catrawarta.com — Badan warisan dunia UNESCO menilai Jepang masih perlu mengambil langkah lebih lanjut untuk menyajikan “sejarah secara utuh” (whole history) terkait Situs Warisan Dunia Tambang Sado, yang juga memiliki keterkaitan dengan mobilisasi buruh Korea pada masa penjajahan Jepang.
Rekomendasi tersebut tertuang dalam draf keputusan yang dirilis Komite Warisan Dunia UNESCO pada Rabu (16/7), setelah menelaah State of Conservation (SOC) Report atau laporan kondisi pelestarian yang disampaikan Pemerintah Jepang pada akhir tahun lalu. Informasi tersebut disampaikan Kementerian Luar Negeri Korea Selatan.
Saat menyetujui pencatatan Tambang Sado sebagai Situs Warisan Dunia pada Juli 2024, Komite Warisan Dunia UNESCO merekomendasikan agar Jepang menyampaikan seluruh sejarah tambang tersebut, mencakup seluruh periode aktivitas penambangan.
Dilansir dari Yonhap, menurut Kementerian Luar Negeri Korea Selatan, istilah “whole history” juga mencakup periode ketika lebih dari 1.500 warga Korea dimobilisasi untuk bekerja di Tambang Sado selama masa penjajahan Jepang di Semenanjung Korea pada 1910-945
Tambang Sado awalnya dikenal sebagai salah satu penghasil emas terbesar di Jepang. Namun, pada masa Perang Dunia II, kompleks pertambangan tersebut juga digunakan untuk memproduksi berbagai kebutuhan perang bagi tentara Kekaisaran Jepang.
Saat situs tersebut resmi masuk dalam Daftar Warisan Dunia UNESCO pada 2024, Pemerintah Jepang berjanji akan menyampaikan sejarah mobilisasi paksa pekerja Korea sesuai rekomendasi UNESCO.
Namun, dalam draf keputusan terbaru, Komite Warisan Dunia menilai upaya Jepang hingga kini masih belum memadai untuk menggambarkan sejarah tersebut secara menyeluruh.
Draf keputusan itu diperkirakan akan disahkan dalam Sidang ke-48 Komite Warisan Dunia UNESCO, kecuali ada keberatan dari negara-negara anggota. Meski rekomendasi tersebut bersifat mengikat dalam mekanisme tindak lanjut UNESCO, pelaksanaannya tetap bergantung pada komitmen negara yang bersangkutan sehingga belum dapat dipastikan sejauh mana Jepang akan mematuhinya.

Busan Declaration Jadi Sorotan
Selain isu Tambang Sado, sidang UNESCO juga diperkirakan akan membahas Deklarasi Busan (Busan Declaration).
Deklarasi tersebut mengusulkan penambahan prinsip “kolaborasi” sebagai tujuan strategis baru dalam implementasi Konvensi Warisan Dunia UNESCO.
Selama ini UNESCO memiliki lima prioritas strategis yang dikenal sebagai lima “C”, yakni credibility (kredibilitas), conservation (konservasi), capacity-building (penguatan kapasitas), communication (komunikasi), dan community (partisipasi masyarakat).
Usulan penambahan prinsip kolaborasi muncul seiring meningkatnya dorongan di lingkungan UNESCO untuk memperkuat kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan pelestarian situs warisan dunia yang semakin kompleks, termasuk dampak perubahan iklim.

Asal-usul Marga Kolopaking, Berawal dari Raja Mataram 