Etalase

Pameran Bersama Empat Generasi Parade Seni dari Baby Boomers Hingga Gen Z

catrawarta.com — Pameran bersama seniman empat generasi bertajuk ‘Gen Parade, Art From Baby Boomer to Gen Z’ dihelat dari 1-10 Januari 2026...

Kolaborasi kreatif empat generasi seniman
Kolaborasi kreatif empat generasi seniman

catrawarta.comPameran bersama seniman empat generasi bertajuk ‘Gen Parade, Art From Baby Boomer to Gen Z’ dihelat dari 1-10 Januari 2026 di Hotel Burza Jogokariyan, Mantrijeron Yogyakarta. Sedikitnya 18 seniman dari senior hingga pendatang baru turut meramaikan pameran ini.

Owner Hotel Burza Francesca Landau mengatakan, pameran bersama ini, selain sebagai sumber pengetahuan juga untuk menjalin kolaborasi antar generasi. “Karena saat ini seperti ada jarak atau keterputusan antar generasi tersebut,” ucap Francesca Landau, Kamis (8/1/2026).

Banyak perbedaan visual dan tema yang diangkat para seniman yang dipengaruhi apa yang diserap setiap pelukis yang terlahir di zamannya. Namun kadang secara fakta bisa berkata lain. Iklim politik, sosial budaya, lingkungan hidup, selera seni, revolusi gadget, pendidikan. “Pasti banyak berpengaruh terhadap karya-karya mereka,” ujarnya.

Mengutip beberapa sumber Cesca menyebutkan, Generasi Baby Boomers (1946-1964), dengan karakteristik pekerja keras, mandiri, kompetitif, setia pada nilai-nilai tradisional atau konservatif. Dedikasi dengan pekerjaan, penyaksi perubahan teknologi dari analog ke digital, “Biasanya mereka adalah orangtua dari generasi X,Y dan Z. Suka mengkritik generasi muda namun sukar menerima kritik,” paparnya.

Sedang Generasi X (1965-1980) adalah generasi transisi dari Boomers ke Milenial. Pekerja keras, skeptis terhadap institusi tradisional, bersikap mandiri, pragmatis dan adaptif dengan situasi, tumbuh di era sebelum internet merajalela.

“Generasi Milenial/Generasi Y (1981-1996) tumbuh bersama internet awal, globalisasi, multitasking, dan media sosial pertama. Kemudian Generasi Z (1997-2012) sebagai Digital Natives”, sangat mahir teknologi, ahli multitasking, dan peduli isu sosial,” paparnya.

Seniman Hari Budiono (1956), Alie Gopal (1959), Totok Buchori (1959) dan Subandi Giyanto (1959) seniman yang terlahir pada masa Baby Boomers cukup konservatif dengan gaya masing- masing. “Hari Budiono dan Totok Buchori memegang teguh realisme (sosial), sementara Alie Gopal dan Subandi Gianto lebih bersetia dengan nafas dekoratif dan tradisi yang coba disegarkan dengan tampilan yang dinamis,” ungkapnya.

Lalu Susilo Budi Purwanto (1966) dengan surealis kontemplatif, Tommy Tanggara (1969) yang dekoratif eksotik, Edo Pop (1972) surealis psikologis, Made Toris Mahendra (1972) dengan spirit Moderen Hindu-Balinya dan Dedy Sufriadi (1976) yang konsisten mengolah abstrak urban sebagai generasi X.

“Milenial cukup banyak terwakili mulai dari Diana Roeayyah (1981) yang abstrak figuratif, Taufik Ermas (1984) dengan eksplorasi media dan permainan optisnya, Alfin Agnuba (1990) dengan teknik grafis non konvensional, Andi Acho Mallaena (1990) yang pop realis, Camelia Mitasari Hasibuan (1993) dan Reza Pratisca Hasibuan (1994) kebetulan kakak beradik dengan gaya pop surealis serta Aurora Santika (1996) dengan pop dekoratif.

“Komposisi ini sebenarnya dimulai dari generasi beranjak Milenial dan disudahi generasi mendekati Z. Jadi karya-karyanya masih menimbang perpindahan generasi sebelumnya dan sesudahnya,” katanya. Gen Z diwakili Rumondang (1998) dan Gabrielle Maria Anna (1999) menampilkan karya khas anak zaman sekarang, cenderung figuratif dengan warna-warna ringan dan segar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *