catrawarta.com — Karier politik seseorang, selain karena faktor kaderisasi dan rekrutmen, kadang juga ditentukan oleh nasib baik. Tidak ideal tak masalah. Soal kecakapan, tokh dengan mudah bisa mengambil tenaga ahli. Asal bernasib baik, mau bumi bergetar, tetap saja moncer dari rezim ke rezim.
Nasib baik itu, dalam konteks sejarah kontemporer, disediakan oleh Golongan Karya. Sejak berdiri 20 Oktober 1964, Golkar menjadi pilar utama Orde Baru. Bersendikan ABG atau ABRI (TNI), Birokrasi dan Golkar, Soeharto mampu mengendalikan kekuasaan selama 30 tahun. Ajaib bahwa setelah Reformasi 1998, dimana Golkar menjadi bulan-bulanan rakyat, dia tidak tenggelam dalam arus sejarah. Dengan tangan dingin Akbar Tanjung, Golkar menjadi partai, bahkan, penentu konstelasi politik nasional.
Golkar berkarakter fleksibel, elastis dan ramah kekuasaan. Trend kader Golkar naik jadi pejabat, tak terbantahkan. Cak Nun sampai membuat tulisan tentang gold car, kendaraan emas bagi siapapun yang mau naik ke jenjang kekuasaan. Tak terkecuali Bahlil Lahadalia. Tokoh muda asal Maluku yang tak pernah lepas dari kontroversi ini, termasuk di hadapan Presiden Prabowo, menarik diamati.
Ketua Umum Golkar yang terpilih 2024 ini tak saja mewakili karakter alamiah Golkar, tetapi juga, dengan 18% kursi parlemen, mampu menjadi lokomotif atas dinamika politik nasional. Harus berhitung bagi Presiden Prabowo Subianto jika ingin mengubah konstelasi kabinet dengan mengabaikan Golkar. Bandul politik nasional bisa goyah jika Bahlil, siapapun dia, diabaikan. Tradisi berkuasa ini build in dalam diri Golkar. Amien Rais dengan Poros Tengah boleh mengobrak-abrik konfigurasi politik saat awal Reformasi. Tetapi tak sekalipun dia meninggalkan Golkar.
Maka santai saja bagi Bahlil untuk menaikkan daya tawar di hadapan Prabowo. Mau di-bully atau di-rosting seperti apapun, Bahlil tak marah dan tetap tersenyum lebar. Bahlil amat paham gerbong yang dia pimpin tak akan diabaikan. Justru dengan kelenturan itulah, apapun makna kelenturan itu, Bahlil menjadi benteng atas permainan catur Prabowo. Tetap aman dan mengamankan, tahu bagaimana harus mengimbangi gerak sang ratu.
Dalam konfigurasi itu, tak perlu heran jika Presiden Prabowo, dengan suara bak roker, naik ke panggung Natal Bersama, Senin (5/1/2026) menyanyikan Sio Mama dan O Ulate. Dua lagu daerah Maluku yang notabene asal kelahiran Bahlil. Tahu kan apa maknanya? Diplomasi lagu efektif dijalankan Bahlil untuk meredakan ketegangan atas desakan publik pada kinerjanya, termasuk kemungkinan dimarahi presiden.
Cerdas juga Bahlil mengangkat lagu Sio Mama. Lagu yang mengisahkan kerinduan seorang anak di perantauan pada kasih sayang ibunya di kampung halaman itu menarik dimaknai. Pengorbanan Ibu terbayang di pelupuk mata, dan sang anak hendak pulang membalas segala kebaikannya. Jika Bahlil sedang di rantau dan ingin pulang, apa yang bisa dia berikan untuk Ibu Pertiwi yang sedang menangis?
Bahlil masih akan mengendarai gold car sampai 2029. Sempat digoyang secara internal, tetapi dia bisa berkelit dan selamat. Diserang publik pun tak membuatnya keder. Dia bisa jadi justru dipertahankan Presiden Prabowo Subianto. Bukankah dia perlu sparing partner yang memadai untuk menjaga konstelasi politik nasional agar tetap dinamis?

Bahlil Sering Jadi Bahan Candaan, Netizen Gunakan AI 