catrawarta.com — Di tengah perubahan pola hidup masyarakat perdesaan, tradisi gotong royong masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan petani kopi di Desa Pagar Gunung, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatra Utara.
Masyarakat setempat mengenalnya dengan istilah marsialapari, sebuah tradisi saling membantu mengerjakan ladang secara bergiliran yang telah diwariskan turun-temurun.
“Kalau sendiri jadi malas, kalau ramai jadi semangat,” ujar Umi Kalsum, petani kopi Desa Pagar Gunung, saat dihubungi catrawarta.com melalui sambungan telepon.
Umi bercerita, ia bersama empat petani lainnya tergabung dalam satu kelompok kerja. Mereka tidak hanya menggarap kebun milik sendiri, tetapi bergantian membantu kebun anggota kelompok lainnya.
“Kadang bekerja di ladang saya, besok di ladang teman. Kami bergantian terus. Itulah marsialapari,” katanya.
Dalam satu kelompok biasanya terdapat lima hingga enam orang. Sehari sebelum bekerja, mereka menentukan kebun siapa yang akan dikerjakan keesokan harinya. Setelah selesai di satu kebun, giliran beralih ke kebun anggota berikutnya hingga seluruh anggota mendapatkan bantuan yang sama.

Tradisi itu, menurut Umi, bukan sekadar cara mempercepat pekerjaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menjaga kebersamaan antartetangga.
Hal senada disampaikan Darman, petani kopi lainnya di Desa Pagar Gunung. Ia mengatakan marsialapari telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Mandailing sejak zaman nenek moyang.
“Ini sudah turun-temurun. Di kebun kopi kami bekerja bergotong royong. Ada yang memetik kopi, ada yang memberi pupuk, ada juga yang menyiangi rumput. Tidak harus semua mengerjakan pekerjaan yang sama,” ujarnya.
Menurut Darman, pembagian tugas dilakukan sesuai kebutuhan pemilik kebun sehingga pekerjaan menjadi lebih efisien.
Selama bekerja dari pagi hingga sore, para petani juga memiliki waktu-waktu istirahat yang telah menjadi kebiasaan. Sekitar pukul 09.00 mereka berhenti sejenak selama kurang lebih 30 menit untuk menikmati kopi dan makanan ringan sambil berbincang.
Kemudian pada pukul 12.00 mereka beristirahat untuk makan siang, menunaikan salat, dan melepas lelah sebelum kembali bekerja sekitar pukul 14.00.
“Intinya masyarakat di sini mengerjakan pekerjaan dengan gotong royong. Itu warisan dari orang tua kami,” kata Darman.
Bagi Zulkarnain, petani lainnya di desa tersebut, manfaat marsialapari tidak hanya dirasakan dalam urusan pekerjaan.
Ia menilai kebersamaan dalam kelompok membuat warga merasa lebih aman ketika bekerja di ladang yang berada cukup jauh dari permukiman.
“Kalau bekerja bersama tentu lebih aman. Kalau ada binatang buas atau orang asing masuk ke kebun, kami bisa saling membantu,” tuturnya.
Bukan Hanya di Mandailing
Tradisi serupa ternyata juga dikenal masyarakat Batak Toba, meski penyebutannya sedikit berbeda.
Sisca Lumbantoruan, warga Batak Toba yang kini tinggal di Kota Bekasi, mengatakan masyarakat Batak Toba mengenal istilah marsialadapari atau marsidapari.

“Namanya memang berbeda, tetapi maknanya sama, yaitu saling membantu mengerjakan ladang secara bergiliran,” katanya kepada catrawarta.com.
Menurut Sisca, setiap anggota kelompok telah menyepakati jadwal kerja.
“Hari Senin di ladang saya, hari Selasa di ladang anggota lainnya, begitu terus sampai selesai. Kalau dikerjakan bersama-sama rasanya lebih ringan dan lebih menyenangkan dibanding bekerja sendirian,” ujarnya.
Namun, semangat marsialadapari tidak berhenti di sawah atau ladang.
Sisca menjelaskan nilai gotong royong itu juga hidup dalam berbagai kegiatan adat, mulai dari pesta pernikahan hingga ketika ada warga yang meninggal dunia.
“Saat ada pesta pernikahan, warga datang membantu tanpa harus diundang. Ada yang memasak nasi, menyiapkan bumbu, memasak daging, sampai mencari kayu bakar. Semua dilakukan oleh tetangga dan warga sekampung,” katanya.
Tradisi tersebut dijalankan melalui perkumpulan persahutaon, yakni ikatan warga satu kampung yang tetap dipertahankan meski banyak anggotanya telah merantau ke berbagai daerah.
Bahkan, menurut Sisca, ketika ada warga Batak yang meninggal dunia di Kota Bekasi, anggota persahutaon akan segera datang ke rumah duka untuk membantu keluarga yang ditinggalkan tanpa perlu menunggu permintaan.
“Tradisi ini menjaga tali persaudaraan, solidaritas, dan rasa saling memiliki. Walaupun kami sudah tinggal jauh dari kampung halaman, nilai-nilai itu tetap kami pegang sampai sekarang,” pungkasnya.

Feri dan Jilul Inisiasi Kabinet Bayangan, Menghidupkan Tradisi Oposisi 