catrawarta.com — Menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi sorotan akhir-akhir ini. Pasalnya, belum ada kesamaan pemahaman pengelola bahkan sering kali terkesan asal-asalan.
Hal itu yang membuat banyak kritikan bahkan Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X pun memberi masukan. Ia mengatakan menu harus jelas, ada daftar dan mencantumkan harga agar tidak menimbulkan prasangka negatif masyarakat.
Sultan menekankan, pentingnya transparansi dalam penyediaan makanan, salah satunya dengan mewajibkan setiap paket MBG mencantumkan informasi kandungan gizi serta rincian harga komponen makanan.
Denga demikian, hal itu dapat memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada masyarakat mengenai nilai paket makanan yang diterima siswa sekaligus memastikan kualitas sesuai dengan aturan pemerintah.
Meningkatkan Gizi Anak
Pakar teknologi pangan, Prof Sri Raharjo mengatakan program MBG pada dasarnya memiliki tujuan baik karena berupaya meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah. Secara umum, gagasan menyediakan makanan bergizi merupakan langkah yang mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan.
Namun, menurutnya keberhasilan program tidak hanya ditentukan tujuan yang baik, tetapi juga sangat bergantung pada perencanaan kebijakan yang matang. Perencanaan mulai penentuan anggaran, penyusunan standar gizi, hingga mekanisme pelaksanaan.
”Tanpa perencanaan yang terstruktur, program yang memiliki tujuan positif berpotensi menghadapi berbagai tantangan dalam implementasinya,” tandas Sri Raharjo.
Menurutnya, salah satu aspek penting dalam pelaksanaan MBG yakni penetapan harga paket makanan yang diberlakukan secara seragam di seluruh Indonesia. Saat ini, paket MBG ditetapkan dalam kisaran harga sekitar Rp 10.000 hingga Rp 15.000 per porsi.
Ia menilai kebijakan harga yang sama untuk seluruh wilayah perlu pengkajian lebih mendalam, terutama jika dikaitkan dengan variasi kebutuhan gizi siswa pada jenjang pendidikan yang berbeda.
Misalnya, kebutuhan energi siswa sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas tidak sama sehingga perencanaan menu harus mempertimbangkan berbagai faktor pembeda.
Rantai Distribusi Makanan
Sri Raharjo juga menyinggung sistem pelaksanaan program yang melibatkan banyak pihak dalam rantai distribusi. Distribusi bergantung pada kemampuan pihak yang mengelola dapur produksi. Sementara pengolahan makanan dalam jumlah besar memerlukan pengalaman, keterampilan teknis, serta manajemen produksi yang baik.
Ia mengatakan, dapur yang sudah diisi oleh orang-orang yang memiliki pengalaman kerja biasanya dapat mempertahankan kualitas makanan. Tetapi jika pengelolanya belum terlatih menangani produksi dalam jumlah besar, risiko terhadap keamanan pangan dan nilai gizinya bisa lebih tinggi.
Karena itu, ia memberi masukan agar dalam seluruh proses melibatkan orang-orang yang sudah berpengalaman. Ini meminimalkan risiko seperti keracunan seperti yang sudah terjadi di berbagai daerah.

Ini Empat Pelabuhan Menuju Sumatra, Mudik Lebaran Bisa Lebih Lancar 