Warta

Kemhan Hentikan Latsarmil SPPI usai 5 Peserta Tewas

Kementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghentikan pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil)

A man in a tan military uniform speaks into a microphone to a roomful of soldiers in camouflage with flags lined up in the background
Wakil Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Wamenhan RI) Donny Ermawan Taufanto memberikan pengarahan kepada para Peserta Pendidikan (Serdik) KDKMP-KNMP di Pusdiklat Kompetensi Bela Negara, Bogor, Selasa (30/6/2026). (Sumber: kemhan.go.id)

catrawarta.comKementerian Pertahanan (Kemhan) resmi menghentikan pelaksanaan Latihan Dasar Militer (Latsarmil) bagi peserta Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) dalam program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Keputusan ini diambil setelah lima peserta dilaporkan meninggal dunia selama pelaksanaan program.

Sebagai penggantinya, Kemhan mengubah konsep pelatihan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial dengan materi yang lebih berfokus pada pembentukan karakter dan kepemimpinan.

Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kemhan, Brigjen TNI Rico Ricardo Sirait, mengatakan perubahan tersebut merupakan penyesuaian mendasar terhadap pendekatan pelatihan.

“Kemhan melakukan penyesuaian pendekatan kegiatan. Terminologi dan pelaksanaan kegiatan saat ini diarahkan menjadi Latihan Pembekalan Bela Negara dan Manajerial, bukan Latsarmil,” kata Rico di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin telah menginstruksikan agar seluruh materi taktis dan teknis militer dihapus dari kurikulum, termasuk latihan menembak.

Dengan perubahan tersebut, pelatihan kini difokuskan pada pembentukan disiplin, karakter, kepemimpinan, kerja sama, serta peningkatan kemampuan manajerial peserta.

Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wata Pastia, mengatakan pihaknya juga memperketat prosedur skrining kesehatan dan penanganan medis bagi seluruh peserta.

Langkah tersebut dilakukan agar proses pembelajaran berlangsung lebih aman, edukatif, dan adaptif terhadap kondisi fisik maupun psikologis peserta.

Perubahan kurikulum ini menjadi evaluasi menyeluruh Kemhan terhadap pelaksanaan program SPPI setelah insiden yang menyebabkan lima peserta meninggal dunia. Pemerintah berharap pendekatan baru tersebut dapat meminimalkan risiko sekaligus tetap membentuk sumber daya manusia yang memiliki jiwa bela negara dan kemampuan manajerial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *