catrawarta.com — Di tengah arus materialisme yang kian menguat, ukuran keberhasilan manusia sering kali direduksi pada kepemilikan, harta, jabatan, dan gelar akademik. Kesuksesan dipersepsikan sebagai akumulasi capaian duniawi, seolah-olah hidup hanya soal “memiliki lebih banyak”. Namun, pendekatan semacam ini menyisakan persoalan mendasar, mengapa di tengah kelimpahan, banyak orang justru kehilangan ketenangan?
Realitas menunjukkan bahwa keterbatasan materi tidak selalu identik dengan kemiskinan batin. Sebaliknya, tidak sedikit orang yang hidup sederhana justru merasakan kecukupan yang mendalam. Di sinilah konsep barokah menemukan maknanya yang sejati.
Dalam ajaran Islam, barokah bukan sekadar bertambahnya jumlah, melainkan hadirnya nilai ilahiah yang menjadikan sesuatu yang sedikit terasa cukup, yang sempit terasa lapang, dan yang terbatas terasa luas. Barokah adalah kualitas spiritual yang melampaui logika kuantitas.
Al-Qur’an menegaskan:
“Barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”
(QS. At-Talaq: 2–3)
Ayat ini menegaskan bahwa rezeki tidak selalu berjalan dalam logika linear. Ketakwaan menghadirkan dimensi transenden yang membuka kemungkinan di luar kalkulasi rasional.
Dalam perspektif akademik, hal ini dapat dipahami sebagai mekanisme non-material causality, di mana faktor spiritual berperan dalam menentukan kesejahteraan manusia.
Hal senada ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad ﷺ:
“Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya hati.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini merombak cara pandang konvensional tentang kesejahteraan. Kekayaan tidak lagi dimaknai sebagai apa yang dimiliki, tetapi sebagai kondisi batin yang dirasakan. Dalam kajian psikologi modern, konsep ini beririsan dengan subjective well-being, yaitu tingkat kebahagiaan yang ditentukan oleh persepsi dan makna hidup, bukan semata oleh faktor eksternal.
Falsafah Jawa telah lama merumuskan prinsip ini melalui ungkapan: “ora nduwe opo-opo, neng opo-opo nduwe”—tidak memiliki apa-apa, tetapi sejatinya memiliki segalanya. Ungkapan ini mencerminkan kesadaran eksistensial bahwa kecukupan tidak selalu bersumber dari kepemilikan materi.
Sayangnya, arah perkembangan sosial saat ini justru menjauh dari kebijaksanaan tersebut. Generasi muda didorong untuk mengejar hasil secara instan, tanpa melalui proses yang mematangkan. Kenyamanan datang terlalu cepat, sementara ketahanan mental belum terbentuk. Akibatnya, tekanan kecil pun dapat mengguncang stabilitas hidup.
Fenomena ini sejalan dengan apa yang dalam kajian sosiologi disebut sebagai instant culture dan hedonic treadmill: kecenderungan manusia untuk terus mengejar kepuasan tanpa pernah benar-benar merasa cukup. Setiap capaian melahirkan keinginan baru, sehingga hidup terjebak dalam siklus tanpa akhir.
Dalam konteks ini, barokah menawarkan jalan keluar yang mendasar. Ia menggeser orientasi hidup dari sekadar akumulasi menuju kebermaknaan. Dari hasrat untuk memiliki sebanyak-banyaknya, menuju kemampuan untuk merasakan secukupnya.
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menekankan pentingnya qana’ah, yaitu sikap menerima dengan lapang apa yang telah ditetapkan Allah, tanpa kehilangan semangat untuk berikhtiar. Qana’ah bukanlah sikap pasif, melainkan keseimbangan antara usaha dan penerimaan.
Ketika orientasi hidup terarah pada nilai-nilai spiritual, beban kehidupan justru menjadi lebih ringan. Sebaliknya, ketika hidup sepenuhnya diarahkan pada kepentingan pribadi dan materi, kecemasan akan terus mengiringi.
Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukanlah “seberapa sukses seseorang?”, melainkan “untuk apa kesuksesan itu?”. Jika kesuksesan hanya diukur dari materi, maka tidak akan pernah ada kata cukup. Namun jika kesuksesan dimaknai sebagai keberkahan, maka sekecil apa pun yang dimiliki akan terasa besar.
Barokah menghadirkan ketenangan dalam kehidupan. Ia tidak menghapus masalah, tetapi menghadirkan jalan keluar. Ia tidak menghilangkan kekurangan, tetapi menghadirkan rasa cukup. Ia tidak meniadakan ujian, tetapi memberikan kekuatan untuk menjalaninya.
Pada akhirnya, hidup bukanlah soal seberapa banyak yang dikumpulkan, melainkan seberapa dalam makna yang dirasakan. Bukan tentang apa yang dimiliki, tetapi tentang bagaimana memaknai pemberian. Semua itu bermuara pada satu hal: keyakinan.
Keyakinan bahwa Allah Maha Kaya, Maha Mengatur, dan Maha Memberi. Keyakinan bahwa rezeki tidak akan tertukar. Keyakinan bahwa setiap usaha yang dilandasi niat yang lurus tidak akan sia-sia. Manusia hanya dituntut untuk berikhtiar dan menjaga niat. Selebihnya adalah wilayah ketetapan Ilahi. Sebab pada akhirnya, hidup yang baik bukanlah hidup yang penuh, tetapi hidup yang berkah.

BPR dan BPRS DIY Tunjukkan Ketahanan, Perkuat Peran untuk UMKM 