catrawarta.com — Berbicara mengenai sejarah, rasanya Indonesia ini tak pernah kehabisan sumber. Termasuk Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta yang turut memiliki jejak istimewa.
Salah satu lokasi yang mempunyai peninggalan bernilai sejarah ini adalah Situs Sokoliman di Padukuhan Sokoliman, Kalurahan Bejiharjo, Kapanewon Karangmojo.
Situs ini pertama kali ditemukan pada tahun 1934 dalam penelitian oleh JL Moens dan Van der Hoop. Dalam penelitian ini, kawasan situs tersebut diidentifikasi sebagai peninggalan penting yang memuat budaya dan tradisi masyarakat prasejarah di kawasan Gunungkidul dan sekitarnya.
Dalam penelitian lanjutan, Situs Sokoliman ini terungkap memiliki benda-benda megalitikum yang berasal dari zaman prasejarah. Beberapa di antaranya yakni waruga, arca, menhir, pecahan gerabah, hingga artefak logam.
Paniradya Pati Kaistimewaan DIY Kurniawan mengungkap, Situs Sokoliman yang berisi peninggalan itu merupakan simbol betapa istimewanya kawasan DIY dan sekitarnya. Situs ini disebutnya menyimpan banyak pembelajaran, terutama soal perkembangan kebudayaan masyarakat dari masa bercocok tanam hingga perundagian.
“Situs ini menunjukkan betapa DIY memang istimewa. Situs ini bisa menjadi sumber keilmuan, yang menunjukkan perkembangan kebudayaan masyarakat prasejarah dari masa bercocok tanam hingga perundagian,” jelas Kurniawan, seperti yang dikutip dari RRI, Kamis (16/7).
Di sisi lain, ditemukan pula beberapa batuan yang menyerupai menhir atau meja besar yang dianggap sebagai altar. Menhir ini berjumlah lima sehingga disebut sokoliman. Selain temuan berupa peninggalan batuan yang tersusun, di kawasan Sokoliman juga ditemukan sebuah goa purbakala.
Goa ini memiliki bentuk unik seperti beberapa batuan raksasa yang disusun sehingga menjadi rumah prasejarah. Di dekat situs goa purbakala juga terdapat sumur. Sumur tersebut yang menandakan adanya aktivitas hidup manusia pada masa itu.
Selaras Dengan Alam
Tak cuma menyimpan beberapa koleksi seperti yang disebutkan di atas, Situs Sokoliman ini juga merupakan punya kuburan prasejarah yang berbentuk kubur batu dengan batu-batuan lonjong dan lempeng batu menyerupai nisan.
Lokasinya terletak di lahan terbuka dataran Aluvial Cekungan Wonosari, tepatnya sebelah timur Sungai Oyo. Manusia purba yang mendiami wilayah ini diduga bermigrasi dari gua-gua karst di Perbukitan Gunung Sewu menuju kawasan terbuka di dataran aluvial Cekungan Wonosari.
Perpindahan ini didorong oleh kesadaran ekologis untuk mencari lahan yang lebih subur guna menunjang tradisi baru mereka, yaitu bercocok tanam. Terletak tepat di sebelah timur Sungai Oyo, wilayah ini menyediakan pasokan air tanpa batas, tanah yang subur dari endapan sungai, serta jalur transportasi alami.
Pada saat itu juga, masyarakat prasejarah dalam mendirikan bangunan megalitik sama sekali tidak merusak alam atau mendatangkan material asing, tapi justru memanfaatkan formasi batu kapur yang berada di sekitarnya. Batuan itu dipahat dengan tangan hingga menjadi peninggalan di masa kini.
Soal pangan bagi masyarakat prasejarah, alam bahkan bukan sekadar latar belakang tempat tinggal hingga mendapatkan makanan semata, melainkan entitas hidup yang keramat. Pendirian menhir raksasa seperti yang berukuran lebih dari 4 meter seolah menjadi simbol harmonisasi antara alam semesta dan manusia.
Peninggalan ini begitu jelas menggambarkan kondisi kehidupan dan kepercayaan masyarakat prasejarah kala itu. Menurut Kurniawan, area situs makam ini merupakan simbol dari terintegrasinya sistem kehidupan, kepercayaan, dan pemanfaatan ruang yang baik.
“Betapa mereka telah membangun sistem kehidupan, kepercayaan, dan pemanfaatan ruang,” katanya.
Dia menyoroti jika hasil terintegrasinya ketiga hal ini membuat kehidupan masyarakat prasejarah justru sangat selaras dengan kondisi alam sekitarnya.
“Dan hasilnya terlihat sangat selaras dengan kondisi alam sekitarnya,” tandas Kurniawan.

Rentetan Kasus Gudang Amunisi Meledak dalam Beberapa Tahun Terakhir 