Catra Cendekia

Saat B.J. Habibie Memilih Rakyat

Mengapa Bacharuddin Jusuf Habibie dikenang bukan hanya sebagai ilmuwan dan teknokrat, tetapi juga sebagai negarawan.

Mengapa bacharuddin jusuf habibie dikenang bukan hanya sebagai ilmuwan dan teknokrat tetapi juga sebagai negarawan
Presiden RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie (dok B.J. Habibie)

catrawarta.comDi sebuah ruangan yang tenang di Perpustakaan B.J. Habibie, kawasan Patra Kuningan, Jakarta, pada 29 Juli 2019, tersimpan sebuah cerita yang menjelaskan mengapa Bacharuddin Jusuf Habibie dikenang bukan hanya sebagai ilmuwan dan teknokrat, tetapi juga sebagai negarawan.

Siang itu, rombongan Panitia Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus berkunjung menemui Presiden Ketiga Republik Indonesia tersebut. Saya ikut hadir dan duduk tepat di samping Habibie.

Di atas meja pertemuan, Habibie membawa sebuah kotak kecil. Dengan hati-hati ia membukanya. Di dalamnya tersimpan sebuah medali emas.

“Ini medali emas Edward Warner Award dari Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO),” kata Habibie sambil memperlihatkannya.

Bagi dunia penerbangan, penghargaan itu bukan medali biasa. Edward Warner Award merupakan penghargaan tertinggi dalam penerbangan sipil internasional, sering disebut setara Nobel di bidang aviasi. Habibie menjadi tokoh Asia pertama yang menerimanya pada 7 Desember 1994.

Namun, di balik medali emas itu tersimpan kisah tentang sebuah pengorbanan besar.

B J Habibie adalah arsitek utama lahirnya pesawat n 250 gatotkaca dok b J Habibie
B.J. Habibie adalah arsitek utama lahirnya pesawat N-250 Gatotkaca. (dok B.J. Habibie)

Mimpi Besar Bernama N-250

Nama Habibie hampir tidak bisa dipisahkan dari dunia dirgantara Indonesia. Ia adalah arsitek utama lahirnya pesawat N-250 Gatotkaca, pesawat turboprop pertama karya anak bangsa yang terbang perdana di Bandung pada 10 Agustus 1995. Peristiwa itu kemudian ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus.

Penerbangan tersebut menjadi tonggak sejarah. Untuk pertama kalinya Indonesia membuktikan bahwa bangsa ini mampu menguasai teknologi tinggi di sektor kedirgantaraan.

N-250 dirancang untuk melayani daerah-daerah terpencil dan wilayah yang tidak dapat dijangkau pesawat jet. Pesawat itu juga menjadi simbol lahirnya gagasan pembangunan berbasis teknologi yang kemudian dikenal sebagai Habibienomics, yaitu strategi pembangunan yang menggabungkan industrialisasi dan penguasaan teknologi tinggi.

Di bawah kepemimpinan Habibie sebagai Menteri Riset dan Teknologi, lahir berbagai industri strategis nasional seperti PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Pindad, PT LEN Industri, PT INTI, PT INKA, PT Dahana, PT Barata Indonesia, dan PT Boma Bisma Indra.

Saat itu, masa depan industri teknologi Indonesia tampak begitu menjanjikan.

Ketika Krisis Mengubah Segalanya

Harapan tersebut mendadak terguncang ketika krisis moneter Asia melanda pada 1997-1998.

B J habibie memulihkan perekonomian dan membangun pondasi demokrasi selama berkuasa 17 bulan dok b J Habibie
B.J Habibie memulihkan perekonomian dan membangun pondasi demokrasi selama berkuasa 17 bulan. (dok B.J. Habibie)

Nilai tukar rupiah yang sebelumnya stabil terjun bebas hingga menembus Rp17.000 per dolar Amerika Serikat. Bahkan sejumlah pengamat asing memprediksi rupiah bisa melemah hingga Rp20.000 per dolar AS.

Di tengah badai ekonomi itu, Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah memimpin Indonesia selama 32 tahun. Pada 21 Mei 1998, Habibie dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia. Ia mewarisi situasi yang nyaris kolaps.

Perbankan mengalami krisis, inflasi melonjak, PHK terjadi di berbagai sektor, dan jutaan masyarakat menghadapi ketidakpastian ekonomi.

Sebagai presiden, Habibie sebenarnya memiliki kewenangan penuh untuk mempertahankan proyek kebanggaannya, N-250. Namun ia memilih jalan yang berbeda.

Ia memutuskan menghentikan proyek yang telah diperjuangkannya selama puluhan tahun demi memusatkan seluruh energi negara untuk menyelamatkan rakyat.

Ketika menyebut N-250 Gatotkaca, nada suara Habibie terdengar berubah. Ia berbicara lebih pelan dibanding saat menjelaskan penghargaan ICAO yang baru saja diperlihatkannya.

“Saya tidak bisa melihat orang antre mencari makan. PHK massal di mana-mana. Saya menghadapi langsung inflasi tinggi, nilai rupiah anjlok melampaui Rp16 ribu bahkan bisa sampai Rp20 ribu. Saya dahulukan ini dulu, lebih penting dari pesawat. Saya ngalah untuk menang. Siapa yang menang? Ya rakyat,” tegas Habibie sering dipanggil Mr Crack saat itu.

Kalimat itu menjelaskan dilema besar yang dihadapinya.

Bagi seorang ilmuwan yang mendedikasikan hidupnya untuk teknologi, menghentikan N-250 bukanlah keputusan mudah. Namun sebagai presiden, ia memilih mendahulukan kepentingan bangsa dibanding ambisi pribadinya.

Menyelamatkan Indonesia dalam 17 Bulan

Dalam masa pemerintahan yang hanya berlangsung sekitar 17 bulan, Habibie melakukan serangkaian reformasi besar. Ia mendorong independensi Bank Indonesia, membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), menata kembali sektor perbankan, serta menjamin keamanan dana masyarakat.

Hasilnya mulai terlihat. Nilai tukar rupiah yang sempat terpuruk berhasil menguat hingga berada di kisaran Rp6.500 per dolar AS. Namun kontribusi Habibie tidak berhenti pada pemulihan ekonomi.

Ia juga membuka ruang demokrasi yang selama puluhan tahun terkungkung. Kebebasan pers diperluas, pembatasan politik dilonggarkan, dan fondasi demokrasi modern Indonesia mulai dibangun.

Meski demikian, perjalanan politik Habibie tidak selalu mulus. Setelah laporan pertanggungjawabannya ditolak dalam Sidang Umum MPR 1999, ia memilih tidak mencalonkan diri kembali sebagai presiden.

Warisan yang Terus Dikenang

Habibie lahir di Parepare Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936 dan wafat pada 11 September 2019 di Jakarta. Namun perdebatan mengenai warisan kepemimpinannya tidak pernah benar-benar berakhir.

Diskusi peluncuran buku b J Habibie
Diskusi peluncuran buku B.J. Habibie: Di Tengah Arus Transformasi Politik Indonesia di Jakarta pada 6 Februari 2025 bersama R William Liddle melalui zoom. (dok Siswantini Suryandari)

Pada diskusi peluncuran buku B.J. Habibie: Di Tengah Arus Transformasi Politik Indonesia di Jakarta pada 6 Februari 2025, sejumlah akademisi membahas kembali peran Habibie dalam sejarah Indonesia.

Pakar politik dari Ohio University, R. William Liddle, bahkan menyebut Habibie sebagai salah satu pemimpin paling penting dalam sejarah Indonesia modern.

“Habibie sangat krusial dalam menyelamatkan Indonesia dari krisis politik-ekonomi, dan ia tokoh yang menciptakan fondasi transisi dari era otoriter ke era demokrasi,” ujar Liddle melalui sambungan daring.

Menurut Liddle, masa kepemimpinan Habibie yang singkat justru menunjukkan betapa besar pengaruhnya.

“17 bulan ini membuktikan peran Habibie sangat krusial karena berhasil menyelamatkan Indonesia dari ancaman krisis politik, ekonomi, dan kemanusiaan yang sangat serius. Ia adalah tokoh yang menciptakan Indonesia demokratis secara mandiri,” katanya.

Liddle menilai dunia tidak hanya mengenal Habibie sebagai ahli teknologi dan penerbangan, tetapi juga sebagai pemimpin yang berhasil mengelola transformasi politik secara fundamental.

Murid-murid Habibie yang hadir di acara diskusi tersebut menyebutkan warisan Habibie yang mereka kenang adalah nasehat berawal dari akhir dan berakhir di awal. “Intinya adalah kuasi teknologinya,” ujar mereka.

Dewi Fortuna Anwar yang juga murid Habibie ikut hadir di diskusi Liddle  mengungkapkan bahwa B.J Habibie tidak alergi terhadap kritik. Ia merespons dengan memulihkan stabilitas keamanan dan ekonomi nasional. 

Pelajaran Kepemimpinan

Di tengah berbagai perdebatan politik masa kini, kisah Habibie menyisakan satu pelajaran penting tentang kepemimpinan. Ia menunjukkan bahwa jabatan bukanlah alat untuk memenuhi ambisi pribadi, melainkan amanah untuk melayani kepentingan rakyat.

Habibie rela mengubur mimpi terbesarnya mewujudkan industri pesawat nasional yang mandiri—demi menyelamatkan jutaan warga yang sedang menghadapi krisis.

Mungkin karena itulah, hingga hari ini, publik masih mengenang Habibie bukan hanya sebagai ilmuwan besar, tetapi juga sebagai pemimpin yang berani menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingannya sendiri. Dan ini menjadi contoh berharga untuk para pemimpin dan calon pemimpin Indonesia di masa mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *