Idea Catra

Ali Khamenei, Buta Sabrang dan Dunia di Ambang

catrawarta.com — Syahid. Adakah kepulangan yang lebih indah selain dipanggil saat Ramadan, mempertahankan aqidah dan menjaga kehormatan sebagai pewaris nabi? Ayatullah Ali...

Pemimpin spiritual Iran, Ali Khamenei (Sumber: theguardian.com)

catrawarta.comSyahid. Adakah kepulangan yang lebih indah selain dipanggil saat Ramadan, mempertahankan aqidah dan menjaga kehormatan sebagai pewaris nabi? Ayatullah Ali Khamenei telah menunaikan tugas ketauhidan, peradaban, kemanusiaan dan kesalehan dengan amat sempurna.

Saat syahid menjadi ideologi yang mendasari dan melatari semesta kehidupan dengan penuh kehormatan, tak ada sama sekali rasa takut apalagi keder menghadapi perang dan penderitaan. Ideologi itu dia tanam dalam-dalam ke lubuk terdalam sanubari rakyatnya. Seorang anak tiba-tiba berlari dan mendekat di kursi saat Khamenei berpidato, hanya untuk satu tujuan: minta didoakan agar syahid. 

Ikatan keimanan yang begitu tulus. Teduh dan damai dilihat, tapi tak ada kecemasan dan ketakutan menghadapi skenario terburuk dampak dari sikapnya menentang kepongahan Amerika di bawah kendali Donald Trump. Tak terlihat sikap munafik apalagi merendah di hadapan Buta Sabrang. Mentalitas dan karakter yang dibangun Khamenei adalah lebah (An Nahl). Hidup dalam komunitas yang kuat, tak pernah jauh dari putik bunga kesucian, makan yang halal dan thoyib, memberi energi dan kekuatan sekuat madu, tetapi sekali diusik lebah tidak saja akan melawan tetapi juga mengejar lawan.

Akhir Februari 2026 dunia harus menyaksikan tragedi, bukan karena kematian imam mereka. Kematian seorang tokoh penting perjuangan Islam melawan kedzaliman dan kesewenang-wenangan. Khamenei gugur, rakyat berhamburan di jalan dalam tangis kesedihan, tetapi saat itu juga bara yang lama digenggam Khamenei menyala dan berkobar di seluruh Iran. Baca pesan Khamenei, “Jika Israel berpikir bahwa mereka akan menang dengan membunuh saya, itu adalah kesalahan”. 

Buta Sabrang di Gurun Gersang.

Jazirah Arab, muasal peradaban Islam, tengah lelap tertidur dalam buaian kapitalisme. Itulah tragedi yang sesungguhnya. Islam di ambang kehancuran karena melupakan pesan kesejarahan para nabi dan pewarisnya. Mereka, bangsa Arab tak lagi mempunyai dan memegang karakter sebagai bangsa gurun. Mereka ingin menikmati kebebasan, dan itu identik–atau dinanti–Amerika.

Uang dan kekayaan berlimpah dijadikan modal utama untuk memodernisasi kota. Gemerlap, bebas, dan karenanya, modern. Jauh di luar bawah sadar mereka, Amerika semakin dalam menancapkan kuku kekuasaan global. Ada delapan pangkalan militer AS di kawasan Jazirah Arsb, yakni di Bahrain, Mesir, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Terbayang, bagaimana sikap ke delapan bangsa itu terhadap konflik Iran vs Amerika dan Israel. 

Mereka ketakutan, berlari dan sembunyi saat saudara mereka, Iran, diserang Amerika. Tak ada lagi solidaritas bangsa Arab, apalagi Pan Arabisme. Semua, klaim historis yang menggelegar, sudah menjadi masa lalu dan mereka tak hendak mengabaikan dunia. Glamour, gemerlap, modern. Itulah antara lain yang menyebabkan kemarahan Iran hingga mengirim konvoi rudal ke kota-kota mereka. Bisa jadi dengan mudah mereka akan merekonstruksi bangunan gedung dan segala fasilitas modern, tetapi pelan-pelan mereka akan terhapus dari lembaran sejarah peradaban sebagaimana pernah dicatat dengan tinta emas para penghulu sejarah mereka.

Jauh hari sejak dilantik menjadi Presiden AS, Trump telah meletakkan Iran sebagai kekuatan yang tidak saja perlu diwaspadai tetapi juga dilumpuhkan. Pengaruh Iran, baik secara ideologis keislaman maupun solidarity maker, harus dibendung dan bila perlu dipotong. Orientasi politik luar negeri AS di Jazirah Arab tetap dalam rangka mengamankan cadangan energi minyak, terciptanya stabilitas kawasan demi kepentingan dalam negeri AS, dan tiada lelah mengangkat isu terorisme untuk menetralisir dan melemahkan potensi resistensi.

Bagaimana dengan Indonesia?

Cukup mengherankan bahwa bangsa dengan penduduk muslim terbesar di dunia ini terlalu tergesa-gesa melangkah. Narasi besar yang dibangun Trump dimakan begitu saja oleh Presiden Prabowo dengan menandatangani keanggotaan di Board of Peace (Dewan Perdamaian) yang di dalamnya bercokol Israel. Atas nama perdamaian di Jalur Gaza, Trump memobilisasi beberapa bangsa, termasuk Indonesia, dengan syarat harus membayar 16 triliun lebih.

Indonesia melupakan peran Bung Karno sebagai inisiator Gerakan Non Blok. Bersama Amerika menegasikan peran PBB. Politik luar negeri yang lama dibanggakan, dan sebagai rujukan bangsa-bangsa di dunia, bebas aktif pelan-pelan oleng ke blok Amerika. Kebimbangan terjadi saat Amerika bersama Israel melakukan agresi militer ke Iran. Indonesia di ambang perjalanan sejarahnya.

Pilihan terbaiknya, dengan tewasnya Ali Khamenei akibat serangan Amerika, Indonesia harus keluar dari BOP. Tak bisa tidak, inilah momentum penting bangsa besar ini agar tidak terseret dalam game Amerika. Presiden Prabowo tak boleh ragu memilih dan memilah teman diplomasi, harus ksatria dan bernyali menentang Trump. Taruhannya terlalu besar jika Indonesia berada di bawah ketiak Amerika. Indonesia bisa terlibat dalam perang dunia dan harus mem-back up kepentingan Amerika.

DPR perlu mengambil sikap dengan memanggil presiden untuk dimintai keterangan atas langkah politik luar negeri yang vivere pericoloso. Segenap ormas Islam harus berani tegak berdiri menasihati dan mengingatkan langkah presiden.  Bukankah jutaan muslim merasa prihatin dan sedih atas langkah politik luar negeri presidennya?

Bila tidak, nampaknya Asia Tenggara akan menyusul Jazirah Arab dijadikan pelampiasan nafsu Buta Sabrang untuk menguasai kekayaan alam dan tambang. Dan kemungkinan pecah Perang Dunia III sudah di ambang mata. Apalagi tentara Iran telah memblokasi Selat Hormuz yang menjadi urat nadi Eropa dan Amerika. Semoga bangsa ini segera siuman dari tidur panjangnya. Wallahualam (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *