perjuangan para leluhur Jawa.

Ia juga menggubah lakon wayang orang berjudul Jayapusaka dengan tokoh utama Bima. Sosok Bima dipilih sebagai simbol kejujuran, keberanian, dan ketegasan—nilai yang mencerminkan karakter Sultan Sepuh sendiri.

Melalui karya sastra dan seni tersebut, Sultan Hamengkubuwono II tidak hanya mempertahankan kerajaan secara politik, tetapi juga memperkuat akar budaya Jawa.

Pada masa tuanya, Hamengkubuwono II kembali naik takhta pada tahun 1826, ketika Jawa sedang bergolak dalam perang besar melawan kolonialisme yang dipimpin cucunya, Pangeran Diponegoro, dalam Perang Jawa.

Meski berada di bawah pengawasan Belanda, berbagai catatan sejarah menyebut bahwa Sultan Sepuh memberikan dukungan moral terhadap perjuangan Diponegoro.

Sikap ini menegaskan bahwa hingga akhir hayatnya, ia tetap berdiri pada garis yang sama: menolak kolonialisme dan menjaga martabat bangsa.

Teladan Pemimpin  Generasi Kini

Sultan Hamengkubuwono II wafat pada 3 Januari 1828 dan dimakamkan di Kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Yogyakarta. Warisan yang ia tinggalkan tidak hanya berupa bangunan, karya sastra, atau sistem militer. Warisan terbesarnya adalah teladan kepemimpinan.

Hamengkubuwono II menunjukkan bahwa keberanian mempertahankan prinsip jauh lebih berharga daripada sekadar mempertahankan kekuasaan. Bagi generasi masa kini—termasuk generasi Z—kisah Sultan Sepuh adalah pelajaran penting. Di tengah dunia yang bergerak cepat dan penuh tekanan, karakter, integritas, dan kekuatan spiritual tetap menjadi fondasi utama kepemimpinan.

Dari Hamengkubuwono II kita belajar satu hal sederhana namun mendalam. “Seorang pemimpin sejati tidak diukur dari lamanya berkuasa, tetapi dari keberaniannya menjaga kehormatan dan berpihak kepada rakyat.” ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *