Idea Catra

Filosofi di Balik “Kosok Bali”

catrawarta.com — Dalam diksi bahasa Jawa, ada “Kosok Bali” yang menurut kamus diartikan sebagai tembung kang tegese lelawanan atau artinya berlawanan. Tetapi...

Ilustrasi kosok balen
Ilustrasi Kosok Balen

catrawarta.comDalam diksi bahasa Jawa, ada “Kosok Bali” yang menurut kamus diartikan sebagai tembung kang tegese lelawanan atau artinya berlawanan.

Tetapi setelah dilacak makna substansi dari “kosok” dan “bali” artinya bukan sesuatu yang kontra, berlawanan atau bahkan konflik yang ujungnya saling “mengalahkan”. Bahkan memakai ukuran baik-buruk, benar-salah, luhur-hina pun dalam “kosok bali” samasekali tidak.

Kosok” adalah diksi Jawa Kuna yang artinya dua sisi yang harus ada dalam satu ruang sama. Bisa berarti juga satu buah yang di”sigar” atau dipotong menjadi dua. Potongan yang satu dengan yang lain, tidak berbeda rasanya. Mungkin analogi yang lainnya adalah dua sisi dalam mata uang sama.

Bali” atau “Balen” artinya adalah pulang atau kembali ke tempat asal sesudah pergi atau mengembara. Setiap manusia ketika pergi akan pulang, bahkan merindukan peristiwa pulang.

Siapapun yang melakukan perjalanan untuk pergi, sejatinya ia dalam perjalanan “pulang”.

Pertanyaan yang paling indah ketika berada di perantauan atau jauh dari kampung halaman adalah: “Kapan bisa pulang?” atau “Kapan isa bali?”Kesimpulannya arti “Kosok Bali” atau “Kosok Balen” itu secara denotatif adalah pasangan dan bukan lawan atau mungsuh. Melainkan “Kosok Balèn” merupakan “Sigaraning Tetembungan“.

Peteng kosok balinè Padang Duwur kosok balinè Cendhèk Lanang kosok balinè Wadon Bungah kosok balinè Susah Awan kosok balinè Bengi Apik kosok balinè Ala Sehat kosok balinè Lara Urip kosok balinè MatiLan sakpanunggalè, dan masih banyak contoh yang bisa ditampilkan.

Kedua diksi yang kosok balèn, bukan lawan atau contrarium yang denotatif konotatif saling mengalahkan. Tapi berpasangan, yang mau tidak mau, menjadi keniscayaan yang harus ada dalam kehidupan serta saling mewarnai bahkan saling melengkapi.

Kalau kita berada dalam kegelapan malam, percayalah terang benderang nya siang juga akan kita alami. Demikian juga bungah susah, lanang wadon. Siapapun yang hidup pun satu saat akan mati.

Kalau ada adagium “bahasa menunjukkan bangsa”. Saya jadi merenungkan, ternyata bahasa Jawa, dengan filosofinya mencerminkan peradaban dan kehalusan budi manusia dan kebudayaannya.

Tugas kemanusiaan bukan menciptakan konflik, melainkan membangun harmoni. Bukan dengan merasa paling baik, paling benar dan paling luhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *