Idea Catra

Kenapa Laki-Laki Boleh Marah di Tribun

catrawarta.com — Stadion bukan sekadar tempat menonton bola. Ia menjadi ruang pengecualian sosial, tempat kemarahan laki-laki dilegalkan dan fanatisme tumbuh sebagai pelampiasan...

Di balik yel yel dan fanatisme tribun stadion memberi izin sosial bagi laki laki untuk meluapkan amarah yang sehari hari ditekan oleh tuntutan maskulinitas
Di balik yel-yel dan fanatisme, tribun stadion memberi izin sosial bagi laki-laki untuk meluapkan amarah yang sehari-hari ditekan oleh tuntutan maskulinitas.

catrawarta.comStadion bukan sekadar tempat menonton bola. Ia menjadi ruang pengecualian sosial, tempat kemarahan laki-laki dilegalkan dan fanatisme tumbuh sebagai pelampiasan emosi yang tak tertampung di kehidupan sehari-hari.

Di kantor, laki-laki diminta profesional.
Di rumah, diminta dewasa.
Di jalan, diminta tertib.

Marah sedikit saja dianggap tempramental. Emosional. Tidak matang.

Tapi begitu masuk stadion, aturan itu mendadak gugur. Orang yang sama bisa berteriak sampai serak, memaki wasit, mendorong orang asing, bahkan nyaris baku hantam—dan semua itu dimaklumi. Tidak ditegur. Tidak dianggap memalukan. Justru dirayakan sebagai bukti loyalitas.

Seolah-olah ada izin sosial yang hanya berlaku di tribun.

Lalu pertanyaannya sederhana: kenapa laki-laki boleh marah di tribun?

Kita sering membicarakan suporter sepak bola dengan dua nada ekstrem. Mereka dipuji sebagai “pemain ke-12” yang setia, atau disalahkan sebagai “oknum perusuh”. Dua-duanya terlalu dangkal. Keduanya gagal melihat stadion sebagai ruang sosial yang punya aturan emosinya sendiri.

Stadion bukan cuma tempat menonton pertandingan. Ia adalah ruang pengecualian.

Di sana, identitas pribadi larut. Nama diganti warna jersey. Individu berubah menjadi massa. Teriakan tak lagi milik satu orang, melainkan ribuan tenggorokan. Dalam kerumunan seperti itu, kemarahan terasa aman—karena tidak lagi personal. Ia jadi kolektif.

Marah bersama terasa lebih sah daripada marah sendirian.

Semakin keras berteriak, semakin dianggap setia.
Semakin nekat, semakin dianggap jantan.

Fanatisme kemudian tampak seperti cinta berlebihan pada klub. Padahal sering kali yang bekerja bukan cuma soal bola, melainkan soal pelampiasan.

Banyak laki-laki—terutama dari kelas pekerja urban—nyaris tak punya ruang untuk mengelola emosi. Tekanan kerja, gaji pas-pasan, macet, cicilan, tuntutan keluarga, semuanya menumpuk. Tapi budaya maskulinitas kita tidak pernah mengajarkan cara bicara tentang takut, lelah, atau gagal.

Yang diajarkan hanya satu: tahan.

Laki-laki tidak boleh cengeng. Tidak boleh mengeluh. Tidak boleh terlihat rapuh.

Kalau pun ada emosi yang diizinkan, biasanya cuma satu: marah.

Itu pun harus punya panggung.

Tribun menyediakan panggung itu.

Dalam kajian sosiologi, konsep hegemonic masculinity dari R.W. Connell menjelaskan bagaimana masyarakat memproduksi model laki-laki ideal: kuat, dominan, agresif, tahan banting. Stadion, sadar atau tidak, mereproduksi model itu hampir tanpa kritik. Ia seperti laboratorium tempat agresivitas dianggap wajar, bahkan terhormat.

Di sinilah batas antara ekspresi dan kekerasan jadi tipis.

Makian dinormalisasi sebagai chant. Hinaan dianggap tradisi. Rivalitas diwariskan seperti dendam turun-temurun. Narasi “harga diri kota” dipanaskan terus-menerus. Dalam atmosfer seperti itu, satu provokasi kecil saja cukup memantik bentrokan.

Tapi setiap kerusuhan terjadi, kita selalu menyederhanakan: emosi sesaat.

“Terpancing.”
“Tidak terkendali.”
“Oknum.”

Seolah-olah semua itu spontan.

Padahal tidak ada yang spontan dalam budaya. Kekerasan juga dipelajari, diulang, dan dibenarkan bersama-sama. Jika sejak awal stadion dianggap ruang di mana agresi itu sah, maka bentrok hanyalah konsekuensi logisnya, bukan kecelakaan.

Ironisnya, publik seperti ikut berkompromi. Kita tahu tribun sering jadi tempat pelampiasan kemarahan, tapi kita memakluminya. Seakan-akan ada kesepakatan diam-diam: biarkan saja mereka meledak di sana, asal tidak di luar.

Stadion akhirnya berfungsi seperti katup pengaman sosial—tempat amarah dikumpulkan lalu dilepas sekaligus.

Masalahnya, katup semacam itu tidak pernah benar-benar menyelesaikan apa pun. Ia hanya memindahkan ledakan dari satu ruang ke ruang lain.

Sepak bola, pada akhirnya, cuma medium. Yang sedang dipertontonkan sebenarnya adalah krisis yang lebih besar: kita tidak pernah memberi laki-laki ruang aman untuk belajar mengelola emosi secara sehat. Tidak ada percakapan, tidak ada pendidikan emosional, tidak ada tempat untuk rapuh.

Yang ada hanya dua pilihan: diam atau meledak.

Dan tribun memberi izin untuk meledak.

Jadi, kenapa laki-laki boleh marah di tribun?

Barangkali karena hanya di sanalah kemarahan mereka tidak dihakimi—meski sering kali justru berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya.

Dan selama itu masih dianggap wajar, kita akan terus pura-pura terkejut setiap kali kerusuhan pecah, seolah-olah lupa bahwa panggungnya memang sejak awal dirancang untuk amarah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *