Idea Catra

Sultan Abdul Hamid II, Korban Propaganda Barat

catrawarta.com — Ada satu hal yang sering dilupakan saat kita membaca sejarah: yang kita tahu, belum tentu yang benar-benar terjadi. Kadang, itu...

Sultan abdul hamid ii
Sultan Abdul Hamid II.

catrawarta.comAda satu hal yang sering dilupakan saat kita membaca sejarah: yang kita tahu, belum tentu yang benar-benar terjadi. Kadang, itu cuma versi yang paling sering diceritakan.
Di akhir abad ke-19, Sultan Abdul Hamid II memimpin Kesultanan Utsmani di masa yang tidak mudah. Kekaisaran itu sedang melemah, wilayahnya terus tergerus, dan tekanan dari Eropa datang dari segala arah.

Tapi yang menarik, tekanan itu tidak hanya datang dalam bentuk perang. Ia juga datang lewat cara dunia melihat Utsmani. Istilah “The Sick Man of Europe” mulai ramai digunakan. Pelan-pelan, Utsmani dibentuk dalam narasi sebagai kekaisaran yang tertinggal, tidak stabil, dan menunggu runtuh. Sejarawan Eugene Rogan menjelaskan bahwa runtuhnya Utsmani bukan kejadian mendadak.

“Kekaisaran Utsmani runtuh melalui proses panjang—tekanan dari luar dan konflik dari dalam berjalan bersamaan,” tulisnya.

Bukan Sekadar Otoriter

Kalau baca buku sejarah versi Barat, Abdul Hamid II hampir selalu muncul sebagai penguasa otoriter. Ia membatasi pers, mengawasi oposisi, dan memusatkan kekuasaan. Semua itu memang terjadi. Tapi berhenti di situ saja bikin ceritanya jadi setengah.

Ia memimpin di saat:

  • Balkan mulai lepas satu per satu
  • Rusia menekan dari utara
  • Eropa masuk lewat utang dan diplomasi

Dalam situasi seperti itu, pilihan yang tersedia tidak banyak. Sejarawan Şükrü Hanioğlu menyebut kepemimpinannya sebagai bentuk bertahan hidup.

“Ia memerintah dalam kondisi krisis yang hampir terus-menerus,” tulisnya.

Jadi pertanyaannya bukan cuma: apakah dia otoriter? Tapi juga: apa pilihan lain yang benar-benar dia punya?

Palestina, Titik yang Tidak Ia Lepas

Salah satu bagian paling sering dibahas adalah sikapnya soal Palestina. Saat Theodor Herzl mencoba membuka jalan untuk pembelian tanah di wilayah itu, Abdul Hamid II menolak. Bukan karena sekadar politik. Tapi karena ia melihat wilayah itu sebagai bagian dari kekuasaan yang tidak bisa diperjualbelikan begitu saja.

Ada kutipan yang sering dikaitkan dengannya:
“Aku tidak akan menjual satu inci pun dari tanah ini…” Memang, redaksi pastinya masih diperdebatkan. Tapi arah sikapnya jelas—ia tidak membuka ruang untuk pelepasan wilayah itu.

Runtuhnya Bukan Hanya karena Lemah

Pada 1909, Abdul Hamid II dilengserkan. Tekanan dari dalam, terutama dari kelompok Young Turks, sudah terlalu besar. Di titik ini, banyak yang melihatnya sebagai tanda bahwa Utsmani memang sudah tidak mampu bertahan. Tapi kalau dilihat lebih dalam, ceritanya tidak sesederhana itu.
Ada tekanan militer, iya.
Ada konflik internal, iya.
Tapi ada juga perubahan besar dalam cara dunia memandang Utsmani.
Dan itu tidak kalah berpengaruh.

Sejarawan Erik J. Zürcher menekankan bahwa perubahan internal Utsmani selalu berjalan berdampingan dengan tekanan global yang kuat. Siapa yang Menguasai Cerita?

Di akhirnya, mungkin ini bukan cuma soal Abdul Hamid II. Ini soal bagaimana sejarah bekerja. Siapa yang menulis, siapa yang menyebarkan, dan siapa yang dipercaya—semuanya ikut menentukan bagaimana sebuah kekuasaan dikenang.

Abdul Hamid II bisa dilihat sebagai penguasa yang keras. Tapi juga bisa dilihat sebagai pemimpin yang bertahan di tengah tekanan yang tidak seimbang.

Dan di antara dua versi itu, selalu ada satu hal yang perlu diingat: bahwa propaganda tidak selalu terlihat seperti propaganda. Kadang, ia datang dalam bentuk cerita yang diulang terus-menerus— sampai akhirnya kita menganggapnya sebagai satu-satunya kebenaran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *